Friday, April 29, 2005

Ratapan Orang Bodoh

Apakah pintar itu seksi? Entah kenapa saat ini banyak sekali orang yang ingin menjadi orang yang pintar. Dulu ketika aku masih sekolah dasar, aku tidak pernah mau menjadi orang yang pintar.

Saat itu aku berpikir orang-orang yang pintar adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk belajar. Tidak ada waktu untuk bermain dengan teman, atau menonton televisi. Padahal, saat itu aku hanya mau untuk menghabiskan waktu dengan bermain, bermain dan bermain.

Untung, saat itu prinsip ini dibantu oleh orangtuaku yang memang membiarkan anaknya ini untuk tidak belajar. Mungkin, jika aku tidak mempunyai orangtua seperti mereka, tentu aku pasti disuruh untuk belajar habis-habisan. Soalnya, setiap orang tua pasti akan bangga jika punya anak yang bisa juara kelas.

Namun, saat ini semua orang seolah-olah berlomba untuk menjadi pintar. Tidak ada yang mau jadi orang bodoh. Seolah-olah menjadi orang bodoh adalah dosa tujuh turunan yang dapat menyengsarakan siapa saja.

Klaim ini semakin menakutkan ketika makna pintar ditempeli dengan mitos-mitos bahwa hanya orang pintar yang mampu kaya, hanya orang pintar yang bisa bertahan hidup, dan hanya orang pintar yang bisa gaet wanita.

Apalagi, saat ini banyak orang yang senang berkompetisi dengan kepintaran. Gaya bicara mereka dibuat-buat seolah-olah mereka adalah orang pintar atau intelektual. Cara pandang mereka dibikin seluas-luasnya, padahal toh tidak pernah bisa mencerna apa yang ada di mata mereka.

Uniknya, hampir semua orang pintar itu tidak pernah mau menerima siapa yang lebih pintar. Lain dengan orang bodoh, secara normal mereka pasti mengakui kalau ada orang pintar.

Entahlah, saat ini aku juga bingung, apakah aku merasa pintar untuk menulis keluhan ini. Ataukah memang ini hanyalah sebuah ratapan usang orang yang bodoh.

Thursday, April 28, 2005

Pernah

Pernahkah kita bermimpi? Aku tidak pernah tahu sampai seberapa sering orang lain bermimpi, kalau aku hampir setiap hari aku bermimpi. Mulai dari bermimpi punya wanita cantik, motor baru, hingga gaji baru yang lebih baik dibandingkan saat ini.

Kita memang tidak pernah dilarang untuk bermimpi. Itu sudah jadi hak istimewa bagi setiap pribadi manusia. Jadi kalau ada orang yang tidak bermimpi atau mengenal mimpi, bisa jadi diragukan sisi kemanusiaannya.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan disini adalah, sampai seberapa jauh kita berusaha mencapai mimpi-mimpi tersebut. Mampukah kita mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Ataukah kita terlalu takut menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan karena kita hanya sanggup dan puas hanya menjadi seorang pemimpi.

Kita memang tidak pernah bersalah jika hanya puas sebagai pemimpi. Tapi alangkah bahagianya kita jika mampu untuk mewujudkan satu saja mimpi kita. Sebab mimpi itu bikin hidup lebih hidup.

Thursday, April 14, 2005

Sunat Jin

Kadang-kadang kalau kita baca koran, pasti pernah membaca berita tentang anak-anak yang disunat secara misterius. Disebut misterius, karena prosesnya yang memang sulit diterima nalar manusia. Akhirnya, banyak orang yang mengatakan kalau mereka itu disunat oleh jin.

Kita tahu kalau proses sunat-menyunat itu pasti dilakukan oleh manusia. Biasanya tukang sunat itu adalah orang-orang profesional yang bergerak dalam dunia kesehatan, biasa disebut dokter atau mantri.

Diluar itu, kita tahu banyak sekali cara tradisional untuk menyunat. Mulai dari menggunakan pisau, silet atau benda tajam lainnya. Biasanya, mereka-mereka yang melakukan penyunatan itu dikenal dengan berbagai nama seperti Bengkong, calak, bing supit, dukun supit, atau lainnya yang mungkin Anda tahu.

