Wednesday, January 19, 2005

Kesalahan

Everyone always do mistake. Memang semua orang pasti tidak pernah luput dari kesalahan. Sayangnya, saat ini kesalahan selalu ada batas toleransinya. Di dunia sepakbola, seorang pemain dibatasi dengan dua kartu kuning atas ulahnya. Lebih dari itu, Out. Begiru juga dengan di kantor pasti ada yang namanya Surat Peringatan. Mulai dari SP1 sampai SP2. Lebih dari itu Out.

Kenapa kesalahan selalu harus dibatasi. Bukankah Tuhan telah mengatakan bahwa manusia memang adalah makhluk yang lemah dan senantiasa khilaf. Apakah kesalahan patut disamakan dengan kebodohan?

Jika kita bicara bodoh, maka kita bicara indikator. Pasti ada ukurannya, atau ukuran bodoh atau tidaknya seseorang. Kita bisa mengetahui apakah si A itu bodoh atau pintar melalui ukuran-ukuran tertentu. Dalam ukuran tertentu aku bisa dikatakan tidak pandai atau bodoh soal matematika. Karena memang aku tidak bisa mengerjakan hampir semua soal matematika.

Sedangkan kesalahan, sama sekali tidak ada ukurannya. Orang dianggap bersalah, karena orang lainnya tidak berkenan. Padahal, kesalahan itu toh murni terjadi karena tidak disengaja. Sebagai manusia kita pasti berusaha untuk menghindari semua kesalahan. Sayangnya itu sulit untuk dilakukan.

Banyak orang bilang, batasan kesalahan itu adalah sebagai sarana untuk mengingatkan atau seberapa jauh kesadaran kita tentang kesalahan itu. Tapi batasan kesalahan itu seharusnya tetap memberikan kebebasan hak bagi seseorang untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Jadi kesalahan bukan kebodohan, kesalahan adalah manusiawi. Setiap manusia pasti pernah melakukannya. Baik kita sadari atau tanpa kita sadari. Kita justru harus membangun kepercayaan seseorang untuk berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir kesalahan itu.



Tuesday, January 18, 2005

Pelintiran

Di kantorku bekerja seringkali berita yang tampil di koran adalah berita pelintiran. Tapi di kantorku sama sekali tidak dikenal istilah pelintiran yang kami kenal adalah penajaman. Euphimisme untuk sebuah kepentingan komersil. Kita lupa bahwa berita adalah fakta, sedangkan pemelintiran ataupun penajaman justru telah menggeser berita menjadi opini.

Opini yang tidak bisa dipertanggungjawabkan justru tidak hanya merugikan konsumen atau pembaca, tetapi juga menyakitkan narasumber. Kredibilitas koran juga akan dipertanyakan. Padahal, koran selain berfungsi sebagai layanan publik, juga mempunyai tanggungjawab moral.

Berdasarkan argumen diatas, maka wajar aku mempertanyakan berita yang dibawa oleh UKY hari ini. Ia mengatakan bahwa Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menolak adanya Lembaga Swadaya Masyarakat Kristen ada di Aceh. Alasannya, LSM Keagamaan dicurigai mempunyai misi lain di Aceh. Misalnya, kasus WorldHelp yang baru-baru ini terjadi.

Mendengar hal itu aku terperanjat, bagaimana seorang Din Syamsuddin mengeluarkan pernyataan sekonyol itu. Bukankah dia adalah seorang tokoh Lintas Agama yang selalu mengampanyekan toleransi dan penghormatan terhadap pemeluk agama lain.

Setelah aku cecar dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, UKY baru mengakui bahwa Din Syamsudin memang tidak bicara seperti itu. Ia hanya merasa perlu mengubah kalimat Din, karena menganggap dari situlah pernyataan Din mempunyai nilai berita. Jelas ini adalah kesalahan besar, bagaimana jika berita itu naik cetak di koran. Betapa kita tidak bertanggungjawab dengan efek yang ditimbulkan oleh berita itu.

Jelas ini bukan lagi pelanggaran kode etik wartawan. Tapi pelanggaran dan ketidaktahuan terhadap fungsi dan tujuan pers. Sekali lagi kawan, kita memang harus belajar banyak soal kebebasan dan tanggungjawab.


Monday, January 17, 2005

Elegankah Mereka?

Kata siapa pers bisa independen, kata siapa pers bisa berdiri tegak diantara keberpihakan. Di tengah industri pers yang berkembang pesat ini, tiada itu semangat kesetiakawanan diantara insan-insan pers. Contoh baik, lihat saja Majalah Tempo, edisi 17-23 Januari 2005 halaman 92 yang berjudul “Cara Lurus Meluruskan Berita” .

Berita yang ditulis oleh seorang wartawan senior bernama Stepanus S. Kurniawan ini benar-benar mencontohkan bagaimana pers itu ternyata berpihak dan tidak setiakawan.

Berita itu menceritakan bagaimana perwakilan SBY-Kalla, mendatangi kantor KOMPAS dan kantor Rakyat Merdeka, tempat aku bekerja untuk meluruskan masalah berita yang pernah kami buat jadi Headline halaman depan dengan judul Presiden dan Wapres Bisa Perang Terbuka. Saat itu SBY, mengirimkan juru bicara kepresidenan Andi Malarangen, Dino Pati Jalal dan Menteri Komunikasi dan Informasi, Sofyan Djalil.

