Thursday, April 13, 2006

Saya Tak Pernah Tidur Tenang

Semakin lama tekanan bekerja semakin menguat. Gara-gara pemimpin redaksi mengungkapkan kekecewaannya pada halaman kami, tekanan bekerja justru malah makin menjadi-jadi.

Awalnya, ada sedikit kemudahan yang diberikan pimpinan dengan menghapus halaman profil. Kebijakan itu memang sedikit membuat kita bisa bernapas lega. Soalnya, agak sulit juga untuk mengup-date berita dan di saat yang bersamaan harus juga memikirkan artis baru mana yang harus dijadikan profil,

Setelah dihapus, memang ada sedikit perubahan di halaman selebriti. Halaman yang semulanya kurang greget itu sekarang jauh lebih fokus. Dan isu-isu yang tengah jadi sorotan juga tidak pernah lepas dari bidikan.

Namun, rupanya yang namanya pimpinan itu sepertinya tidak pernah mengenal kata puas. Hanya butuh waktu tiga hari, mereka memutuskan untuk mengembalikan rubrik profil.

Keputusan mengembalikan halaman itu saya ketahui melalui SMS yang dikirimkan, redaktur saya. Terus terang, agak kaget juga membaca SMS itu. Sama seperti saya, redaktur saya juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya akan sikap pemimpin itu.

Dalam smsnya dia menulis, "kabar buruk halaman profil dimuat lagi terhitung besok".

Yah, ini memang kabar buruk, keberadaan halaman profil memang selalu jadi kabar buruk bagi saya. Tidak heran, ketika rubrik itu ada lagi, saya benar-benar tidak pernah tidur tenang dan nyaman.

Sejak, memutuskan bekerja sebagai wartawan saya memang tidak pernah lagi merasakan tidur nyaman. Mungkin, saya sendiri sudah lupa bagaimana tidur nyaman itu.

Bekerja sebagai wartawan, apalagi wartawan hiburan membuat saya harus bekerja overtime. Pulang ke rumah dini hari sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan, kalau bisa ketemu pagi lagi.

Tidur nyaman memang sudah tidak pernah saya rasakan lagi. Setiap tugas justru malah menjadi mimpi buruk bagi saya. Setiap malam, saya tertidur sambil memikirkan bagaimana dan apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi kuota halaman.

Saat ini apa yang saya alami mirip sekali dengan film The Machinist yang diperankan oleh Christian Bale. How you wake up from a nightmare while you were'nt sleep. Ya, bagaimana saya harus menghilangkan mimpi buruk ini karena mimpi buruk ini toh sudah jadi sebuah kenyataan bagi saya.

Monday, March 27, 2006

Where’s my Shocks?

Image hosting by Photobucket

Pake kaos kaki itu penting. Selain untuk kerapihan, kaos kaki penting banget dipakai guna menjaga kebersihan kaki dan juga menutupi bulu-bulu kaki yang biasanya memang gondrong banget.

Dari dulu gue memang enggak pernah lupa untuk menggunakan kaos kaki. Bahkan, kalau pun harus memakai sandal kulit, gue tetap mewajibkan diri untuk memakai kaos kaki.

Saking pentingnya gue selalu membeli kaos kaki yang harganya 10 ribu 5 pasang. Sebab, gue sadar bahwa kaos kaki yang dipakai terlalu sering mengeluarkan bau-bau tidak sedap.

Gue memang enggak pernah lupa untuk mengenakan kaos kaki, masalahnya, gue selalu lupa dimana menaruh kaos kaki. Entah kenapa gue selalu terbiasa menempatkan kaos kaki tidak pada sepatunya.

Otomatis, ketika hendak berangkat kerja, gue musti menguras kepala mencari tahu dimana gue letakkan kaos kaki itu.

Seperti pagi ini, dari tadi gue udah pusing mencari-cari kaos kaki yang gue pakai kemarin. Karena tidak ketemu juga otomatis gue mencari kaos kaki cadangan.

Sialnya, semua kaos kaki tengah dicuci. Jadi daripada enggak pake kaos kaki gue harus bisa menemukan kaos kaki yang gue pakai kemarin.

Sayang, setelah gue cari-cari kaos kaki itu enggak ketemu juga. Dengan perasaan kesal, gue akhirnya memutuskan untuk mencari kaos kaki di sepatu bapak gue. Gue pikir minjem sementara lebih baik daripada enggak pake kaos kaki.

