Monday, May 16, 2005

Gugatan Kingdom Of Heaven

Image hosted by Photobucket.com

Minggu kemarin, ada kesempatan untuk menonton film Kingdom Of Heaven. Sengaja datang lebih awal, karena menduga film ini pasti akan memakan banyak antrian. Sayang, dugaan itu meleset, sebab ternyata tidak cukup banyak orang yang memilih untuk nonton film besutan Scott Ridley itu.

Film yang saya kira berdurasi 2,5 jam ini memang menarik. Tema yang diusung memang sangat patut disimak, pertempuran antara Muslim dan Nasrani memperebutkan satu kota bersejarah, Jerusalem.

Jikalau orang lain mengatakan bahwa film ini membawa pesan damai, saya justru punya pendapat lain. Saya menganggap bahwa film yang mengerahkan jutaan orang ini justru dengan sangat baik mengambarkan gugatan manusia atas nama agama.

Betapa manusia dengan mudahnya menyelewengkan agama atas nama kepentingan, kekayaan dan hasrat. Betapa manusia dengan mudahnya terlupa, bahwa agama justru hadir bagi manusia bukan untuk Tuhannya.

Ridley memperlihatkan gugatan ini dengan baik di awal film. Ketika seorang pendeta bejat , karena menyuruh memenggal kepala orang yang mati hanya karena ia bunuh diri, mati dibakar oleh Balian. Balian yang kesal dengan ulah pendeta tersebut tak bisa menahan emosi ketika pendeta tersebut berulang kali menuduh istrinya berada di neraka, seolah-olah ia adalah orang yang benar dan suci. Padahal ia toh mencuri harta satu-satunya istri Balian, yaitu kalung salib.

Gugatan kedua adalah ketika pasukan Uskup yang mengejar Balian justru memerangi pasukan pimpinan Godfrey of Ibelin, yang notabene adalah para crusader. "Dia tidak bisa sesuai dengan hukum tapi bukan bersalah karena perintah Tuanmu," kata seorang pasukan pimpinan Godfrey.

Gugatan ketiga ketika Tiberias mengatakan kepada Balian, bahwa ia malu karena perang ini. "Aku berpikir dulu kita berperang demi Tuhan dan agama. Ternyata ini semua terjadi hanya karena harta dan kekayaan. Aku mundur," tegas Iberias.

Gugatan keempat secara lugas diperlihatkan oleh Ridley ketika Balian, hendak membakar mayat-mayat yang ada di Jerusalem. Kala itu uskup agung Heraclius meminta Balian untuk menguburkan mereka dengan wajar. Tapi Balian menolak dan menyuruh mereka agar membakar semua mayat tersebut. "Tuhan akan mengerti apa yang kita lakukan. Jika tidak maka ia bukan Tuhan," katanya.

Gugatan kelima, ketika Balian mengatakan kepada seluruh penduduk kota Jerusalem, bahwa bagian mana kota ini yang paling suci. "Tidak ada paling suci di kota ini, apakah itu tembok, masjid atau sebuah bukit. Manusialah yang menginginkan mereka paling tinggi," tegas Balian.

Yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana Balian mendengarkan sebuah petuah Baldwin IV tentang Tuhan. "Tuhanmu itu ada disini (otak) dan disini (hati),"

Baldwin IV memang benar, banyak manusia yang bertindak bukan dengan hati dan otaknya. Manusia justru terjebak bertindak dengan nafsunya. Parahnya, nafsu itu menjadi sangat buruk ketika ditempelkan dengan alasan untuk Tuhan.

No comments: