Monday, March 27, 2006

Where’s my Shocks?

Image hosting by Photobucket

Pake kaos kaki itu penting. Selain untuk kerapihan, kaos kaki penting banget dipakai guna menjaga kebersihan kaki dan juga menutupi bulu-bulu kaki yang biasanya memang gondrong banget.

Dari dulu gue memang enggak pernah lupa untuk menggunakan kaos kaki. Bahkan, kalau pun harus memakai sandal kulit, gue tetap mewajibkan diri untuk memakai kaos kaki.

Saking pentingnya gue selalu membeli kaos kaki yang harganya 10 ribu 5 pasang. Sebab, gue sadar bahwa kaos kaki yang dipakai terlalu sering mengeluarkan bau-bau tidak sedap.

Gue memang enggak pernah lupa untuk mengenakan kaos kaki, masalahnya, gue selalu lupa dimana menaruh kaos kaki. Entah kenapa gue selalu terbiasa menempatkan kaos kaki tidak pada sepatunya.

Otomatis, ketika hendak berangkat kerja, gue musti menguras kepala mencari tahu dimana gue letakkan kaos kaki itu.

Seperti pagi ini, dari tadi gue udah pusing mencari-cari kaos kaki yang gue pakai kemarin. Karena tidak ketemu juga otomatis gue mencari kaos kaki cadangan.

Sialnya, semua kaos kaki tengah dicuci. Jadi daripada enggak pake kaos kaki gue harus bisa menemukan kaos kaki yang gue pakai kemarin.

Sayang, setelah gue cari-cari kaos kaki itu enggak ketemu juga. Dengan perasaan kesal, gue akhirnya memutuskan untuk mencari kaos kaki di sepatu bapak gue. Gue pikir minjem sementara lebih baik daripada enggak pake kaos kaki.

Nah, waktu itu gue langsung menyambar sepatu kulit warna hitam yang lagi mejeng di bawah rak sepatu. Pas gue periksa, di situ memang ada kaos kaki. Dengan senyum kemenangan akhirnya gue langsung pakai aja tuh kaos kaki.

Setelah cium tangan dan cium pipi kiri kanan kedua orang tua, gue akhirnya langsung berangkat ke kantor.

Nah, lagi asyik-asyiknya naik motor, dan di tengah kemacetan jalan, tiba-tiba handphone fren gue berbunyi. Waktu itu yang nelpon bapak, karena gue berpikir lagi ada yang penting, gue langsung angkat aja tuh handphone.

Lucunya, begitu nyambung, bapak langsung ngomel-ngomel karena gue memakai kaos kaki tamu bapak yang nginep semalam. Bapak jadi kebingungan, karena temannya itu udah mau pulang ke rumahnya. Dan dia tidak bisa menemukan satu-satunya barang yang ia pakai… kaos kaki….!!

Karena sudah enggak bisa balik lagi, gue pun cuma bisa senyum-senyum aja. Soalnya, gue enggak tahu mau ngapain lagi, soalnya kaos kaki dia emang enak juga sih.

Saturday, March 25, 2006

Starbucks Gratis…? Pasti


Image hosting by Photobucket

Minum Starbukcs itu mahal. Makanya, saya enggak pernah membayangkan bisa minum-minum kopi impor dari negeri Abang Sam tersebut. Apalagi menjejakkan kaki di gerai-gerai Starbucks yang sudah mulai ramai.

Sebenarnya sih dari segi uang, harga Starbucks masih terhitung ramah dengan dompet. Hanya, saja saya masih enggak punya kepikiran untuk mengeluarkan uang Rp 15 ribu hanya untuk satu gelas kopi.

Namun, sebenarnya yang paling bikin saya enggan untuk menapakkan kaki ke Starbucks tidak lain karena imej Starbucks itu sendiri. Bagi saya masuk ke Starbucks itu sama aja bunuh diri.

Soalnya, badan saya sering keringetan dan bau matahari akibat berpanas-panasan mencari berita di lapangan. Jadi, kayaknya enggak cocok deh masuk ke Starbucks yang dikelilingi orang berbau wangi dan sibuk menghabiskan waktu ngomongin bisnis, politik, chit-chat, atau browsing internet.

Sekali-kali memang ada teman yang ngajakin nongkrong di Starbukcs. Namun, bukannya antusias, saya dan beberapa teman lainnya justru malah tertawa. Soalnya, ajakan itu sepertinya salah tempat.