Teknisnya, mereka memang benar melakukan langkah tersebut. Sayangnya, mereka tidak pernah mengupas fakta bagaimana mereka menyampaikan keberatan mereka. Arogan dan sangat memaksa.

Aku memang saat itu tidak terlibat langsung. Namun, aku sadar kalau saat itu ada pertemuan penting di lantai 8. Yang ada saat itu hanyalah temanku, Zikrie. Ia sengaja terlibat karena dialah yang membuat berita itu.

Dari mulut Zikrie aku tahu kalau ketiga orang itu memang sangatlah arogan. Mereka tidak pernah mau membahas bagaimana berita itu keluar. Mereka hanya mau hak jawab mereka dimuat dan dengan ukuran yang sama seperti koran yang kita buat. Secara tidak langsung mereka menggunakan kekuasaan dan otoritas mereka untuk pemaksaan hak.

Mereka justru sama sekali tidak memberikan fakta-fakta yang kuat bahwa tidak ada perang terbuka antara Presiden SBY dengan Wapresnya, Yusuf Kalla. Justru sebaliknya, berita yang kami muat tidak datang dari sebuah opini belaka. Kita tahu secara nyata bahwa hubungan SBY dengan Kalla memburuk ketika Kalla menandatangani SK Presiden No 1 tahun 2004 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat.

Apakah Yusuf Kalla tidak tahu, bahwa tugas seorang Wapres hanyalah berhubungan dengan hal-hal yang bersifat acara. Ia tidak punya hak untuk menghasilkan sebuah surat kenegaraan. Ini bukan bukti pertama, bukti lainnya banyak sekali. Mulai dari dominasi Jusuf Kalla yang tidak memberi ruang kepada SBY untuk terlibat dalam penanganan Aceh hingga ketika Kalla menghindar untuk bertemu dengan SBY, seusai SBY mengadakan kunjungan ke Aceh.

Jadi jangan tertipu dengan cara elegan mereka menyembunyikan fakta. Hak jawab menurut anggota Dewan Pers, Hindca Panjaitan harus disertai bukti kuat tentang pokok permasalahan.

Sunday, January 16, 2005

Kesepian

Selama satu hari kemarin, aku hanya bisa berdiam diri di rumah. Tidak ada satu orang pun yang menemani. Mama dan Papa pergi ke Lampung untuk menjemput adikku, Hari. Sedangkan keponakanku Ririn dan Mamanya, juga belum kembali dari kerjanya. Saat itu, aku tahu apa artinya sendiri. Tiada teman, tiada tempat untuk berbagi. Hanya acara-acara televisi yang setia menemani.


Aku sadar, bahwa hidup ini memang selalu kita jalani seorang diri. Dimulai ketika kita lahir di dunia ini, sampai akhir kita mati, kita selalu sendirian. Namun, aku takut akan kesendirian. Aku takut melewati semua tahapan di dunia ini tanpa seorang teman. Aku butuh seorang teman. Bukan hanya mengisi kesepian hari ini, namun juga tempat untuk memahami kekosongan jiwa ini.

Teman, mungkin tidak akan bisa dibawa mati. Teman, memang hanya ada di dunia ini. Tapi alangkah indahnya berteman, jika kita bisa mengisi dunia kita ini dengan segala warna-warni. Hargailah teman, bencilah ke

Tuesday, January 11, 2005

Kosong

Tersentak melihat gelap semakin dekat
Melihat tangan yang terasa hampa
Takut pun melanda
Suasana semakin kelam
Sedangkan jiwa kosong
Terdiam

Di kasur ini
Aku memang sendiri
Berteman sepi yang tiada bertepi
Selintas perasaan ingin mati

Betapa kelamnya kematian
Sama halnya dengan kehidupan
Jika memang tak punya harapan

Berlari pergi mencari asa
Di dalam setumpuk jerami masalah
Pupus sudah tiada jua....




Monday, January 10, 2005

Bahasa Tubuh

Bahasa Tubuh, bisa dibilang adalah suatu bahasa yang universal. Semua orang bisa mengartikan gesture seseorang dari perilakunya ketika berbicara, bermesraan atau bahkan ketika beradu argumentasi. Tapi tidak semua bahasa tubuh bisa diartikan begitu saja oleh setiap orang. Perbedaan persepsi manusia membuat terjadinya perbedaan pemahaman soal bahasa tubuh.

Orang memang bisa mengerti bagaimana respon seseorang terhadap hal yang menjijikkan melalui mukanya. Juga bisa tahu seseorang berbohong melalui pupil mata yang secara otomatis mengecil. Itu semua terjadi secara refleks. Tanpa disadari dan tanpa disengaja. Bahkan dilakukan tanpa maksud-maksud tertentu.

Hanya saja kesalahpahaman membaca bahasa tubuh terjadi karena prasangka atau praduga yang berlebihan. Tanpa lebih dulu mengenal latar belakang seseorang, maka sulit bagi kita untuk memahami bagaimana bahasa tubuh mereka. Si Fulan yang agresif tentu akan memicingkan matanya jika merasa terganggu. Namun, si Fulanah yang pemalu tentu akan memegang kepalanya atau menundukkan kepala jika ia memang tidak senang diganggu.