Nah, waktu itu gue langsung menyambar sepatu kulit warna hitam yang lagi mejeng di bawah rak sepatu. Pas gue periksa, di situ memang ada kaos kaki. Dengan senyum kemenangan akhirnya gue langsung pakai aja tuh kaos kaki.

Setelah cium tangan dan cium pipi kiri kanan kedua orang tua, gue akhirnya langsung berangkat ke kantor.

Nah, lagi asyik-asyiknya naik motor, dan di tengah kemacetan jalan, tiba-tiba handphone fren gue berbunyi. Waktu itu yang nelpon bapak, karena gue berpikir lagi ada yang penting, gue langsung angkat aja tuh handphone.

Lucunya, begitu nyambung, bapak langsung ngomel-ngomel karena gue memakai kaos kaki tamu bapak yang nginep semalam. Bapak jadi kebingungan, karena temannya itu udah mau pulang ke rumahnya. Dan dia tidak bisa menemukan satu-satunya barang yang ia pakai… kaos kaki….!!

Karena sudah enggak bisa balik lagi, gue pun cuma bisa senyum-senyum aja. Soalnya, gue enggak tahu mau ngapain lagi, soalnya kaos kaki dia emang enak juga sih.

Saturday, March 25, 2006

Starbucks Gratis…? Pasti


Image hosting by Photobucket

Minum Starbukcs itu mahal. Makanya, saya enggak pernah membayangkan bisa minum-minum kopi impor dari negeri Abang Sam tersebut. Apalagi menjejakkan kaki di gerai-gerai Starbucks yang sudah mulai ramai.

Sebenarnya sih dari segi uang, harga Starbucks masih terhitung ramah dengan dompet. Hanya, saja saya masih enggak punya kepikiran untuk mengeluarkan uang Rp 15 ribu hanya untuk satu gelas kopi.

Namun, sebenarnya yang paling bikin saya enggan untuk menapakkan kaki ke Starbucks tidak lain karena imej Starbucks itu sendiri. Bagi saya masuk ke Starbucks itu sama aja bunuh diri.

Soalnya, badan saya sering keringetan dan bau matahari akibat berpanas-panasan mencari berita di lapangan. Jadi, kayaknya enggak cocok deh masuk ke Starbucks yang dikelilingi orang berbau wangi dan sibuk menghabiskan waktu ngomongin bisnis, politik, chit-chat, atau browsing internet.

Sekali-kali memang ada teman yang ngajakin nongkrong di Starbukcs. Namun, bukannya antusias, saya dan beberapa teman lainnya justru malah tertawa. Soalnya, ajakan itu sepertinya salah tempat.

Alhasil, saya memang tidak pernah bermimpi mencicipi kopi Abang Sam tersebut. Tapi, saya lupa, saya adalah seorang wartawan. Apa sih yang enggak bisa didapatin wartawan dengan gratis. Mulai dari nonton konser gratis, masuk ke Ancol gratis, hingga kena tilang polisi juga bisa gratis. (Yang terakhir jangan sering dilakukan).

Image hosting by Photobucket Image hosting by Photobucket


Nah, untuk urusan Starbucks, ternyata bisa gratis juga. Ceritanya, saya hendak meliput berita peluncuran buku scenario Berbagi Suami di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan.

Waktu itu liputan memang garing banget. Soalnya, sudah enggak ada hidangan buat ngemil, saya juga enggak dapat buku yang biasanya diberikan gratis bagi wartawan.

Entah kenapa si pengurus acara sepertinya bisa membaca wajah gue yang tengah kelaparan. Tiba-tiba saja mereka langsung memerintahkan pelayan-pelayan yang ada Starbukcs (sebenarnya ada sebutan khusus buat mereka, Cuma gue lupa apa namanya) agar secepat menghidangkan kue-kue dan kopi-kopi yang mereka punya.

Ketika hidangan itu datang, astaga, gue bener-bener tidak menahan tangan gue barang sedetik untuk meraih gelas-gelas kecil yang mereka bawa. Bahkan saking seringnya gue meminta, ada satu pelayan yang kayaknya sebel banget sama gue.