Alhasil, saya memang tidak pernah bermimpi mencicipi kopi Abang Sam tersebut. Tapi, saya lupa, saya adalah seorang wartawan. Apa sih yang enggak bisa didapatin wartawan dengan gratis. Mulai dari nonton konser gratis, masuk ke Ancol gratis, hingga kena tilang polisi juga bisa gratis. (Yang terakhir jangan sering dilakukan).

Image hosting by Photobucket Image hosting by Photobucket


Nah, untuk urusan Starbucks, ternyata bisa gratis juga. Ceritanya, saya hendak meliput berita peluncuran buku scenario Berbagi Suami di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan.

Waktu itu liputan memang garing banget. Soalnya, sudah enggak ada hidangan buat ngemil, saya juga enggak dapat buku yang biasanya diberikan gratis bagi wartawan.

Entah kenapa si pengurus acara sepertinya bisa membaca wajah gue yang tengah kelaparan. Tiba-tiba saja mereka langsung memerintahkan pelayan-pelayan yang ada Starbukcs (sebenarnya ada sebutan khusus buat mereka, Cuma gue lupa apa namanya) agar secepat menghidangkan kue-kue dan kopi-kopi yang mereka punya.

Ketika hidangan itu datang, astaga, gue bener-bener tidak menahan tangan gue barang sedetik untuk meraih gelas-gelas kecil yang mereka bawa. Bahkan saking seringnya gue meminta, ada satu pelayan yang kayaknya sebel banget sama gue.

Soalnya, gue dan temen-temen gue yang lain termasuk rombongan yang paling rajin nyerobot tuh minuman. Total kalau enggak salah gue menghabiskan 7-10 gelas kecil Starbucks. Minumannya mulai dari kopi, green tea hingga minuman yang sulit gue sebutin. Soalnya, panjang banget nama minumannya.

Selain minuman, saya juga dipersilahkan untuk mengambil makanan-makanan kecil yang ada di Starbucks. Mulai dari cheese cake hingga enggak tahu lagi apa deh namanya. Pokoknya sulit banget nyebutinnya.

Belum cukup disitu, ternyata waktu pulang kita dikasih kejutan dengan diberikan satu gelas besar Starbucks yang bisa dibawa pulang. Nah, di sini nih letak lucunya.

Secara gue baru pertama kali minum Starbucks gue langsung keheranan melihat gelas plastic Starbucks yang diberi tutupan dan sebuah lubang kecil. Otomatis gue langsung nanya.

“Sedotannya mana nih?”

Serentak teman-teman langsung ngetawain gue. Mereka ketawa karena heran dengan pertanyaan gue, soalnya mana ada sih orang yang minum Starbucks pake sedotan.

Namun, rasa malu gue udah tertutupi dengan kenikmatan minum Starbucks dengan gratis.

Uniknya, ternyata perut gue itu masih belum terbiasa minum kopi-kopi impor ala Starbucks. Buktinya, setelah pulang dari lokasi acara, perut gue malah sakit. Memang, yang namanya gratis itu selalu makan korban atau butuh pengorbanan.

Tuesday, March 21, 2006

Berhadapan dengan Poligami

Image hosting by Photobucket

Judul : Berbagi Suami
Sutradara : Nia Dinata
Pemain : Elmanik, Jajang C Noer, Shanty, Rieke Diah Pitaloka, Ria Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo dan Dominique

Setelah menonton film Berbagi Suami hanya ada satu kata dalam benak saya, Puas. Selama lebih dari 1,5 jam di dalam bioskop saya benar-benar terhibur menonton film garapan sutradara Nia Dinata ini.

Saking puasnya, usai menonton saya berbicara kepada teman saya bahwa saya ingin menangis nonton film ini. Sebab, saya benar-benar kebingungan mencari cela film ini.

Padahal awalnya sebelum menonton film di benak saya sudah timbul banyak dugaan tentang Berbagi Suami. Saya sempat mengira bahwa film ini benar-benar berat dan akan sangat susah dicerna bagi penonton Indonesia.

Kedua, saya menyangka bahwa film ini akan secara langsung mendiskreditkan paham poligami yang memang sedang jadi bahan perbincangan paling hangat akhir-akhir ini. Bahkan saya sempat berpikir, apakah Nia Dinata hendak menjadikan dirinya pemilik kebenaran seutuhnya dengan mengatakan bahwa poligami itu benar-benar merugikan perempuan.

Ketiga, saya sempat menduga bahwa film ini akan sangat membosankan karena ada tiga buah cerita dalam satu film. Satu film drama saja sudah membuat saya bosan, apalagi jika ada tiga buah cerita.

Namun, begitu film ini dimulai, semua dugaan tersebut benar-benar luntur. Film Berbagi Suami adalah film yang sangat-sangat santai dan benar-benar menyenangkan. Tidak ada dialog yang bertele-tele dalam film ini yang bisa menyebabkan kita memicingkan mata dan berkerut dahi kepala. Tidak ada akting kaku yang kadang membuat kita sering tertawa saking lucunya.

Di film ini justru saya merasa seolah-olah tidak berjarak dengan mereka. Alur cerita berjalan dengan lancar dan tidak terbata-bata. Saya tidak pernah merasa ngantuk menonton film ini.Setiap bagian cerita mulai, rasa penasaran saya justru makin memuncak. Memang, ada bagian cerita Ming, menurut saya agak-agak di over dramatisir dan kurang penting.

Tapi bagi saya kelebihan utama film ini adalah karena Nia Dinata adalah orang yang benar-benar adil dan sangat berimbang. Meski film ini adalah film miliknya, privilidge Nia untuk mengatakan bahwa poligami itu salah benar-benar tidak terasa.

Ketiga cerita yang ada di film itu memang semuanya menjadikan lelaki sebagai pelaku utama dan penyebab terjadinya poligami. Namun, kesemua tokoh wanita yang ada di film tersebut mempunyai pandangan sendiri-sendiri mengenai poligami.Poligami terjadi bukan karena kehendak pria saja tapi juga karena wanita memang tidak mau untuk menolaknya dengan berbagai alasan. Hal ini mengingatkan saya pada prinsip hukum the victim guilty as the offender.

Salma (Jajang C Noer), seorang dokter wanita dan taat beribadah, menyikapi poligami sebagai suatu takdir. Dirinya beranggapan bahwa menerima poligami adalah suatu jaminan ke surga. Sebagai istri yang baik dan sholehah, Salma selalu berusaha membagi hatinya bagi anaknya, Nadim dan kedua orang istrinya yang lain. Salma yakin bahwa yang paling penting bagi dirinya adalah membahagiakan suami dan sang anak. Apapun yang ia hadapi dalam rumah tangga harus dihadapi dengan baik demi keutuhan keluarga.

Siti (Shanty), seorang gadis Ambarawa, tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menikah dengan Pak Lik-nya sendiri. Cita-citanya untuk menjadi seorang ahli kecantikan justru luluh lantak karena jadi istri ketiga Pak Liknya.

Hidup pada tradisi jawa yang mengedepankan unggah-ungguh, Siti tidak bisa menolak ketika dipinang jadi istri ketiga. Meski batinnya menangis, layaknya orang Jawa, Siti menyimpan luka itu dalam-dalam.

Namun, luka itu justru jadi api dalam sekam, bahkan membawanya pada cinta yang telah ia cari sebelumnya. Meski cinta itu bukan cinta yang normal, cinta itu justru membuat Siti jadi berani untuk melawan poligami. Dicintai seseorang memang membuat kamu kuat, namun mencintai seseorang membuat kamu berani.

Lain lagi dengan Ming, seorang pelayan seksi di restoran bebek bakar milik Koh Abun. Ming, justru beranggapan bahwa poligami adalah salah satu cara untuk mendapatkan semua cita-citanya. Poligami adalah jembatan bagi Ming untuk lepas dari kemiskinan, hidup akan kekayaan dan menggapai cita-citanya menjadi seorang artis terkenal.

Tidak seperti kedua wanita sebelumnya yang batinnya menolak untuk dipoligami, Ming justru merasa senang dan ikhlas dipoligami. Meski ikhlas, Ming ternyata tidak dapat status yang sama seperti halnya kedua tokoh sebelumnya. Koh Abun menutup-nutupi pernikahan mereka, dan membuat seperti pasangan yang tengah berselingkuh.

Dari ketiga tokoh di atas, poligami dari sudut pandang apa pun memang akan selalu merugikan wanita. Namun, wanita memang mempunyai kekuatan untuk menolak poligami. Hanya saja latar belakang, kebudayaan dan desakan-desakan agama membuat mereka sulit untuk menolak poligami.

Pesan akhir yang saya terima sendiri akan film ini adalah kita perlu merubah cara pandang kita akan budaya dan agama, agar kita bisa melihat poligami pada sisi yang sebenarnya.