Bisa diartikan, jika orang salah mengartikan bahasa tubuh orang lain. Maka dipastikan ia tidak mengenal dengan baik orang itu. Mudah-mudahan ia dugaan ini tidak benar, dan bisa jadi kesalahan karena kurangnya pemahaman persepsi bahasa tubuh.

Friday, January 07, 2005

Manusia selalu tersandung hanya karena kerikil, bukan batu besar. Sejak pertamakali membeli motor, aku selalu bangga karena motorku tidak pernah mengalami ban bocor. Namun, prestasi tanpa cacat selama 14 bulan itu lenyap sudah. Kemarin, ketika hendak pulang kantor, ku dapati ban belakangku bocor. Alhasil, aku terpaksa mendorong motorku untuk segera ditambal.

Alhamdulillah, di sebelah kantorku hanya berjarak 100 meter ada bengkel tambal ban. Aku pun tak perlu berkeringat lebih banyak seperti orang-orang lain yang merasa kepayahan jika tahu ban motornya bocor.

Di bengkel tambal ban itu aku hanya menghabiskan waktu selama 20 menit. Tak lama memang. Namun, aku sangat terperanjat ketika mengetahui penyebab bocornya ban belakang. Tukang tambal ban memperlihatkan beling kecil yang menempel di ban itu.

Astaga, beling itu jauh sama sekali dari dugaanku. Semula aku mengira akan mengalami bocor ban karena melindas paku-paku besar atau beling-beling besar. Tapi beling yang benar-benar kecil itu justru mematahkan semua itu.

Selintas aku teringat, beling itu adalah beling dari sebuah botol yang aku jatuhkan di malam ketika aku muntah-muntah. Karena terburu-buru ke kamar mandi, aku menjatuhkan botol itu di dapur. Karena malas, aku memang tidak sempat untuk membersihkan semua beling itu. Saat itu aku sama sekali tidak peduli kalau beling itu nantinya akan melukai orang yang lewat di dapur.

Memang akhirnya aku membersihkan juga. Seadanya, aku membuang beling-beling besar yang aku pikir akan mencederai orang yang lewat. Aku lupa bahwa beling-beling yang besar bisa dilihat oleh mata, sedangkan beling yang kecil sulit sekali kita raba. Hasilnya, karena sebuah beling kecil aku terpaksa mendorong dan menambal ban belakang motorku.

Manusia memang selalu lengah bukan karena hal-hal yang besar, kita selalu tersandung dengan hal-hal kecil yang sama sekali tidak pernah kita duga sebelumnya. Ada baiknya kita selalu membuka mata dan hati kita agar selalu mawas diri dan waspada.

Wednesday, January 05, 2005

Kisah Dokterandus

Namanya Yatno, tapi semua orang di kantor ku kerap memanggilnya dokterandus. Entah, kenapa bisa julukan itu diberikan kepadanya. Padahal ia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan. Hanya saja hal itu tidak pernah membuat setiap orang berhenti memanggil dia dengan sebutan dokterandus.

Langkah kaki dan badannya yang terbungkuk-bungkuk bisa dilihat sudah berapa lama dokterandus bekerja di kantor ini. Setahuku ia sudah puluhan tahun ada di sini jauh sebelum aku masuk kantor. Malah ada yang bilang kalau ia ada di kantor ini sejak BM Diah mendirikan Koran Merdeka.

Umurnya yang sudah tua membuat ia sudah tidak pantas lagi disebut sebagai seorang service boy. Kesenioritasannya di kantor ini jauh melampaui para redaktur yang ada di lantai 9 ini.

Kehadirannya memang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Mulai dari minta dibelikan makan siang sampai menyediakan air galonan untuk diminum. Keahliannya memijit selalu digunakan oleh setiap orang yang merasa kelelahan karena bekerja. Tangan-tangannya yang ringkih itu padahal sulit sekali untuk digerakkan. Napasnya yang tersengal-tersengal selalu memburu ketika ia berusaha dengan keras memuaskan setiap orang dengan pijitannya itu.

Entah kenapa beberapa hari ini ia menghilang. Sosoknya yang kecil mungil itu sama sekali tidak beredar di lantai ini. Tidak ada lagi air galonan yang ia isi, tidak ada lagi pijitan khas yang ia berikan kepada kami. Tapi aku dan orang-orang lainnya tidak peduli dan seakan-akan tidak memikirkan keberadaan dirinya.

Sampai di hari kemarin, seorang pegawai mengedarkan sebuah daftar sumbangan dengan informasi bahwa si dokterandus masuk rumah sakit. Paru-parunya membengkak, membuatnya kesulitan bernafas. Mau tidak mau dokterandus harus berhenti bekerja dan mendapat perawatan intensif.

Sayangnya, hanya sedikit orang yang memberikan bantuan kepadanya. Dari ratusan orang yang ia beri minum, hanya ada 10 orang yang memberikan sumbangan. Sangat jauh berbeda dengan pengorbanannya kepada kita, walaupun hal itu tak pernah kita sadari.

