Monday, February 21, 2005

Tujuh hari bagi mereka itu adalah rahasia. Kesulitan yang mereka rasai tentu tidak akan bisa dibagi dengan kita. Tujuh hari selama di sana, bukanlah suatu peraduan yang menunjukkan kapasitas mereka sebagai wartawan. Tujuh hari di sana, adalah suatu ujian untuk mengetahui batas-batas kemampuan mereka sebagai manusia...!!!!

Akhirnya, dua wartawan Metro TV, Meutya Hafid dan Budiyanto dibebaskan. Selama tujuh hari, mereka diculik oleh kelompok yang menamakan diri mereka Jaiz Al Mujahidin. Selama itulah mereka berada di ujung jari kehidupan. Berada di dalam keputusasaan, apakah akan kembali selamat atau kembali dengan nama.

Alhamdulillah, mereka kembali selamat. Tapi, selama tujuh hari itu, biarlah menjadi rahasia mereka. Jangan dijadikan komoditas berita belaka. Mereka juga manusia, ada batas-batasnya mereka tak ingin lagi mengingat pengalaman tersebut.

Thursday, February 17, 2005

Kabar Baik Di Tengah Hujan

Deraian hujan tak sanggup melawan rasa gembira ini
Sekalimat kata meluncur melalui bibir Handphone
Ada rasa gembira di ujung pulau sana.
Ia telah jadi sarjana.

Selintas bayangan kembali terulang
Aku pernah ada dalam keadaan yang sama
Hanya saja kali ini ada hujannya
Semoga ini jadi pertanda baik
Baginya.....

(Kabar ini ku terima setelah melaksanakan shalat Dzuhur, aku senang hujan karena seseorang. Ia punya segudang cerita tentang hujan. Mudah-mudahan ini jadi awal baik).
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selamat menjadi Sarjana Hukum, adikku, Hos Ari Ramadhan Sibarani, SH. Kali ini Kau sudah pantas mendapatkan gelar itu. Setelah bergelut sedemikian panjang, akhirnya kau tamatkan juga pendidikanmu. Setelah banyak air mata kita keluarkan, aku ingin kamu bisa memberikan yang terbaik bagi dirimu, khususnya bagi kedua orangtuamu, wahai Adikku.

Kini, kau bersamaku marilah kita bantu apa yang telah orangtua kita perjuangkan sejak dahulu. Aku ingin kamu tahu, kamu harus merayakan kesenangan itu di hari ini. Tapi kamu juga tahu, jalan kamu sudah dimulai hari ini.

Wednesday, February 16, 2005

We Need a Real Kick Once Again.

Jargon kick rasicm out of football sudah menggema hampir sembilan tahun. Pertama kali slogan itu dikenal menjelang perhelatan akbar piala dunia 1998 di Perancis. Perancis yang merupakan salah satu negara multi etnis mengampanyekan kalimat suci tersebut dalam setiap pertandingan akbar piala dunia.

Sayangnya, jargon tetaplah jargon. It's nothing but only a silent platform. Sudah sembilan tahun berlalu, rasisme di dunia sepakbola tetap terjadi. Simak perkataan Samuel Eto'o, Pemain Terbaik Afrika 2004, ketika menerima penghargaan tersebut. "Orang-orang membeli tiket untuk menonton monyet. Saya adalah aktornya dan mereka membeli untuk menonton saya."

Sebuah pernyataan satir yang membuat banyak orang terhenyak. Sepakbola yang katanya merupakan ajang olahraga tanpa batas itu ternyata menyimpan banyak pengalaman pahit bagi setiap kulit berwarna.

Kita tidak pernah lupa, bagaimana perasaan Ashley Cole, Sol Campbell, dan pemain hitam lainnya asal Inggris ketika bertanding melawan Spanyol di Spanyol. Suara-suara suporter Spanyol yang menirukan suara monyet sangatlah menusuk hati.