Soalnya, gue dan temen-temen gue yang lain termasuk rombongan yang paling rajin nyerobot tuh minuman. Total kalau enggak salah gue menghabiskan 7-10 gelas kecil Starbucks. Minumannya mulai dari kopi, green tea hingga minuman yang sulit gue sebutin. Soalnya, panjang banget nama minumannya.

Selain minuman, saya juga dipersilahkan untuk mengambil makanan-makanan kecil yang ada di Starbucks. Mulai dari cheese cake hingga enggak tahu lagi apa deh namanya. Pokoknya sulit banget nyebutinnya.

Belum cukup disitu, ternyata waktu pulang kita dikasih kejutan dengan diberikan satu gelas besar Starbucks yang bisa dibawa pulang. Nah, di sini nih letak lucunya.

Secara gue baru pertama kali minum Starbucks gue langsung keheranan melihat gelas plastic Starbucks yang diberi tutupan dan sebuah lubang kecil. Otomatis gue langsung nanya.

“Sedotannya mana nih?”

Serentak teman-teman langsung ngetawain gue. Mereka ketawa karena heran dengan pertanyaan gue, soalnya mana ada sih orang yang minum Starbucks pake sedotan.

Namun, rasa malu gue udah tertutupi dengan kenikmatan minum Starbucks dengan gratis.

Uniknya, ternyata perut gue itu masih belum terbiasa minum kopi-kopi impor ala Starbucks. Buktinya, setelah pulang dari lokasi acara, perut gue malah sakit. Memang, yang namanya gratis itu selalu makan korban atau butuh pengorbanan.

Tuesday, March 21, 2006

Berhadapan dengan Poligami

Image hosting by Photobucket

Judul : Berbagi Suami
Sutradara : Nia Dinata
Pemain : Elmanik, Jajang C Noer, Shanty, Rieke Diah Pitaloka, Ria Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo dan Dominique

Setelah menonton film Berbagi Suami hanya ada satu kata dalam benak saya, Puas. Selama lebih dari 1,5 jam di dalam bioskop saya benar-benar terhibur menonton film garapan sutradara Nia Dinata ini.

Saking puasnya, usai menonton saya berbicara kepada teman saya bahwa saya ingin menangis nonton film ini. Sebab, saya benar-benar kebingungan mencari cela film ini.

Padahal awalnya sebelum menonton film di benak saya sudah timbul banyak dugaan tentang Berbagi Suami. Saya sempat mengira bahwa film ini benar-benar berat dan akan sangat susah dicerna bagi penonton Indonesia.

Kedua, saya menyangka bahwa film ini akan secara langsung mendiskreditkan paham poligami yang memang sedang jadi bahan perbincangan paling hangat akhir-akhir ini. Bahkan saya sempat berpikir, apakah Nia Dinata hendak menjadikan dirinya pemilik kebenaran seutuhnya dengan mengatakan bahwa poligami itu benar-benar merugikan perempuan.

Ketiga, saya sempat menduga bahwa film ini akan sangat membosankan karena ada tiga buah cerita dalam satu film. Satu film drama saja sudah membuat saya bosan, apalagi jika ada tiga buah cerita.

Namun, begitu film ini dimulai, semua dugaan tersebut benar-benar luntur. Film Berbagi Suami adalah film yang sangat-sangat santai dan benar-benar menyenangkan. Tidak ada dialog yang bertele-tele dalam film ini yang bisa menyebabkan kita memicingkan mata dan berkerut dahi kepala. Tidak ada akting kaku yang kadang membuat kita sering tertawa saking lucunya.

Di film ini justru saya merasa seolah-olah tidak berjarak dengan mereka. Alur cerita berjalan dengan lancar dan tidak terbata-bata. Saya tidak pernah merasa ngantuk menonton film ini.Setiap bagian cerita mulai, rasa penasaran saya justru makin memuncak. Memang, ada bagian cerita Ming, menurut saya agak-agak di over dramatisir dan kurang penting.

Tapi bagi saya kelebihan utama film ini adalah karena Nia Dinata adalah orang yang benar-benar adil dan sangat berimbang. Meski film ini adalah film miliknya, privilidge Nia untuk mengatakan bahwa poligami itu salah benar-benar tidak terasa.