Aku sendiri diam terpaku, dokterandus yang sudah bekerja selama puluhan tahun hanya dihargai sekecil itu saja. Lalu bagaimana dengan aku yang hanya menapakkan kaki di gedung ini selama dua tahun. Ataukah ini memang nasib bagi orang-orang kecil, yang memang tidak akan pernah mendapatkan penghargaan dan penghormatan.

Kita bersenang-senang sementara orang lain yang telah bekerja bagi kita dengan kemampuannya justru sengsara diatas kesenangan kita. Semoga cepat sembuh dokterandus, mudah-mudahan kamu bisa lagi mengangkat bahumu di gedung yang pongah ini.

Sunday, January 02, 2005

Tahun Kesunyian

Tiba-tiba saja tahun 2005 ini sudah hampir lewat satu minggu. Jika kita bayangkan, satu tahun ini mungkin terasa lama. Kita harus melewati rentetan 365 hari, 8760 jam, dan 12.614.400 menit. Dan itu semuanya terangkum dalam satu kata 1 Tahun.
Gabriel Marquez, pernah menciptakan sebuah novel yang berjudul Seratus tahun kesunyian. Dalam kisah itu, ia menuturkan kisah seorang wartawan dalam memerangi rezim totaliter yang terjadi di Argentina. Tanpa kawan dan tanpa perjuangan berarti si wartawan itu menjalani hidup yang penuh kesunyian. Solitude.
Awal tahun ini memang tidak berjalan dengan mulus bagiku. DI hari pertama, peristiwa besar terjadi, Aceh kena gempa. Jumlah korban yang diduga hanya sedikit, kini hampir mencapai angka 100 ribu. Terbesar dalam sejarah, sebelumnya gempa dan tsunami yang terjadi karena Gunung Krakatau meletus, hanya memakan 36.000 jiwa.
Awal yang tidak mengenakkan ini juga berpengaruh dengan diriku. Beberapa hari ini semuanya seakan terpengaruh oleh peristiwa di Aceh. Mulai dari keuangan yang semakin menipis, ini malah menurutku adalah bencana yang terbesar, hingga kurang baiknya hubungan dengan Orangtua.
Sampai sejauh ini memang itu semua tidak akan memakan korban seperti halnya Aceh. Namun, peristiwa ini akan ku alami selama satu tahun di 2005 ini. Memang benar-benar sunyi tahunku ini. Sebelum itu semua memakan korban, aku harus bersiap untuk hal yang terburuk.


Saturday, January 01, 2005

Happy New Year

Waktu terus berputar, benar. Tahun akan berganti, pasti. Hidup terus berjalan, apalagi. Umur bertambah sejalan kematian yang makin mendekat, itu niscaya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun terus terlewati, bak roda ia terus berputar. Repetisi, tanpa sebuah resolusi.

Apa sih arti Tahun Baru? Perputaran rotasi bumi yang nyatanya memang adalah sebuah realitas berubah menjadi mitos ketika masyarakat mengisinya dengan sebuah acara pesta. Terompet, klakson mobil yang memekakkan, kembang api yang meledak di atas angkasa, dan ketawa cekikian wanita gatal dalam pelukan pria, jadi sebuah ritual magis perayaan Tahun Baru.

Di tempat lain, semua orang berdoa, berzikir, bersumpah atau apalah yang mungkin dijadikan sebagai langkah awal baik untuk berharap. Di tempat-tempat megah ibadah itu menjadi mulia dalam kacamata mereka. Padahal toh tidak ada gunanya setelah itu. Sesudahnya mereka lupa dan kembali pada kemewahan dan kemegahan. Rentetan waktu membuat mereka lupa, bahwa doa adalah mulia.

Apa sih artinya bagi Tahun Baru? Keseimbangan kah, apakah ini memang semacam paradoks yang selalu berulang di malam tahun baru. Ada yang ingin berpesta di malam tahun baru, dan ada juga yang ingin mensucikan diri di malam tahun baru. Di tahun baru justru kita lupa akan keseimbangan alam yang lainnya. Di tengah kegembiraan pasti ada kesedihan. Kita lupa akan realita, bahwa kemiskinan dan kepedihan selalu terjadi di muka bumi ini.

Atau kita memang tidak pantas perduli. Toh, ini kan Cuma satu hari. Karena masih banyak hari lain untuk memikirkan hal itu. Well I hope we don’t do that. Happy New Year 2005.

Wednesday, December 29, 2004

4 Tahun

Setelah empat tahun bersama dengannnya, entah kenapa mulai timbul jarak yang lebar. Sulit sekali berkomunikasi dengannya akhir-akhir ini. Entah, mungkin karena kesibukan kita atau mungkin karena memang ketidakpedulian kita berdua.

Terakhir bertemu dengannya dua minggu lalu. Kala itu dia sakit cacar. Aku sengaja datang ke rumahnya untuk melihat keadaannya sekaligus menunjukkan bahwa aku peduli. Sayangnya, harapan memang selalu jauh dari kenyataan. Mungkin karena sakit, ia tidak terlalu antusias melihat kedatanganku.

Padahal, saat itu bisa saja penyakit yang ia derita bisa menular kepadaku.

Setelah itu, aku berusaha mencoba untuk berkomunikasi dengannya. Namun, ternyata ia juga seakan tidak peduli. Ia terlihat cuek dan hanya menunggu pertanyaan dan menjawab seperlunya.