Monday, March 20, 2006

Antara Lionel dan Jamrud


Dalam satu minggu terakhir ini saya memang seperti kedapatan berkah. Tiba-tiba saja redaktur saya menyuruh saya meliput konser All Night Long with Lionel Richie di Plennary Hall Jakarta Convention Center.

Awalnya saya ragu sekaligus was-was menanti orderan tersebut. Soalnya, banyak teman-teman sekantor yang memang sudah lama mengincar konser tersebut.

Saya memang enggak bisa memaksa redaktur saya agar menyerahkan tiket konser itu kepada saya. Soalnya, saya memang agak enggak enak juga jika meminta langsung. Soalnya saya takut sekali jika ada orang yang memang lebih kepengen nonton ketimbang saya.

Kalaupun jatah tiket itu tidak bisa didapat, saya memang sudah memantapkan diri untuk nekat nonton dengan membeli tiket jalur biasa. Lagipula, saya memang sudah ada pikiran untuk mengajak teman saya untuk menonton Lionel.

Menjelang konser saya memang agak was-was juga ternyata fax yang dikirimkan Buena Production tak kunjung datang. Dalam hati saya sudah berpikir kayaknya enggak bakalan mungkin bisa nonton dengan gratis.

Harapan saya makin pupus, ketika beberapa waktu lalu redaktur saya mengatakan bahwa fax dari Buena sudah datang, namun fax tersebut sudah enggak ada lagi di meja. Redaktur saya mengatakan bahwa fax itu mungkin aja diambil oleh desk lain.

Jujur, waktu itu harapan saya benar-benar hancur. Saya harus rela mengeluarkan sejumlah uang agar bisa menonton aksi penyanyi yang punya nama asli Lionel Brockman Jr itu.

Namun, yang namanya nasib memang tak bisa diubah. Tiba-tiba saja redaktur saya mengatakan bahwa fax nya sudah ditemukan dan lembaran konfirmasi tertuliskan nama saya. Artinya, saya yang meliput konser tersebut.

Hati saya seperti mau meloncat keluar mendengar berita tersebut. Akhirnya, mimpi saya untuk menonton konser kelas dunia bisa terwujudkan juga.

Nama Lionel Richie memang punya arti khusus buat saya. Lagu yang pertama kali saya pelajari untuk bernyanyi adalah lagu Hello. Waktu itu saya diminta untuk menyanyikan lagu Hello karena memang kemampuan suara saya hanya bisa sampai segitu.

Saya tidak bisa suara melengking tinggi layaknya Glenn Fredly. Jadi lagu-lagu bernada rendah adalah lagu yang harus saya nyanyikan.

Melihat langsung Lionel Richie memang tidak seperti melihat langsung artis-artis Indonesia lainnya. Lionel seperti memancarkan pesona tersendiri bagi saya.

Di pentas atau pun di depan konferensi pers, sikap Lionel tidak pernah berubah. Dia selalu ceria dan benar-benar rendah hati. Dia mampu merubah suasana kondisi menjadi benar-benar hidup.

Ketika menonton, Lionel benar-benar tak berjarak dengan penggemarnya. Baik penonton yang berada 3 meter depannya atau pun berjarak 30 meter sama sekali tidak merasakan ada jarak yang lebar di antara kita dan Lionel. Lionel seolah berdiri di samping dan menghibur kita with his everlasting love song.

Selain konser Lionel Richie, sehari sesudahnya saya juga dapat kesempatan lagi menonton konser ulang tahun ke 10 Jamrud di Ancol.

Menonton konser Jamrud mengingatkan saya kepada kita bahwa musik rock masih menjaga eksistensinya. Setelah digempur habis-habisan dengan musik dangdut ala Peterpan, Radja, Samson dan Ungu, konser Jamrud seolah mengingatkan kepada saya bahwa inilah musik rock yang masih bisa terus bertahan selamanya.

Lagu-lagu dengan beat cepat, lirik yang lugas dan cenderung kotor, serta hentakan drum yang menggempur kuat membawa saya pada kenangan lama ketika membeli kaset Jamrud bertitel Ayam.

Waktu itu mana musik rock adalah musik yang bertutur tentang keadaan sosial bukan soal remeh temeh cinta yang bikin pusing kepala. Apalagi jika penyanyinya bernyanyi seperti ini… “Maafkan aku,,,,bla bla bla mencintaimu…”

Konser Jamrud memang sangat-sangat istimewa, semua orang yang ngaku ngerock ada di sini. Dari Ian Antono, Ahmad Albar, Eet Syahranie, Roy Jeconiah, John Paul Ivan, Baron hingga Yoyok Padi numpuk di konser ini.