Ketiga cerita yang ada di film itu memang semuanya menjadikan lelaki sebagai pelaku utama dan penyebab terjadinya poligami. Namun, kesemua tokoh wanita yang ada di film tersebut mempunyai pandangan sendiri-sendiri mengenai poligami.Poligami terjadi bukan karena kehendak pria saja tapi juga karena wanita memang tidak mau untuk menolaknya dengan berbagai alasan. Hal ini mengingatkan saya pada prinsip hukum the victim guilty as the offender.

Salma (Jajang C Noer), seorang dokter wanita dan taat beribadah, menyikapi poligami sebagai suatu takdir. Dirinya beranggapan bahwa menerima poligami adalah suatu jaminan ke surga. Sebagai istri yang baik dan sholehah, Salma selalu berusaha membagi hatinya bagi anaknya, Nadim dan kedua orang istrinya yang lain. Salma yakin bahwa yang paling penting bagi dirinya adalah membahagiakan suami dan sang anak. Apapun yang ia hadapi dalam rumah tangga harus dihadapi dengan baik demi keutuhan keluarga.

Siti (Shanty), seorang gadis Ambarawa, tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menikah dengan Pak Lik-nya sendiri. Cita-citanya untuk menjadi seorang ahli kecantikan justru luluh lantak karena jadi istri ketiga Pak Liknya.

Hidup pada tradisi jawa yang mengedepankan unggah-ungguh, Siti tidak bisa menolak ketika dipinang jadi istri ketiga. Meski batinnya menangis, layaknya orang Jawa, Siti menyimpan luka itu dalam-dalam.

Namun, luka itu justru jadi api dalam sekam, bahkan membawanya pada cinta yang telah ia cari sebelumnya. Meski cinta itu bukan cinta yang normal, cinta itu justru membuat Siti jadi berani untuk melawan poligami. Dicintai seseorang memang membuat kamu kuat, namun mencintai seseorang membuat kamu berani.

Lain lagi dengan Ming, seorang pelayan seksi di restoran bebek bakar milik Koh Abun. Ming, justru beranggapan bahwa poligami adalah salah satu cara untuk mendapatkan semua cita-citanya. Poligami adalah jembatan bagi Ming untuk lepas dari kemiskinan, hidup akan kekayaan dan menggapai cita-citanya menjadi seorang artis terkenal.

Tidak seperti kedua wanita sebelumnya yang batinnya menolak untuk dipoligami, Ming justru merasa senang dan ikhlas dipoligami. Meski ikhlas, Ming ternyata tidak dapat status yang sama seperti halnya kedua tokoh sebelumnya. Koh Abun menutup-nutupi pernikahan mereka, dan membuat seperti pasangan yang tengah berselingkuh.

Dari ketiga tokoh di atas, poligami dari sudut pandang apa pun memang akan selalu merugikan wanita. Namun, wanita memang mempunyai kekuatan untuk menolak poligami. Hanya saja latar belakang, kebudayaan dan desakan-desakan agama membuat mereka sulit untuk menolak poligami.

Pesan akhir yang saya terima sendiri akan film ini adalah kita perlu merubah cara pandang kita akan budaya dan agama, agar kita bisa melihat poligami pada sisi yang sebenarnya.

Monday, March 20, 2006

Antara Lionel dan Jamrud


Dalam satu minggu terakhir ini saya memang seperti kedapatan berkah. Tiba-tiba saja redaktur saya menyuruh saya meliput konser All Night Long with Lionel Richie di Plennary Hall Jakarta Convention Center.

Awalnya saya ragu sekaligus was-was menanti orderan tersebut. Soalnya, banyak teman-teman sekantor yang memang sudah lama mengincar konser tersebut.

Saya memang enggak bisa memaksa redaktur saya agar menyerahkan tiket konser itu kepada saya. Soalnya, saya memang agak enggak enak juga jika meminta langsung. Soalnya saya takut sekali jika ada orang yang memang lebih kepengen nonton ketimbang saya.

Kalaupun jatah tiket itu tidak bisa didapat, saya memang sudah memantapkan diri untuk nekat nonton dengan membeli tiket jalur biasa. Lagipula, saya memang sudah ada pikiran untuk mengajak teman saya untuk menonton Lionel.

Menjelang konser saya memang agak was-was juga ternyata fax yang dikirimkan Buena Production tak kunjung datang. Dalam hati saya sudah berpikir kayaknya enggak bakalan mungkin bisa nonton dengan gratis.