Setelah empat tahun, apakah ini semua akan berlalu. Masa-masa indah yang dulu pernah kualami bersamanya, apakah jadi tinggal kenangan.

--------

Sampai hari ini Aceh terus menangis. Sumbangan mengalir tapi masih sulit untuk sampai ke tangan-tangan korban bencana. Bayi-bayi yang kelaparan dan dihantui penyakit bisa jadi korban selanjutnya. Bukan karena keganasan alam, melainkan lambatnya bantuan datang.

Acara-acara kepedulian marak, semarak pesta perayaan tahun baru. Artis-artis berkumpul mengeluarkan air mata, semuanya bersedih. Elit politik berteriak sana-sini, semuanya minta masyarakat memperhatikan Aceh. Padahal tanpa disuruh pun kita pasti memperhatikan.

Sumbangan mengalir, ratusan miliar mungkin sudah ke Aceh. Sementara Sutinah, tetangga samping rumahku masih kelaparan. Aku terenyuh melihat karikatur Om Pasikom di Harian Kompas beberapa hari ini, Apakah dengan Penderitaan Seperti Ini kita merasa satu saudara?

Suatu hari kita akan lupa tanggal 26 Desember lalu adalah bencana nasional, begitu tahun baru menjelang Aceh pun dilupakan berganti dengan kesenangan.

Tuesday, December 28, 2004

Aceh

Tragedi gempa dan tsunami di Aceh menjadi headline setiap koran hari ini. Aceh kembali menjadi pusat perhatian nasional. Sekali lagi masalah tidak pernah pergi dari Aceh. Mulai dari masa pengoperasian DOM di era Soeharto, darurat militer melawan GAM, kini gempa jadi senjata pamungkas memporak-porandakan Aceh.
Derita itu mungkin memang tidak akan berakhir. Di depan mata masyarakat Aceh sudah terbentang tugas-tugas besar. Membangun kembali kampung halaman mereka yang tercinta.

Semua teman-teman wartawan hari ini juga berangkat ke Aceh. Daerah di ujung Sumatera itu memang selalu memberikan kesan yang sangat romantis bagi siapa saja. Temanku dari Detikcom, Rizal Maslan malah mengakui dia sangat ingin kembali ke Aceh. Kali ini dia memang tidak dapat giliran ke Aceh, tapi dia mungkin beruntung. Sebab kondisi kali ini sangat jauh lebih parah dibandingkan masa darurat militer.

Wartawan koran gue, Ahmad Yani juga berangkat ke sana. Dia berangkat hari ini bersama rombongan Pemda DKI Jakarta. Dijadwalkan, dia akan tinggal selama tiga hari di Aceh. Sesaat mendengar keinginannya untuk pergi, aku terbayangkan suasana yang kacau balau di Aceh. Listrik yang padam, air minum yang terbatas, dan sarana transportasi yang terbatas. Bahkan tidak ada hotel di Aceh. Dipastikan Yani akan mengalami lingkungan baru yang sangat keras disana.

Tapi aku sangat mendukungnya. Pergi ke Aceh adalah salah satu pengalaman dalam hidupku yang aku inginkan. Walaupun aku belum pernah menjejakkan kaki di tanah Rencong itu, pikiranku selalu ada disana.

Monday, December 27, 2004

Bisul di Kaki

Tuhan melarang kita untuk berlebih-lebihan. Hampir di segala bidang, Tuhan meminta kita untuk bersikap wajar dan selalu bersyukur terhadap apa yang kita punya. Peringatan itu memang benar adanya. Berlebih-lebihan membuat diri kita menjadi takabur, membuat kita lalai, bahkan berlebih-lebihan juga bisa membuat kita jadi orang yang rakus.

Memang tidak dilarang untuk mempunyai suatu kelebihan. Namun, tak selamanya mempunyai kelebihan itu mengenakkan. Bisa kita bayangkan perasaan seorang Spiderman yang hampir merasa bosan dengan kelebihannya. Ia merasa lepas dari jatidirinya sendiri.

Dua hari ini aku juga diberkati sebuah kelebihan, sebuah daging lebih nongol di kaki kananku. Bisul, tepatnya. Tiba-tiba saja bisul itu nongol dan membuat langkah kakiku jadi terasa berat. Semuanya serba tidak enak. Padahal bisul itu baru numbuh di kakiku? Bagaimana coba kalau bisul itu ada di tempat lain, misalnya pantatku. Pasti kerepotan kan?

Alhamdulillah, kelebihan yang satu ini tidak membuatku buta. Aku hanya berpikir, jika kelebihan bisa sesakit ini, maka tidak ada orang yang selalu berdoa untuk menjadi lebih bagi orang lainnya. Kecuali masalah keimanan mungkin.





Wednesday, December 22, 2004

Pernah kah kamu meragukan agama yang kamu anut. Sebagai manusia normal tentu kita pernah menanyakan apakah fungsi agama bagi hidup kita. Apakah agama itu dibuat hanya untuk membuat manusia jadi orang baik dan bermoral? Ataukah hanya menjadi sumber kehancuran dan pertikaian sesama manusia.

