Sunday, February 26, 2006

Selalu Ada Kesempatan

Image hosting by Photobucket

Saya selalu percaya bahwa setiap orang seiring dengan waktu pasti bisa mencapai keinginan-keinginannya. Asalkan, orang itu mau untuk membuka kesempatan untuk mewujudkan semua keinginan tersebut.

Seperti dulu, waktu kecil saya selalu berangan-angan untuk bisa naik pesawat terbang. Selama 25 tahun saya hanya bisa hidup dalam angan-angan itu.

Awalnya, saya menduga di kantor terdahulu saya akan dapat kesempatan untuk naik pesawat terbang. Soalnya, bekerja sebagai wartawan tentu saja pasti akan disuruh tugas luar kota. Sayang, tugas-tugas itu tak pernah berkunjung juga pada saya.

Setelah saya pindah kantor, saya makin optimis, bahwa suatu saat nanti saya pasti bisa naik pesawat terbang. Banyak factor yang membuat saya optimis, di antaranya koran tempat saya bernaung adalah koran nasional dan cukup berkelas. Jadi, bisa saja ada tawaran-tawaran yang datang mengajak saya untuk terbang ke luar kota.

Sayang, keinginan terbang secara gratis itu pun akhirnya punah juga. Tapi, kesempatan untuk naik pesawat terbang tetap datang juga. Karena beberapa alasan yang tidak bisa saya tuliskan di sini, akhirnya saya menyempatkan diri untuk terbang ke suatu daerah.

Naik pesawat terbang untuk pertama kalinya memang membuat saya merasa senang sekaligus was-was. Saya senang karena keinginan saya semasa kecil akhirnya terwujud juga, tapi saya was-was juga karena saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya naik pesawat terbang.

Agar perjalan perdana itu berjalan sukses saya memang perlu menyempatkan diri untuk bertanya dengan teman-teman saya. Banyak orang memang yang kaget dan tertawa ketika mereka mendengar saya belum pernah naik pesawat terbang. Lucu memang, saya harus menunggu selama 25 tahun agar bisa terbang.

Akhirnya, karena mereka banyak tertawa akhirnya saya melupakan saja semua saran tersebut. Setelah satu malam tidur tak tenang, akhirnya saya pun berangkat juga ke bandara.

Ketika masuk ke lokasi bandara, saya memang agak bingung juga untuk menentukan langkah selanjutnya. Namun, seperti biasa, sebelum melakukan apa pun saya terbiasa melihat apa yang dilakukan orang-orang. Hal itu sering saya lakukan agar saya tidak terlihat canggung ketika melakukan sesuatu yang baru.

Ternyata, apa yang terjadi selanjutnya memang tidak semudah apa yang saya duga sebelumnya. Naik pesawat itu ternyata mudah.

Setelah proses administrasi selesai, tinggal naik pesawat. Dan disinilah pengalaman saya selanjutnya. Ketika pesawat take off, saya benar-benar merasa seperti terbang menembus langit. Semakin tinggi pesawat menembus angkasa, semakin membubung tinggi perasaan saya.

Selain itu, getaran pesawat memberikan kesan yang teramat dalam buat saya. Saya benar-benar tergetar ketika melihat titik kecil yang ada di bawah langit. Ternyata, semuanya terlihat sangat indah dalam keadaan kecil.

Sayangnya tidak selamanya perasaan itu abadi. Ketika pesawat landing saya justru benar-benar tidak merasa nyaman. Karena Bandar udara yang saya tuju sangat kecil, beberapa kali pesawat terpaksa melakukan beberapa manuver yang membuat jantung saya berdetak kencang.

Ketika saya melongok ke jendela saya melihat sayap pesawat terasa sangat dekat dengan tanah. Tiba-tiba saya teringat pesan teman saya yang mengatakan agar saya tidak duduk di dekat bagian sayap.

Berkali-kali saya mencengkeram kuat kursi yang saya duduki. Tapi, saya berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat panik pada teman sebangku saya di pesawat.

Saya semakin panic, ketika tiba-tiba dari pengeras suara terdengar suara pilot mengumumkan sesuatu. Karena saya benar-benar panic saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan pilot tersebut. Saya malah seakan-akan mendengar sang pilot berkata, “pesawat kehabisan bensin”

Mendengar pengumuman itu saya benar-benar hopeless, apalagi saya melihat dari ujung sayap keluar asap putih (yang saya enggak tahu apa artinya sampai sekarang).

Beruntung, setelah maneuver yang gila-gilaan itu akhirnya pesawat mendarat mulus juga. Saya pun bisa menarik napas lega,dan bisa melangkah keluar dengan selamat, meski saat itu masih sedikit dihantui dengan perasaan yang kacau balau.

Setelah pengalaman pertama itu saya memang masih terasa was-was ketika saya harus pulang kembali ke Jakarta dengan pesawat. Beruntung, ternyata perjalanan pulang tidak sebegitu menakutkan perjalanan pertama.

Di atas pesawat saya menyadari bahwa di atas semua keinginan kita memang butuh pengorbanan yang besar untuk merasakan atau mendapatkan itu semua.

2 comments:

dahlia said...

weh naek pesawat terbang...
asik dung..

tapi temen gw,
ngak butuh pengorbanan yang besar buat merasakan dan mendapatkannya....
eh tapi buat naek pesawat ajah, ngak punya keinginan tuh...

sampe sampe ajah , kitah kitah temennya, harus rela cekokin obat tidur, supaya bisa naek pesawat terbang

mm...MANUSIA memang ANEH

Yovan A.S said...

Bukan wahyu kalau tidak bisa mendramatisir sesuatu..
gw ga nyangka kalau pengalaman naik pesawat bisa sedemikian menakjubkan.
waktu gw naik pesawat, gw lebih memilih untuk tidur. agar misalkan ada kejadian apa2, gw akan terbangun di .... (entah di mana gw berada)tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.