Kita juga teringat, bagaimana nasib Ahn Jung Hwan, ketika ia membela Perugia. Hanya karena golnya di Piala Dunia 2002, ia harus mengalami siksaan batin saat kembali ke negara Spaghetti tersebut. Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman rasialis yang membuat nama sepakbola tercemar.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah slogan Kick Out Racism From Football masih relevan lagi? Nyatanya, rasialisme justru makin berkembang. Bahkan itu terjadi bukan hanya disengaja, tanpa disengaja pun rasisme telah terjadi. Contoh, tanpa sengaja Fotball Association (FA) Inggris, mengeluarkan sebuah DVD 20 Best England Player yang ternyata tidak satu pun ada orang berkulit hitam.

Yang kita perlukan saat ini adalah Tendangan yang benar-benar sebuah tendangan. Bukan tendangan slogan, tapi sebuah tendangan asli dari pemain sepakbola. Hal itu pernah dilakukan oleh seorang pemain Manchester United asal Perancis, Eric Cantona.

Eric Cantona memang menendang. Tapi ia tidak menendang bola, ia menendang suporter pemain lawan. Peristiwa yang terjadi tanggal 25 Januari 1995 itu pun langsung menghentakkan dunia. Korbannya, Matthew Simmons, suporter Chrystal Palace, dan seorang rasis.

Banyak orang yang menyayangkan peristiwa tersebut. Bagaimana mungkin, seorang pemain sepakbola sekelas Cantona melakukan sebuah tindakan yang sangat brutal kepada penonton. Kenapa Cantona menjadi buas dan tidak menjunjung tinggi sebuah etika bagi pemain sepakbola. Bahkan, karena ulahnya tersebut banyak orang yang menganggap Cantona bukanlah seorang pemain kelas dunia, ia pantasnya adalah seorang pemain tinju kelas berat.

Sayangnya, banyak orang tidak mengerti bahwa tendangan tersebut adalah sebuah tendangan yang berhasil merubah watak sepakbola dunia. Tendangan Kung Fu Cantona kepada Simmons bukanlah sebuah serangan melainkan sebuah statement nyata dari seorang pemain sepakbola. "Jangan ada lagi tindakan rasis yang dilakukan oleh seorang penonton sepakbola."

Cantona memang wajar tersinggung, Simmons telah merusak harga dirinya hanya karena dia merasa berhak. Hanya karena membayar uang 10 Poundsterling, bukan berarti setiap pemain sepakbola di lapangan adalah mainan dan milik mereka. Pemain sepakbola adalah manusia juga. Jadi begitu Simmons mengatakan "Fuck off back to France, you French motherfucker", Cantona pun terbang menendang.

Tak ada penyesalan di raut muka Cantona. Mukanya biasa, kerah leher bajunya pun tetap tegak berdiri. Yang pasti, ia tahu, jangan pernah sekali-kali merendahkan bangsa kami, mungkin pikirnya.

Setelah tendangan itu, adakah simpati bagi Cantona? Tidak, tidak ada seorang pun yang setuju dengan aksi pemain bernomor punggung 7 itu. Ia dihujat, bahkan seorang wartawan senior dari Guardian mengatakan bahwa tindakan Cantona adalah tidakan yang paling mengerikan dalam sejarah sepakbola Inggris.

Mereka lupa, bahwa Cantona jadi garang karena tindakan rasis Simmons. Dan ketika FA menyadari hal tersebut, mereka pun langsung bertanya-tanya, apakah tindakan Cantona ini memalukan. Memalukan bagi Cantona, FA, atau memalukan bagi suporter Ing gris?

Setelah mengetahui penyebab tendangan tersebut FA pun berbenah, masyarakat Inggris pun sadar, bahwa rasisme adalah penyakit bagi sepakbola. Rasisme membuat sepakbola menjadi tak berharga seolah-olah menjadikan pertandingan sepakbola adalah pertandingan puluhan binatang yang berebutan bola.

Sejak saat itu publik Inggris pun mulai meninggalkan jauh-jauh sikap rasis tersebut. Hal itu memang diakui oleh mantan Kapten Liverpool, John Barnes. Ia mengatakan bahwa 'It's very ironic that it took a white Frenchman to bring home to the nation the issue of racism in football.'