Masing-masing bintang tamu diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan menyanyikan lagu-lagu Jamrud. Dan rasanya, benar-benar fantastis, saya enggak pernah menyangka lagu Jamrud itu bisa sebegitu khidmatnya ketika dibawakan oleh Ahmad Albar. Dan tak pernah menyangka distorsi lagu Jamrud justru makin menguat ketika dibawakan dengan brutal oleh Baron.

Jamrud memang ibarat penutup glossary musik yang ada dalam diri saya. Jujur musik rock dan musik jadul memang sudah bercampur satu dalam diri saya.

Saya memang sering menyanyikan lagu-lagu lama, tapi hati saya METTAAALLLLLLL…..!!!

Monday, March 13, 2006

Kekuatan Sebuah Rasa

Image hosting by Photobucket

Judul : Perfume
Penulis : Patrick Suskind
Penerbit : Dastan (Pustaka Zahra Grup)


Apa yang didapat dari sebuah rasa? Patrick Suskind melalui bukunya Perfume menunjukkan bahwa sebuah rasa bisa membawa kita pada upaya pembunuhan berantai dan balas dendam yang sudah lama berakar dan berurat.

Tersebutlah Jean Baptiste Grounoille, seorang lelaki yang tak diharapkan lahir di bumi, mempunyai bakat yang sangat istimewa, yakni punya indra penciuman yang sangat tajam. Dengan penajaman indra itu Grounoille justru mempunyai motivasi teramat dalam akan sebuah rasa yang paling unik di dunia yakni rasa perawan.

Motivasi itu justru menjadi sebuah obsesi yang sangat berlebihan bagi Grounoille. Pria yang belajar bahasa melalui rasa ini justru berusaha mengumpulkan rasa perawan itu dengan cara yang tidak benar. Namun, di balik semua keinginan itu terselubung duka yang sangat mendalam dalam diri Grounoille.

Membaca buku Perfume merupakan sebuah keasyikan tersendiri bagi saya. Adik saya sendiri, Ari, benar-benar terkesima dengan buku Suskind ini.

Kemampuan Suskind adalah kemampuannya menyimpan rahasia dan memberikan sebuah ledakan yang sangat mengejutkan di akhir-akhir buku. Dalam setiap bagian bukunya Suskind seolah mengajak pembaca untuk lebih tahu lagi apa yang akan dihadirkan oleh Suskind.

Kemudahan lainnya dalam membaca buku ini adalah cara Suskind yang sangat santai dalam menuturkan semua tulisannya. Membaca buku ini sama sekali tidak membuat kening kepala berkerut. Setiap Babnya tidak terdiri dari banyak halaman. Hal ini membuat kita tidak merasa kita telah menghabiskan banyak halaman.

Kekurangan, waduh untuk saat ini saya enggak mau bicara banyak tentang kekurangan buku ini. Pokoke saya jatuh cinta dengan buku ini.

Wednesday, March 08, 2006

Miskin Eksplorasi, Kaya Gambar

Image hosting by Photobucket

Judul : Ruang
Sutradara : Tedy Soeriaatmadja
DOP : Arief R Pribadi
Pemain : Winky Wiryawan, Luna Maya, Slamet Rahardjo, Regy Lawalata

Sutradara Tedy Soeriaatmadja adalah sutradara yang senang bermain-main dengan warna. Setelah puas bermain-main dengan warna biru di film Banyu Biru, kini Teddy kembali bermain-main dengan warna di film terbarunya berjudul Ruang. Tebak, warna apa yang dipilih Tedy dalam film yang diproduksi oleh Parama Entertainment ini? Sephia, sebuah warna yang teduh namun sangat membosankan.

Beruntung, film ini tidak membosankan seperti warnanya. Padahal, jauh-jauh hari sebelum pre-screening, saya punya dugaan bahwa film ini akan sama membosankannya dengan film Banyu Biru.

Makanya, sebelum menonton film ini saya sudah siap sedia permen Kopiko 5 biji. Bukan apa-apa, soalnya saya takut juga jika nantinya langsung tertidur ketika film berputar, seperti saya nonton Banyu Biru. Selain itu, saya juga merasa sangat tidak sopan sekali jika saya keluar dari ruangan teater, mengingat di situ Tedy juga duduk bersama pemain film Ruang lainnya.

Film Ruang sendiri adalah sebuah film yang bercerita tentang cara manusia dalam menghadapi masa lalunya. Tersebutlah, Rais, seorang diplomat yang sudah wara-wiri ke luar negeri. Saking sibuknya bekerja, Rais tidak sempat menghadiri pemakaman ibunya tercinta, Flori.