Pernah, di suatu saat ketika aku benar-benar tidak mengenal agama, aku hidup layaknya tidak punya arah tujuan. Hidup berjalan seperti biasa, namun tak pernah mempunyai nilai-nilai hidup. Saat itu aku tak pernah berpikir bahwa dalam setiap hidup kita, pasti ada nilai-nilai hidupnya. Dan disanalah kutemukan apa yang namanya Agama.

Agama membawa diriku untuk memahami bahwa apa yang kita lakukan benar-benar harus kita cermati dengan matang. Agama membawa ku pada pemahaman bahwa hidup manusia akan lebih bernilai dengan hal-hal yang bermanfaat.

Namun, sayang banyak pemuka agama sekarang melabeli konsep itu dengan jargon-jargon pahala dan siksa. Akhirnya semua orang yang beragama seperti main hitung-hitungan dengan Tuhannya. Mereka beribadah hanyalah untuk mengharapkan balasan dari Tuhannya.

Tadi malam aku merasa lucu dengan perkataan Hughes dalam acara Tali Kasih di RCTI. Dia mengatakan bahwa hidup adalah seperti menggendong ransel. Dalam setiap hidup kita harus beramal agar dapat mengisi ransel itu. Tujuannya kita merasa aman dan nyaman jika hidup di hari akhir nanti.

Tidak ada yang salah memang dengan kalimat-kalimat itu. Namun, aku tertawa dalam hati, kenapa hidup itu jadi seperti ransel yang harus kita isi dengan amalan ibadah. Yang nantinya akan digunakan oleh mereka sebagai deposito amal menuju surga.

Aku justru merasa hidup adalah ladang hidup kita. Kita menyemainya dengan seluruh amalan hidup kita. Baik atau buruk. Nantinya, kita sendiri yang akan memperoleh hasilnya. Bukan karena rasa hutang budi Tuhan kepada kita. Alangkah sombongnya manusia jika merasa seperti itu.

Tuesday, December 21, 2004

Masa Kecilku

Jalan hidupku memang tidak seindah dan semenarik jalan hidup orang lain. Jika diibaratkan dengan garis lurus, maka hidupku hanyalah sebuah garis horizontal. Datar, panjang dan melelahkan. Tak ada riak-riak kehidupan yang bisa membuat garis itu jadi gelombang atau jadi lembah yang curam.

Setiap manusia pasti mempunyai kenangan yang indah dalam hidupnya. Begitu juga aku, jika ditanyakan momen dimanakah yang paling teramat istimewa bagiku, mungkin aku akan mengatakan semuanya ada di masa-masa kecilku.

Masa-masa itu memang sangat istimewa bagiku. Semuanya selalu terlihat abu-abu dan terkesan lugu. Bahkan aku sulit untuk meraba jalan ceritanya. Masa-masa itu bagaikan malam yang kelam yang membuatku sulit untuk berjalan.

Aku hanya bisa mengetahui masa-masa kecilku melalui foto-foto album milik keluargaku. Ketika melihat foto-foto itu aku memang sulit untuk mengingatnya. Sulit untuk menerka dimana aku kala itu. Ataukah itu bukan aku dan orang lain yang menjadi aku. Tapi aku tahu kalau saat itu aku merasa bahagia.

Jiwaku saat itu bukanlah jiwa yang kupunya saat ini. Jiwa yang hanya melihat dunia dengan kacamata fantasi. Kacamata yang selalu membuatnya hanya mengenal tangis dan tawa. Tak ada rasa lain hanya itu. Kini dimanakah jiwa itu?

Aku mulai bisa meraba kenanganku ketika aku ada di sekolah dasar. Saat itu aku selalu menangis ketika ditinggal orang tua kala belajar. Disaat itu pula aku pertamakalinya mengenal rasa takut bagi seorang manusia normal. Bukan seorang anak-anak.

Aku merasa ketakutan karena jika tidak bisa menjadi rangking pertama di kelas. Jika gagal, aku merasa bahwa aku telah menggagalkan seluruh harapan orang tuaku. Oh, bisakah rasa itu kembali. Semuanya memang terasa ironis, dulu aku takut mengecewakan mereka kenapa kini aku malah membantahnya.

Aku tahu dari semua kenangan itu aku mulai mengerti. Manusia adalah bentuk dari proses panjang menuju kesempurnaan.

Ia selalu meninggalkan jiwa-jiwanya dalam setiap tahap kehidupan. Jiwa-jiwa itu terbang bebas menjadi kenangan. Serta menjadi sebuah jalan yang akan membawa kita pada kesempurnaan. Namun, terkadang jiwa itu selalu terbang dan tak pernah kembali jika kita tak pernah melihat ke belakang.

Jika aku melihat ke belakang saat ini. Di depan meja komputerku aku berpikir siapakah jiwa yang ada di tubuhku saat ini? Apakah aku sama dengan jiwa-jiwaku yang dulu?

Monday, December 20, 2004

Dongenganku

Tadi malam aku tidur dengan keponakanku, Batara. Aku sengaja untuk meminta ia untuk tidur denganku, karena memang aku ingin sekali berbicara dengan dia. Di umurnya yang baru 5 tahun ini, Batara memang jadi anak yang tergolong super nakal. Sebagai pamannya aku memang terusik, aku ingin sekali dia menjadi seorang anak yang baik dan patuh pada orang tua. Mungkin agak memaksakan, tapi memang setiap orang tua pasti ingin mempunyai anak yang patuh dan baik hati.