Nah, sekarang entah kenapa jin juga ikut-ikutan berubah profesi jadi tukang sunat. Apakah karena memang secara khusus jin punya kemampuan khusus untuk menyunat. Ataukah karena memang hanya manusia-manusia khusus yang bisa disunat oleh jin..

Saturday, April 09, 2005

Jalan Menuju-Nya

Sabtu pagi hari, ketika melihat aku tengah membaca buku Angel and Demons karya Dan Brown, Mamah langsung bertanya kepadaku. “Memangnya kamu mau jadi Kristen, Yu?” tanya Mamah. Sontak saja aku tersadar dengan pertanyaan tersebut. Aku tidak pernah menyadari kalau Mamah memperhatikan koleksi bukuku akhir-akhir ini.

Memang sejak tiga bulan lalu, aku sering membeli buku yang berhubungan dengan Kristen Katholik. Mulai dari Rome Sweet Home karangan Scott Hahn, The Name Of The Rose-nya Umberto Eco, hingga karangan sensasional Dan Brown, The Da Vinci Code dan Angel and Demons. Terakhir, aku membeli buku karangan Paulo Coelho berjudul Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu.

Melihat buku-buku itu, wajar saja jika Mamah berpikir aku mau pindah agama. Soalnya, dulu ketika aku mahasiswa, aku keranjingan baca buku agama Islam. Buku-buku ala spiritual seperti Ibnul Jauzy, Ibnu Qayim Al Jauziyah hingga Ibnu Taymiah selalu aku beli.

Bukan itu saja, buku-buku Islam modern dan liberal juga tak luput dari koleksiku. Mulai dari Mohammed Arkoun, Hasan Hannafi, Abdul Karim Soroush hingga buku yang pernah menggemparkan pesantren-pesantren di Indonesia, Dekonstruksi Syariah karangan Abdul Ahi Ahmed An-Na’im. Untuk nama terakhir ini aku cukup beruntung karena pernah bertemu dengan langsung ketika ia datang ke Indonesia.

Dari situlah, Mamah berkesimpulan kalau aku tengah tertarik tentang Kristen Katholik. Selain itu, aku juga tidak pernah dilihatnya lagi menjalankan ibadah shalat lima waktu. Tak heran, kalau ia langsung berpikir demikian.

Aku memang tertarik dengan Kristen Katholik. Ada rasa yang mendesir ketika aku mempelajari sejarah agama Kristen Katholik. Di tengah kontroversi yang mencuat ala Da Vinci Code hingga pertentangannya dengan kelompok Sains, membuat agama ini seperti sebuah misteri yang harus aku selami.

Tapi layaknya sebuah misteri, aku hanya sebatas mempelajari. Layaknya sebuah misteri, agama ini tidak lain adalah usahaku untuk mencari hakikat keberadaan-Nya. Aku tidak berpindah agama, Aku hanya tengah berusaha mengenal-Nya dari semua jalan.

Friday, April 08, 2005

Gua Coelho

Betapa menyedihkannya orang yang takut mengambil risiko. Mungkin orang ini tak akan pernah kecewa atau terdisilusi; mungkin ia tak akan menderita selayak-layaknya orang yang mengikuti mimpi mereka. Tapi ketika orang itu menoleh ke belakang – ada saatnya orang-orang mesti melihat ke belakang – maka ia akan mendengar hatinya berkata, “Apa yang telah kau lakukan dengan semua keajaiban Tuhan yang pernah ia berikan padamu? Apa yang telah kau lakukan dengan semua bakat yang dianugerahkan Tuhan padamu? Kau mengubur dirimu dalam sebuah gua karena takut kehilangan semua itu. Jadi inilah yang kau warisi “kepastian bahwa kau telah menyia-nyiakan hidupmu” (Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra)

Begitu membaca, novel karangan Paulo Coelho ini aku langsung terkejut. Aku tidak pernah menyangka, di awal-awal kalimat pembuka novel, pengarang asal Brazil ini bisa langsung menggedor kesombongan yang tertanam di dadaku.