Sunday, February 13, 2005

Tepat di hari Valentine, sakit kepala ku kumat. Cuaca panas yang menerpa Jakarta, membuat badanku menjadi lemah dan terus-terusan pusing kepala. Hawa panas itu terus mendera ketika aku berangkat ke kantor. Apalagi aku naik motor, yang mau tak mau bakalan harus berakrab-akrab ria dengan sang matahari.

Saat itu aku hanya berharap untuk segera sampai ke kantor dan bisa menikmati dinginnya AC. Sayang, begitu aku sampai ke kantor, semua harapan itu sirna. Tidak ada AC yang dingin, tidak ada air yang bisa diminum untuk menuntaskan dahaga, tidak ada internet yang bisa digunakan untuk browsing berita.

Lebih parah lagi, Blog-ku justru tidak bisa diakses. Alhasil, yang ada hanya menulis saja di halaman Word ini.

Dari semua itu aku mulai sadar, bahwa setiap harapan manusia selalu berbentur dengan kenyataan. Tidak semuanya apa yang kita bayangkan bisa kita dapatkan. Semuanya yang terjadi di depan tidak lebih adalah sebuah bayang-bayang. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Jika ingin kepastian, maka sadarlah untuk itu kita perlu meniti bayang-bayang itu terlebih dahulu.

Thursday, February 10, 2005

Di hari ulang tahun Pers Nasional, 9 Februari lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji tidak akan membreidel pers Indonesia. Janji tersebut ibarat angin surga bagi para insan pers di Indonesia. Sebab, pembreidelan yang kerap terjadi di era Orde Baru acapkali disamakan dengan cara-cara otoriter untuk membungkam pers.

Dalam kesempatan yang sama, SBY juga mengatakan bahwa setiap orang yang merasa keberatan dengan pemberitaan pers haruslah menggunakan cara-cara jurnalistik yang disediakan yaitu melalui hak jawab dan hak koreksi.

Kedua amanat tersebut, memang terasa menggembirakan bagi setiap insan pers. SBY sangatlah koperatif dengan pers. Padahal ia mengaku seringkali merasa tidak adil dengan pemberitaan media-massa. Mulai dari beritanya yang tidak berimbang, hingga isu-isu politik yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan dirinya.

Kita tahu, bahwa saat ini pers tengah berada pada masa liberalisasi yang sangat tinggi. Setiap orang bisa untuk membuat sebuah media massa baru. Setiap media juga bisa dengan bebasnya untuk membuat berota-berita yang sensasional dan kelewat batas.

Hal itulah yang disadari oleh SBY. Ia tahu mengekang pers sama saja dengan bunuh diri. Ia memilih untuk melepaskan pers dengan bebas, namun membentuk suatu lembaga baru yang namanya Departeman Komunikasi dan Informasi.

Di Riau, SBY memang beralasan bahwa Depkominfo yang akan dipimpin oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Sofyan Djalil adalah suatu lembaga yang bertugas untuk mengadakan percepatan penggunaan tekhnologi dan informasi bagi masyarakat. Benarkah ?

Mungkin saja tujuan itu benar, sebab sampai saat ini tingkat penggunaan internet yang ada di Indonesia tergolong rendah. Bahkan berdasarkan sebuah survey dikatakan bahwa Indonesia berada di tingkat paling bawah dalam hal penggunaan search-engine.

Kembali ke pembentukan Depkominfo. Sofyan Djalil, mengaku saat ini ia bersama Depkominfo telah mempelajari UU Pers No 49 tahun 1999. Saat itu ia mengatakan bahwa UU Pers akan menjadi Lex Speciali. Artinya setiap sengketa pers akan diselesaikan melalui jalur pers. Benarkah?

Sofyan Djalil sendiri mengakui di kantor kami, Rakyat Merdeka, bahwa ia tengah mencari celah dari UU Pers tersebut. Ia dan teman-temannya berusaha agar setiap media massa yang kelewat batas bisa dipidanakan. Dan hal itu menurut dia ada dan terbuka lebar pada UU Pers itu sendiri.