Meski telah telat, Rais tetap harus kembali juga ke rumahnya di Indonesia. Alasannya, ada sebuah kotak dan sebuah surat yang harus dibaca oleh Rais bersama-sama dengan adiknya Emma.

Dari sebuah surat itu terkuaklah sebuah rahasia yang selama ini dipendam lama oleh Flori. Rais, ternyata bukan anak hasil hubungan Flori dengan ayah mereka, Chairil.

Tidak seperti cerita-cerita lainnya yang lebih mengedepankan proses pencarian yang dilakukan oleh sang anak, film Ruang justru mengedepankan kisah-kisah masa lalu untuk mengungkap siapa jati diri Rais sebenarnya.

Kelemahan dari film ini adalah kebiasaan Tedy untuk membuat kita berpikir keras mengenai konflik yang terjadi di film tersebut. Tedy lebih cenderung memvisualiasikan konflik yang terjadi melalui simbol-simbol. Padahal, kita bukan seorang ahli simbologi seperti Robert Langdon kan?

Akibatnya, ketika kedua tokoh tersebut bertemu, tidak terasa adanya konflik di antara mereka. Memang, keduanya terlihat kaku namun kekakuan itu terjadi bukan karena tuntutan akting. Kedua pemeran, yakni Slamet Rahardjo dan Regy Lawalata justru terlihat kaku karena memang tidak berhasil mengeksplorasi karakter kedua saudara yang tengah berselisih. Saya justru melihat mereka berdua seperti seorang kakek nenek yang sibuk dengan filsafat hidupnya sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada kisah masa lampau antara Chairil, Flori dan Kinasih. Di bagian ini, Tedy benar-benar gagal mengeksplorasi karakter-karakter yang ada. Chairil, seorang pemuda yang tengah putus asa karena ditinggal keluarganya,dan sangat butuh cinta justru terlihat seperti seorang playboy yang ngebet enggak tahan pengen pacaran.

Sementara itu Kinasih, seorang gadis pembesar yang ternyata sekarat ini justru lebih terlihat seperti seorang gadis yang senang bermain-main dengan pria. Di film ini Kinasih justru tidak pernah memberikan alasan yang tepat kenapa dirinya justru ingin lebih bersama dengan Chairil.

Sementara itu Tedy justru menyia-nyiakan bakat besar Adini Wirasti. Entah apa maksud Tedy menyuruh Asti lebih banyak menampilkan adegan-adegan diamnya. Apakah Tedy ingin sekali menciptakan seorang Rizky Hanggono versi wanita?

Yang pasti kelebihan di film ini adalah pada dua hal yakni gambar dan kalimat-kalimat yang keluar di setiap adegan.

Film yang mengambil lokasi syuting di Krakal, Bromo dan Banyuwangi ini terselamatkan oleh gambar-gambar pemandangan yang sangat indah hasil tembakan DOP yang sangat berbakat, Arief R Pribadi. Teman saya yang seorang fotografer saja benar-benar terkesan dengan gambar-gambar yang diciptakan Arief.

Sementara itu khusus untuk kalimat, saya menduga bahwa Tedy memang memikirkan dengan matang kalimat-kalimat yang keluar. Terasa benar kalimat-kalimat yang ada di semua adegan sangat puitis dan romantis.

Monday, March 06, 2006

Me, My Nephew and Dodol Conversation.

Image hosting by Photobucket

Saya ; Rin, kamu lihat peta punya tulang enggak?

Ririn ; Tanya aja sama Dora
Saya ; ????

Ara ; Tulang, minta duit dong.
Saya ; Berapa?
Ara ; Sepuluh ribu
Saya ; Lho kok banyak banget kemarin cuma
lima ribu
Ara ;
Kan bbm naik tulang
Saya ; ???

Dibanding menjadi seorang ayah, menjadi seorang paman memang mempunyai keasyikan tersendiri bagi gue. Jadi seorang paman memang tidak terlalu berat seperti jadi orang tua.

Tidak seperti orang tua mereka yang harus memikirkan bagaimana caranya membesarkan mereka jadi anak yang baik-baik, bagi gue jadi seorang paman justru tidak lebih sama dengan menjadi seorang teman baik bagi mereka.

Saat ini gue adalah seorang paman dari 5 orang anak-anak kecil, Ririn, Ara, Lili, Tiur dan Hilo. Kelima-limanya mempunyai karakter yang berbeda satu sama lain.

