Saturday, February 04, 2006

Limbung, Larung dan Terkurung

Image hosting by Photobucket

Beberapa hari terakhir saya tidak pernah merasa selimbung ini. Otak tidak bisa diajak berkonsentrasi dan badan pun terlalu lemah untuk digerakkan.

Inginnya merebahkan badan, menutup mata dan beristirahat sejenak. Namun, apa daya tuntutan pekerjaan membuat kita tidak boleh berhenti barang sekejap.

Kejadian beberapa hari terakhir di kantor memang telah membuat semuanya berubah. Baik itu suasana, kinerja maupun keakraban kita.

Kali ini semua orang yang dulunya memandang sebelah mata, justru kini tengah menatap buas ke arah saya dan teman-teman. Entah, tatapan apa yang mereka layangkan. Mereka memang tidak berbicara seolah-olah tak pernah peduli. Tapi mata selalu mengatakan apa yang sebenarnya.

Kejadian kemarin memang sama sekali tidak pernah terkira sebelumnya. Keinginan untuk bertemu dengan penguasa justru berubah dianggap sebagai sebuah rencana makar yang sanggup merusak tatanan moral sebuah istana.

Akibatnya, wajar jika ada sekelompok punggawa yang kemudian merasa tidak nyaman. Kita mengerti, mereka mereka sudah membayar mahal kenyamanan ini dengan menjadikan diri mereka sebagai seorang penjilat.

Kita pun tahu, kenyamanan memang mahal dan tak bisa dibayar. Tapi semua orang mau mendapatkan kenyamanan hingga merendahkan diri mereka sendiri.

Karena tindakan tersebut, seketika status kita pun berubah. Kita yang semula hanya mencari tahu kenapa kita termarjinalkan justru menjadi sekelompok orang pendosa. Bahkan ada yang menyebutkan kita tak tahu cara bersyukur.

Kita pun terluka, dan siapa pun juga tak pernah lagi merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan seperti dulu. Kita pun limbung, larung akan dosa semua dan menunggu terkurung akan hutang budi yang pernah terjadi dalam hidup kita.

Semoga Tuhan ikhlas dan mau menghapus budi baik yang namanya hutang budi. Jujur, ini demi kebaikan seluruh umat manusia.

4 comments:

Anonymous said...

Sebelumnya saya tak pernah berkomentar akan kegalauan hati seseorang. Karena menurut saya itu hal yang wajar dan manusiawi. Hingga saya juga merasakan hal yang sangat "similar".
Posisi yang serba salah dan perasaan bersalah yang membawa saya atau kita lebih dewasa dalam memandang arti "hidup".
Hmmm....

Anonymous said...

Gue setuju banget sama dua baris terakhir. Semoga Tuhan akan ikhlas menghapus, ya semoga Tuhan dan pasti ikhlas memberikan kita yang terbaik dan yang lebih baik dari sekarang untuk hidup kita selamanya...Amiieen...

Anonymous said...

Ada hikmah di balik musibah. dalam perjuangan selalu ada korban, darah dan airmata. Tapi itu ujian. Agar semangat terus menyala, dan waktu pada akhirnya akan berpihak pada kebenaran. Dengan lugas memetakan hitam dan putih. Siapa lawan, siapa kawan. Dan siapa yang berusaha mendominasi dari balik area abu-abu yang absurd.

Bersyukurlah kita, dengan kecelakaan strategi ini, dipaparkan dengan jelas, bahwa tidak ada lawan abadi, tidak ada kawan abadi, dan hanya ada kepentingan abadi.

Semoga kita tetap menjadi kawan abadi. Tidak mengadopsi sari dari ungkapan jahat di atas. Bahwa kebersamaan, mengalahkan kepentingan abadi. Meski tidak buta, bahwa hidup tetap harus bergelimang materi.

Keep the faith. Love you (all)

dahlia said...

wiiiiii...jadi terkesima baca postingan ini.
Maaf ya, Pak.
Ngak ikut kasih komen, tatut talah