Sebelum ia tidur aku memang ingin memulai suatu kebiasaan baru yang tidak pernah dilakukan oleh orang tuanya. Aku ingin menceritakan kepadanya tentang dongeng sebelum tidur.

Aku percaya, bahwa budaya bertutur dan bercerita adalah cara yang paling baik untuk mempengaruhi seseorang. Cara ini lah yang aku coba untuk bisa mempengaruhi satu-satunya ponakan laki-laki ku itu.

Sebelum ia terlelap aku menceritakan sebuah kisah zaman dulu yang telah aku modifikasi. Saat aku bercerita ia memang tidak begitu memperhatikan, tapi ternyata dibalik ketidakpeduliannya ia sangat tertarik dengan ceritaku. Dengan seksama ia memperhatikan semua apa yang ku katakan. Bahkan setelah cerita itu selesai, ia meminta aku untuk bercerita lagi.

Kala itu ia meminta aku untuk bercerita tentang Dinosaurus. Ia memang sangat senang dengan Dinosaurus. Saat itu aku bingung apa yang aku ceritakan tentang Dinosaurus kepadanya. Menyadari kebingunganku, ia langsung mengeluarkan komiknya yang berjudul Dinosaurus. Ia memintaku untuk membacakannya. Saat aku membaca ia malah tampak lebih antusias mendengar daripada cerita yang pertama.

Akhirnya, ia memang tertidur. Tak terbayangkan, kalau aku bisa menceritakan sebuah cerita dongeng sebelum tidur untuk ponakanku. Mudah-mudahan aku bisa bercerita lagi untuknya di malam ini. Atau di malam-malam nanti.

Sedikit Mengenang

Dulu aku sering bertemu dengan Harry Roesli. Dalam setiap kesempatan liputan, aku selalu melihatnya berdiri tegak dengan baju hitam dan rok warna hitam. Mungkin itu kostum satu-satunya yang ia miliki.

Dia memang selalu berbeda dengan orang-orang lainnya. Posturnya yang tinggi besar membuat ia terlihat menonjol dibanding orang lainnya. Ia memang senang menjadi berbeda. Bahkan lagu-lagu yang ia hasilkan mencerminkan sifatnya yang mau berbeda itu.

Tapi bukan karena itu aku selalu senang melihat dirinya. Aku menyenanginya karena sifatnya yang blak-blak dan bebas. Ia mau berkata apa saja tanpa merasa terbatas. Bahkan jika ia bisa melawan gravitasi mungkin ia bisa terbang.

Ketika aku mendapati dirinya meninggal, jujur aku memang bahagia. Selain karena aku mendapat bahan untuk dijadikan berita, aku juga merasa bahagia karena dia telah abadi. Ya, seperti lagu-lagunya yang terus didendangkan, nama Harry Roesli selalu terekam dalam benak saya dan jutaan orang lainnya.

Aku teringat satu tahun yang lalu. Ketika ia manggung di News Café Kemang. Ia juga ada disitu bersama teman-teman Depot Kreasi Seni Bandung-nya. Dengan lagu masterpiece miliknya yang berjudul Politikus Busuk, ia terlihat sehat. Sama sekali tidak terlihat kalau ia menderita penyakit jantung kronis.

Kala itu aku mendapat kesempatan langsung untuk berbicara dengannya. Dengan teman-teman lain aku menanyakan kepada dirinya soal pemilu, calon presiden, bahkan soal KTP. Dari situ aku baru tahu kalau dia tidak ikut pemilu bukan karena tidak ada calon presiden. Ia tidak ikut pemilu karema ia memang tidak punya Kartu Tanda Penduduk.

Seusai wawancara aku dan teman-teman sengaja meminta untuk foto bersama. Padahal, jarang sekali aku mengajak seorang narasumber untuk foto bersama. Namun, kali ini lain aku memintanya. Mungkin karena ia istimewa, atau memang aku belum pernah punya foto orang terkenal.

Seperti foto yang merekam kejadian itu, tulisan ini aku tulis memang sengaja untuk mengingatnya. Aku ingin jadi bagian dari orang yang mengabadikan dirinya di dalam pikiranku. Salam kang Harry….

Sunday, December 19, 2004

Nama

Sabtu kemarin, ponakanku yang baru lahir. Saat lahir ia menangis, seperti jutaan bayi lainnya. Wajahnya putih dan rambutnya hitam. Kakakku amat bersyukur karena ia berhasil melewati proses yang amat menyakitkan itu.
Diantara semua kebahagiaan itu, saat ini semua keluargaku tengah sibuk-sibuknya mencari nama bagi ponakanku ini. Mama sibuk mencari nama-nama yang berbau batak. Sedangkan, kakak-kakakku yang lainnya juga kebingungan mencari nama. Bahkan mereka sudah merencanakan untuk membeli anting bagi bayi perempuan itu.
Saat mereka berdiskusi untuk memberikan sebuah nama. Aku justru merasa kebingungan. Nama itu sebenarnya harus cepat diberikan agar bisa dibawa pulang ke rumah kakakku.
Jujur, aku memang tidak terlalu memikirkan siapa nama ponakanku ini. Sama sekali tidak ada di pikiranku untuk memberikan sebuah nama kepada dia.
Aku hanya melihat bahwa nama hanyalah sekedar pemberian label kepada kita agar kita dengan manusia lainnya berbeda. Kamu bisa saja memanggil aku Brad Pitt tapi tetap saja orang mengetahui aku adalah aku.
Mudah-mudahan ponakanku baruku ini mepunyai hati yang seputih mukanya, dan mempunyai kekuatan semangat hidup sehitam warna rambutnya. AMin