Yang bikin saya asyik, kelima ponakan ini mempunyai kepribadian masing-masing. Meski cenderung tertutup dan lebih banyak diam, Ririn adalah seorang perempuan yang baik dan rajin. Hanya saja sikapnya yang masih kekanak-kanakan mengalahkan postur tubuhnya yang sudah seperti gadis dewasa.

Jawaban-jawaban spontannya juga membuat saya geleng-geleng kepala. Namun bukan karena kesal, tapi karena ingin tertawa. Soalnya, dibalik badannya yang besar Ririn masih mempunyai jiwa kekanak-kanakan yang sangat tinggi.

Lain lagi dengan Ara, ponakan yang satu-satunya laki-laki ini memang mempunyai kebiasaan yang sangat akut, yakni meminta uang buat jajan. Awalnya, Ara sering minta uang 500 rupiah, namun lama kelamaan uang yang diminta makin tinggi jumlahnya. Terakhir, anak yang masih kelas satu SD ini minta uang Rp 10 ribu. Dan dia punya alasan tepat kenapa dia minta uang sebesar itu.

Terakhir ponakan gue yang satu ini bikin ulah kabur dari rumah dan melarikan diri ke rumah Ompungnya. Bayangin, anak yang masih kecil ini naik sepeda dari rumahnya di Kosambi, ke rumah Ompungnya yang ada di Grogol.

Karena jalannya jauh, Ara ternyata tidak kuat bersepeda. Namun, otaknya masih cerdas juga. Dia langsung mendatangi tukang ojek minta dianterin ke rumah Ompung. Beruntung saat ini Tukang Ojek masih banyak yang baik-baik. Kalau enggak, saya enggak tahu bagaimana dengan nasib Ara sekarang.

Lili adalah ponakan saya yang paling sopan. Di antara kelimanya mungkin Lili bisa jadi adalah ponakan yang paling dan tidak pernah mengganggu saya. Anak ini memang luar biasa cerdas. Entah dari mana dia belajar, yang pasti selama ini dia menjadi anak yang sangat manis bagi tulang, dan Ompungnya.

Hilo dan Tiur adalah ponakan saya yang paling-paling saya rindu. Tentu saja hal ini terjadi karena mereka belum sereseh ponakan-ponakan saya yang lain. Soalnya, mereka masih kecil-kecil dan belum fasih berbicara.

Entah kenapa Hilo adalah ponakan yang paling senang jika bertemu saya. Setiap dia bertemu saya di rumah dia pasti selalu berlari gembira dan memeluk saya.

Nah, kalau si Tiur ini lain lagi. Sampai sekarang dia justru ketakutan melihat saya. Terakhir saya datang ke rumahnya, dia tampak keheranan melihat saya. Matanya melotot dan bibirnya komat-kamit. Mungkin dia bingung ngelihat ada orang sejelek saya kali yah…?

Metamorfosis Untuk Meraih Oscar

Image hosting by Photobucket

Perhelatan akbar Oscar 2006, baru saja berakhir. Kuda hitam Crash garapan sutradara Paul Haggis berhasil meraih penghargaan film terbaik. Film yang diperani oleh sederet aktor dan aktris berkualitas ini berhasil mengalahkan favorit masyarakat
Brokeback Mountain garapan sutradara Ang Lee.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, film terbaik tidak secara otomatis menyerahkan aktor dan aktris terbaik pada film yang sama. Hal ini mengingatkan dengan event Piala Citra 2005, yang menyerahkan gelar aktor dan aktris terbaik justru jauh pada film yang berbeda.

Di Oscar 2006, gelar aktor terbaik jatuh pada aktor Phillip Seymour Hoffman dalam film Capote. Sementara aktris terbaik jatuh pada tangan Reese Witherspoon yang tampil memesona dalam film Walk The Line.

Brokeback sendiri tidak pulang tanpa tangan kosong. Film yang bercerita tentang kisah cinta dua orang koboy ini mendapatkan gelar sutradara terbaik, Ang Lee.

Sementara itu aktor pendukung terbaik jatuh di tangan George Clooney yang tampil bersinar dalam film Syriana. Sedangkan, aktris pendukung terbaik diraih oleh Rachel Weisz dalam film Constant Gardener (Love at any cost, hel yeah).