Ia berhasil membuat aku berkaca pada diri sendiri. Betapa aku tidak sekuat yang aku bayangkan. Betapa aku sesungguhnya telah terjebak dalam gua kegelapan yang bernama kesia-siaan.

Rasa nyaman yang telah aku dapati hari ini, membuat aku lupa untuk menghargai apa yang Tuhan telah berikan kepadaku. Kenyamanan itu membuat aku terbius dan rasa takut akan kehilangan mengepung ambang kesadaranku.

Aku takut kehilangan jabatan, aku takut menderita kesusahan, aku takut berpanas-panas di lapangan dan aku takut untuk mencoba sesuatu yang baru.

Tuesday, April 05, 2005

In Memoriam ZA Maulani

Dulu pertamakali aku bertemu dengan dia, di Gedung ICMI, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Saat itu ia tengah sibuk menyiapkan makalah, yang judulnya tentang kegiatan terorisme di Indonesia. Tidak lebih kurang membahas tentang keterlibatan orang-orang di Indonesia dalam aksi terorisme.

Karena merasa perlu untuk mencari berita, aku berpikir kalau ia adalah orang yang tepat untuk dijadikan narasumber. Soalnya, jabatan mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (KABAKIN), menunjukkan bahwa lelaki yang pernah memelihara jenggot putih itu mempunyai segudang informasi penting tentang aksi terorisme.

“Selamat siang pak, Wahyu dari Rakyat Merdeka, saya mau wawancara ada waktu sedikit,” Tanyaku kala itu.

Awalnya, aku berharap akan ada sedikit sambutan hangat darinya. Sayang, saat itu matanya justru terbelalak, seakan-akan terganggu dengan kehadiranku. Tak lama kemudian ia langsung bertanya. “Kamu mau Tanya apa?”

Mendengar pertanyaan tersebut, mulutku langsung sigap meluncurkan pertanyaan. “Begini pak. Sebenarnya Jamaah Islamiah itu ada gak sih?”

Lagi-lagi setelah pertanyaan itu keluar, aku berharap akan ada proses Tanya jawab yang hangat. Sayang, lagi-lagi khayalan itu buyar. Ia malah membentakku dan berkata. “Kamu ini wartawan apa bukan. Kamu sudah baca makalah saya. Kalau kamu mau tahu jawabannya baca dulu makalah saya baru Tanya. Ini belum baca apa-apa kamu sudah Tanya-tanya. Dasar wartawan sekarang semuanya pada sok tahu.”

Mendengar perkataan tersebut aku langsung terhenyak. Karena jujur aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Karena tidak mendapatkan respon yang positif, akhirnya aku langsung pergi. Saat itu aku beranggapan, aku tidak terlalu butuh banget dia. “Emangnya dia aja apa yang bisa dibikin jadi berita,” dongkolku dalam hati.

Akhirnya, aku menyudahi pertanyaan tersebut dengan sedikit kalimat diplomatis. “Ok deh pak, saya baca dulu makalahnya nanti saya Tanya lagi,” kata saya.

Sejak saat itu, aku memang tetap mengingat peristiwa tersebut. Bahkan sejak saat itu aku merasa kesal jika bertemu dengannya. Bahkan kalau bertemu muka dalam suatu acara, aku tidak pernah mau sedikitpun mewawancarai dirinya. Pikirku, dasar kakek tua maunya dihormatin aja.

Terakhir, aku bertemu dengannya di depan Rutan Salemba. Kala itu ia bersama beberapa petinggi Partai Bulan Bintang seperti MS Kaban dan Hamdan Zoelva mengunjungi Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Kala itu banyak orang yang mewawancarai dirinya. Tapi aku tidak. Aku sudah mati hati bertemu dengan orang tersebut.

Saat itu memang selintas aku melihat ia dalam kondisi yang sangat berbeda ketika pertamakali bertemu. Ia sudah mencukur habis jenggot putihnya. Ia menggunakan tongkat. Kacamata hitam, menyembunyikan tatapan matanya yang dulu tegar bagai elang.

Sayang, saat itu aku khilaf tidak menangkap kekurangan tersebut. Ternyata, pria tua yang kemana-mana naik angkutan kota itu, (aku tahu ini karena pernah melihat ia berjalan dari Jalan Dipenogoro ke Kantor Kahmi di Jalan Sunda dekat Masjid Sunda Kelapa), sudah digerogoti banyak penyakit.

Kini, berita itu datang secara tiba-tiba, berita dari situs detikcom mengabarkan bahwa ia telah meninggal dunia. Pria gagah itu tidak bertahan lagi karena banyaknya penyakit yang ia derita. Sontak, aku langsung memberitahukan hal tersebut kepada teman-temanku. “Zik, mana Shomad, ZA Maulani meninggal dunia,” kataku kepada Zik.

Aku ingin memberitahu Shomad berita tersebut, karena ia pernah mengalami hal yang sama seperti aku rasakan.

Namun, saat itu lebih dari itu yang ingin aku sampaikan. Aku hanya ingin mengingatkan kepada teman-teman, saat ini biarlah Bapak kita ini pergi dengan tenang. Hapuskanlah semua kebencian yang pernah kita rasakan, dan ingatlah betapa gagahnya ia membela kaum sekawan, seperti yang pernah ia lakukan kepada Ustad Baasyir dan lain-lainnya.

Selamat jalan pejuang, maafkan saya yang pernah salah pikiran….

In Memoriam ZA Maulani (5 April 2005)…

Monday, April 04, 2005

Keraguan

Kala aku bilang cinta padamu
aku meragu
Ketidakpastian meluncur dalam benakku

Aku tak tahu pasti
Namun sinar matamu
Saat itu
Meruntuhkan segala keraguanku

Semua berjalan, cinta kita pun terbang
Hujan yang deras mengagungkan perasaan cinta
Dan
Jika malam telah kelam cintamu adalah pelita dalam kegelapan.

Sayang semua itu bukanlah jawaban
Aku kerap meragu
Padahal kamu terus merindu....

Friday, April 01, 2005

Adzan Di Kantor Kami

Allahu akbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.

Akhirnya, untuk pertama kali adzan berkumandang juga di Gedung Graha Pena. Suara adzan yang keluar dari mulut seorang anak bernama Syafiq itu, terdengar keras di lapangan parkir yang memang sengaja disulap jadi tempat sholat.

Aku yang terduduk di barisan shaf ketiga tertegun, selama dua tahun gedung berdiri, baru kali ini ada tempat shalat berjamaah bagi para karyawan.
Sebelumnya, berharap untuk ada pun kita tidak mungkin. Karena lantai-lantai yang ada di gedung ini lebih senang diberdayakan untuk tujuan komersil daripada kepentingan ibadah.

Tapi, hari ini semua itu sudah berubah. Walau tidak terlalu luas, akhirnya ada juga tempat bagi kami untuk sama-sama beribadah. Yang paling penting, kami tidak perlu lagi capai-capai berjalan sepanjang 1 kilometer untuk datang ke masjid terdekat.

Walau ada yang bilang kalau semakin jauh semakin baik, tapi kan lebih baik kalau kantor memang menyediakan tempat ibadah bagi kami. Lagipula, beribadah itu sudah masuk undang-undang dasar lo.

Karena pertamakali dilaksanakan, kami memang terasa kikuk ketika prosesi ibadah berjalan. Bahkan saking kagoknya, Syafiq sampai kebablasan beriqomah pada jeda ceramah pertama. Bukan itu saja, keterbatasan alat membuat suara khotib dan imam tidak terdengar. Padahal suara khotib harus adu kencang dengan deru suara motor.

Kekurangan itu semua memang bukan berarti persiapan ibadah shalat telah gagal. Tapi menjadi pekerjaan rumah bagi kami semua untuk urun bantuan untuk membuatnya menjadi sempurna.