Sebagai seorang jurnalis, kita mungjin terlena dengan adagium-adagium Lex Speciali. Kita menganggap itu adalah kunci surga bagi kita. Padahal di UU Pers sendiri tercantum sebuah pasal yang mengatakan bahwa setiap masalah yang tidak diatur dalam UU Pers akan dikembalikan kepada KUHP. Termasuk disini adalah masalah pemidanaan. Jadi, siap-siap saja yah kita masuk penjara.

Seharusnya SBY itu berjanji tidak akan ada wartawan yang akan dipenjara. Itu lebih tepat. Selamat Ulang Tahun Pers Nasional.

Tuesday, February 08, 2005

Hari ini ada kabar baik, kemungkinan besar status ku di kantor bukan lagi karyawan kontrak tapi sudah menjadi karyawan tetap. Walaupun sama sekali tidak ada perubahan di bidang pendapatan, aku tetap merasa senang. Sebab, sikapku yang tidak pernah mau menanyakan status itu telah berhasil.

Yang lebih membuatku bangga adalah kenaikan status ini disertai pujian oleh Mr. MG. Bosku yang satu ini memang tidak pernah mengeluarkan kata pujian kepada karyawannya. Namun, kali ini pujian itu keluar dari mulutnya sendiri di hadapan sidang redaksi.

Aku tidak tahu bagaimana untuk bersikap atas pujian ini. Puas dan bangga, memang boleh-boleh saja, wajar itu. Atau pura-pura tidak perduli dan menganggap hal itu sebagai suatu kewajaran bagi diriku karena aku memang pantas, sombong mungkin. Atau bisa bersikap kedua-duanya, dan mengatakan bahwa hal ini bukanlah tujuan akhir.

Mungkin aku akan memilih langkah yang ketiga. Yaitu, bersyukur dalam hati, merasa bangga terhadap diri sendiri bukan membanggakannya kepada orang lain. Setelah itu aku akan kembali berusaha untuk tetap meningkatkan kualitas hidup ku sendiri. Jalan ini masih panjang, masih banyak ladang yang akan kita siangi dan kita nikmati hasilnya.

Semoga jalan yang telah ku tempuh ini bisa menjadi jalan yang tepat bagi diriku dan keluargaku. Segala syukur ku panjatkan kepada Tuhan, karena semua itu tidak akan terjadi tanpa keridhoaan-Nya. Aku bersukur itu.

Wednesday, February 02, 2005

Persaingan

Sehari dalam hidup, pasti banyak hal yang secara tidak sadar sangat kita inginkan. Mulai dari nikmatnya makan pagi, riangnya suasana kantor hingga pulas tidur di malam hari. Sehari dalam hidup, kita pasti ingin selalu bebas dalam tekanan dan juga beban kehidupan.

Sayangnya, sehari dalam hidup keinginan diatas bukanlah hal yang mudah untuk dijadikan kenyataan. Kencangnya roda kehidupan yang berjalan, membuat kita semua terus berlari cepat. Kita kencangkan semua sabuk pengaman kita untuk tetap dalam jalur yang benar, Jika tidak bisa menyesuaikan, maka kita terlempar dari lintasan.

Hidup ini bukan perjuangan, melainkan persaingan. Bahkan sejak orangtua menikah, kita lahir berdasarkan persaingan. Ayah kita mau tidak mau pasti akan bersaing dengan pria lain agar bisa menikah denganIbu kita, bukan? Bahkan ketika kedua orangtua kita memproduksi kita, kita juga tercipta dari hasil persaingan. Bayangkan, dari ratusan sperma yang masuk ke dalam ovarium hanya satu sperma yang bisa membuahi sel telur untuk menjadi janin. Yah benar, kita adalah produk persaingan.

Banyak hal yang bisa kita ketahui selain hal diatas. Yang paling konkrit adalah ketika berusaha mendapatkan pekerjaan. Saat ini tercatat ada ratusan ribu tenaga kerja yang masih menganggur. Dengan kata lain, untuk mendapatkan satu pekerjaan kita harus bersaing dengan puluhan orang lain. Ini baru persaingan.