Friday, December 17, 2004

Di Pagi Hari

Sudah tiga hari ini aku bisa mendisiplinkan diri untuk melakukan shalat subuh. Dan sehabis shalat biasanya aku langsung lari-lari pagi selama 30 menit. Lucunya, semakin hari kok semakin berkurang saja intensitasnya. Mungkin memang aku gak pernah terbiasa untuk itu. Aku terbiasa untuk menjalani hidup dengan santai, dan sulit untuk menghadapi hidup yang keras.

Hari pertama berlari mungkin adalah hari yang paling bagus. Sehabis, berlari aku menonton berita di televisi dan langsung membersihkan rumah. Setidak-tidaknya hari pertama berjalan seperti apa yang aku pikirkan. Esoknya, di hari kedua aku memang menambah jumlah putaran lari. Aku tetap menonton berita untuk menambah informasi, tapi setelah itu aku langsung tidur-tiduran. Aku lupa untuk membersihkan rumah dan mengepel lantai. Begitu terbangun, aku melihat Mamah sudah membersihkan rumah. Sedikit kecewa sih dengan tingkat disiplin yang gue punya.

Hari ini, jumlah lari berkurang. Sama seperti di hari pertama hanya dua putaran saja. Tapi masih bisa aku selingi dengan sekali-sekali melakukan tendangan-tendangan yang sempat aku pelajari di Tae Kwon Do. Namun, seperti biasa, aku ingin tidur di rumah. Tetap nonton televisi, tapi tetap tidur-tiduran. Untungnya, aku masih bisa bangun sebentar dan mencuci piring. Itu juga karena Bapak terus-terusan memanggil untuk membantunya memasukkan file di komputer.

Alhamdulillah, di hari ini aku sempat membaca buku, yang aku lupa siapa pengarangnya. Buku itu menceritakan tentang ibadah manusia dalam melunakkan hati. Tepatnya sih berperang melawan hati manusia yang punya segala macam praduga dan keinginan membabibuta.

Buku itu mengatakan bahwa segala amalan fisik yang dilakukan seribu kali tetap saja tidak berguna jika kita tidak bisa melunakkan hati kita terhadap Tuhan dan Manusia. Buku itu bahkan menjabarkan, bentuk-bentuk ketakaburan hati manusia terhadap Tuhan dan sesama manusia lainnya.

Berulangkali aku membaca ternyata ada bentuk-bentuk ketakaburan yang sesuai dengan hatiku. Sempat mengucap astaghfirullah, aku harus menyadari bahwa hati adalah gerbang pintu menuju Tuhan, maka ada baiknya aku menjaga itu semua dan memperbaikinya.

Oh iya, hari ini juga aku gagal untuk menjaga hawa nafsuku. Seperti biasa, aktivitas morning sickness kembali aku lakukan. Entah kenapa aku tiba-tiba saja teringat dengan Widia, anak IESP Unsoed Akt. 98. Mudah-mudahan aku bisa untuk mengendalikannya.



Sunday, December 12, 2004

Pollycarpus dan Lee Harvey Oswald

Banyak orang yang menduga bahwa salah satu pilot pesawat Garuda, Pollycarpus yang kebetulan berada satu pesawat dengan Munir, adalah pelaku pembunuhan aktivis pejuang HAM itu. Dugaan semakin kuat karena Pollycarpus lah yang mengajak Munir untuk bertukar kursi. Apalagi, saat ini berita terakhir mengatakan bahwa kaitan antara Pollycarpus dengan BIN, lembaga negara yang sering berseberangan dengan Munir, sangat erat.

Pollycarpus dikatakan mempunyai senpi yang memang khusus dikeluarkan oleh BIN. Apalagi Pollycarpus mempunyai latar belakang romantis bersama BIN. Ia kerap diperkerjakan oleh BIN, untuk mengevakuasi warga Indonesia dari Timor-Timur.

Keterlibatan Pollycapus dengan BIN serta tuduhan sebagai pembunuh Munir, sangat mirip dengan Lee Harvey Oswald. LHO, dituduh sebagai pembunuh Presiden Amerika, JFK. Padahal dari LHO, hanyalah bagian kecil dari suatu struktur besar yang membunuh JFK. Kita tahu ada tiga penembak ketika JFK tewas. Salah satunya bisa dibuktikan dalam film Interview With The Assasin, dimana David Ohlinger mengakui bahwa dia adalah the second shooter sedangkan LHO, sebagai penembak ketiga hanyalah jadi umpan.

Berdasarkan kejadian itu, mungkin Pollycarpus memang terlibat usaha pembunuhan Munir, namun pelaku sebenarnya dari pembunuhan itu bebas melenggang kemana saja. Pasti saja bisa berulang kan?