Banyak orang yang mengatakan bahwa prestasi fenomenal kejutan terbaik di Oscar adalah berhasilnya Crash keluar sebagai juara. Film yang paling diharapkan dan ditunggu-tunggu untuk menang sebenarnya adalah Brokeback Mountain. Apalagi, di ajang pemanasan sebelum Oscar seperti Bafta dan Golden Globe, film gay cowboy ini berhasil memborong penghargaan.

Tapi, sebenarnya prestasi yang paling mengesankan di ajang Oscar adalah betapa terasanya proses metamorfosis yang dilakukan oleh semua aktor dan aktris peraih Piala Oscar.

Metamorfosis yang sangat terasa adalah metamorfosis yang dilakukan oleh George Clooney. Sebelum berhasil meraih gelar aktor pendukung terbaik, Clooney adalah aktor film corny seperti Intolerable Cruelty dan Batman Returns.

Padahal, ketika pertama kali tampil di serial drama Ermengency Room (ER), banyak orang yang sudah memrediksikan Clooney bakal berjaya di dunia akting. Sayang, karena lebih mengedepankan pesona fisik, Clooney justru lebih sering tampil di film-film ringan.

Justru ketika Clooney sadar bahwa ketampanan fisik bukan berarti tampan kualitas akting, Clooney pun secara bertahap bermetamorfosis. Hal yang pertama dia lakukan adalah membuat film berjudul Good Night and Good Luck. Bersama aktor David Strathairn, Clooney benar-benar mengeluarkan semua keahliannya berakting. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi Oscar.

Totalitas Clooney justru semakin meledak keluar dari dirinya ketika bermain film Syriana. Berperan sebagai seorang agen CIA yang dilanda krisis identitas, Clooney benar-benar membuktikan bahwa dirinya adalah seorang aktor yang serius.

Ketika menonton film Vanity Fair, saya sudah menyangka bahwa cepat atau lambat, Reese Witherspoon akan mendapatkan tempat yang sangat khusus di dunia perfilman. Lagi pula seperti halnya Clooney, Reese memang sudah lama bermetamorfosis sebagai penghibur.

Ketika bermain bersama Joaquin Phoenix dalam film biopic Walk The Line, Reese memang benar-benar menunjukkan betapa telah berubahnya dia. Dari seorang Legally blonde, menjadi seorang aktris watak.

Jujur, saya sebenarnya menjagokan Felicty Huffman sebagai best actress. Tapi, entah apa yang dipikirkan para juri hingga mereka memalingkan muka dari Huffman.

Meski gagal meraih film terbaik, Brokeback Mountain berhasil menempatkan Ang Lee sebagai sutradara terbaik. Gelar ini merupakan puncak perjuangan Ang Lee memposisikan diri sebagai sutradara handal.

Perjuangan atau tepatnya metamorfosa yang dilakukan oleh Ang Lee memang sangat luar biasa. Sutradara asal Pintung, Taiwan ini sempat tampil gemilang ketika menelurkan Wedding Banquet, Sense and Sensibility dan Crouching Tiger Hidden Dragon. Namun, dalam proses selanjutnya Ang Lee justru dicaci karena membuat tokoh komik, Hulk menjadi sebuah lelucon berdurasi 2 jam.

Namun, tahun ini Ang Lee benar-benar kembali dan tampil mendominasi. Film Brokeback seolah menjadi prasasti kembalinya Ang Lee di jalur film.

Saya sendiri punya dugaan tersendiri kenapa Brokeback Mountain tidak dapat gelar film terbaik. Soalnya, film ini mempunyai kesamaan tema dengan film Wedding Banquet yang juga digarap oleh Ang Lee.

Setelah malang melintang di film dan pentas teater, akhirnya Philip Seymour Hoffman berhasil meraih gelar aktor terbaik. Setidaknya, nominasi ini berhasil menyempurnakan curriculum vitae Hoffman di dunia akting.

Sebelum ketiban Oscar, Hoffman memang menjalani perjalanan yang sangat panjang dan berliku. Memulai karirnya di dunia film di tahun 1990-an Hoffman selalu berhasil meninggalkan kesan memorable dalam semua peran yang ia jalani.

Kesuksesan Rachel Weisz di ajang Oscar tidak hanya membuat dirinya banga. Bahkan seluruh Inggris Raya bangga atas prestasi wanita yang tengah mengandung 5 bulan ini. Saking bangganya, harian The Sun menulis besar-besaran judul berita Weisz Takes Oscar for UK.

Jauh sebelum menjadi seorang aktris, Rachel Weisz adalah contoh sempurna sebuah metamorfosis, wanita cantik ini dulu mengawali karirnya sebagai seorang model.