Persaingan tersebut tidak hanya berhenti disitu. Justru disaat itulah persaingan yang sesungguhnya telah dimulai. Persaingan mempertahankan posisi kita di pekerjaan, hingga persaingan untuk mendapatkan jabatan yang lebih enak dibandingkan dengan orang lainnya. Itu semua terjadi secara natural.

Tanpa kita sadari, persaingan telah membentuk kepribadian kita. Merasuk ke alam bawah sadar kita dan parahnya menghilangkan kepekaan social kita. Kita jadi tidak peduli dengan keadaan lain di luar kita sendiri. Kita hanya ingin tetap bersaing dan tidak terlempar lintasan. Kita terus mengejar persaingan, karena kita beranggapan semua jabatan dan materi adalah jawaban untuk mendapatkan semua keinginan kita. Tidur nyenyak kita, makan pagi yang nikmat, hingga suasana kantor yang nyaman harus kita tukar dengan persaingan.


Tuesday, February 01, 2005

Seorang Sarjana Hukum, Pilihan atau Kewajiban

Ketika saya lulus sekolah menengah atas, saya dihadapkan oleh banyak pilihan untuk menentukan masa depan. Sebagai seorang pelajar tentu kita mengetahui apa kekurangan dan kelebihan kita dalam bidang akademik tertentu. Saat itu saya menyadari bahwa saya mempunyai kemampuan lebih dalam bidang akuntansi.

Menyadari hal tersebut, sempat terpikir dalam benak saya untuk menjadi seorang akuntan. Toh, ini adalah pekerjaan yang sangat banyak dicari oleh semua perusahaan. Lihat saja di semua lowongan pekerjaan yang ada di koran. Hampir semuanya mencari seorang akuntan. Walaupun masih ada yang paling banyak yaitu marketing.

Namun, angan-angan itu mendadak buyar. Ketika saya tanyakan kepada orangtua saya, hendak jadi apa saya nanti. Saat itu Mamah saya berharap anak laki-laki pertamanya ini bisa menjadi seorang hakim. Hal itu terjadi karena Mamah saya sangat menyukai film miniseri Judge Bao yang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Ia berharap suatu saat nanti Aku bisa jadi seperti seorang Judge Bao. Memberikan putusan yang adil, dan memberikan rasa aman bagi pencari keadilan. “Ia seperti Tuhan yang ada di dunia. Dimana masyarakat mencari keadilan yang selalu tak pernah pasti,” tutur ibuku kala itu.

Mendengar hal itu, hati saya langsung bulat untuk masuk ke Fakultas Hukum. Kali itu tidak ada lagi angan-angan menjadi seorang akuntan muda dari perusahaan besar mancanegara. Yang saya inginkan cuma satu, angan-angan orangtuaku bisa menjadi kenyataan.

Angan-angan yang sama juga muncul lagi ke permukaan. Ketika kedua orangtuaku menghadiri acara wisuda kampusku. Anaknya yang bandel ini sudah tinggal selangkah lagi menggapai cita-cita. Saat itu semua rasa suka terpancar dari kedua mata mereka. “Kami ingin melihatmu berdiri rapih di meja persidangan seperti saat ini kamu hadir di acara wisuda ini nak,” begitu kata mereka.

Saat itu aku tidak pernah mengerti apa maksud dari kata-kata mereka. Aku hanya menginginkan agar cita-cita mereka terwujud. Sebagai seorang anak, maka wajar aku melakukan hal tersebut. Aku telah memilih untuk memenuhi harapan mereka dan meninggalkan semua cita-cita saya.

Walaupun saat ini aku belum bisa menjadi seorang Judge Bao, aku sadar bahwa aku telah memutuskan pilihan yang tepat. Benar, kata orangtuaku, walaupun keadilan itu tak pasti tapi setiap orang selalu mengharapkan keadilan yang hakiki. Figur-figur Judge Bao selalu dinanti-nanti. Memberikan keadilan, dan memberikan kepastian memang bukan perkara yang mudah. Tapi itu adalah suatu kewajiban bagi setiap manusia. Selama sistem hukum masih berada di jalur yang salah, maka jangan pernah berhenti untuk mengatakan bahwa menjadi seorang sarjana hukum adalah kewajiban.