Harapan saya makin pupus, ketika beberapa waktu lalu redaktur saya mengatakan bahwa fax dari Buena sudah datang, namun fax tersebut sudah enggak ada lagi di meja. Redaktur saya mengatakan bahwa fax itu mungkin aja diambil oleh desk lain.

Jujur, waktu itu harapan saya benar-benar hancur. Saya harus rela mengeluarkan sejumlah uang agar bisa menonton aksi penyanyi yang punya nama asli Lionel Brockman Jr itu.

Namun, yang namanya nasib memang tak bisa diubah. Tiba-tiba saja redaktur saya mengatakan bahwa fax nya sudah ditemukan dan lembaran konfirmasi tertuliskan nama saya. Artinya, saya yang meliput konser tersebut.

Hati saya seperti mau meloncat keluar mendengar berita tersebut. Akhirnya, mimpi saya untuk menonton konser kelas dunia bisa terwujudkan juga.

Nama Lionel Richie memang punya arti khusus buat saya. Lagu yang pertama kali saya pelajari untuk bernyanyi adalah lagu Hello. Waktu itu saya diminta untuk menyanyikan lagu Hello karena memang kemampuan suara saya hanya bisa sampai segitu.

Saya tidak bisa suara melengking tinggi layaknya Glenn Fredly. Jadi lagu-lagu bernada rendah adalah lagu yang harus saya nyanyikan.

Melihat langsung Lionel Richie memang tidak seperti melihat langsung artis-artis Indonesia lainnya. Lionel seperti memancarkan pesona tersendiri bagi saya.

Di pentas atau pun di depan konferensi pers, sikap Lionel tidak pernah berubah. Dia selalu ceria dan benar-benar rendah hati. Dia mampu merubah suasana kondisi menjadi benar-benar hidup.

Ketika menonton, Lionel benar-benar tak berjarak dengan penggemarnya. Baik penonton yang berada 3 meter depannya atau pun berjarak 30 meter sama sekali tidak merasakan ada jarak yang lebar di antara kita dan Lionel. Lionel seolah berdiri di samping dan menghibur kita with his everlasting love song.

Selain konser Lionel Richie, sehari sesudahnya saya juga dapat kesempatan lagi menonton konser ulang tahun ke 10 Jamrud di Ancol.

Menonton konser Jamrud mengingatkan saya kepada kita bahwa musik rock masih menjaga eksistensinya. Setelah digempur habis-habisan dengan musik dangdut ala Peterpan, Radja, Samson dan Ungu, konser Jamrud seolah mengingatkan kepada saya bahwa inilah musik rock yang masih bisa terus bertahan selamanya.

Lagu-lagu dengan beat cepat, lirik yang lugas dan cenderung kotor, serta hentakan drum yang menggempur kuat membawa saya pada kenangan lama ketika membeli kaset Jamrud bertitel Ayam.

Waktu itu mana musik rock adalah musik yang bertutur tentang keadaan sosial bukan soal remeh temeh cinta yang bikin pusing kepala. Apalagi jika penyanyinya bernyanyi seperti ini… “Maafkan aku,,,,bla bla bla mencintaimu…”

Konser Jamrud memang sangat-sangat istimewa, semua orang yang ngaku ngerock ada di sini. Dari Ian Antono, Ahmad Albar, Eet Syahranie, Roy Jeconiah, John Paul Ivan, Baron hingga Yoyok Padi numpuk di konser ini.

Masing-masing bintang tamu diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan menyanyikan lagu-lagu Jamrud. Dan rasanya, benar-benar fantastis, saya enggak pernah menyangka lagu Jamrud itu bisa sebegitu khidmatnya ketika dibawakan oleh Ahmad Albar. Dan tak pernah menyangka distorsi lagu Jamrud justru makin menguat ketika dibawakan dengan brutal oleh Baron.

Jamrud memang ibarat penutup glossary musik yang ada dalam diri saya. Jujur musik rock dan musik jadul memang sudah bercampur satu dalam diri saya.

Saya memang sering menyanyikan lagu-lagu lama, tapi hati saya METTAAALLLLLLL…..!!!

Monday, March 13, 2006

Kekuatan Sebuah Rasa

Image hosting by Photobucket

Judul : Perfume
Penulis : Patrick Suskind
Penerbit : Dastan (Pustaka Zahra Grup)


Apa yang didapat dari sebuah rasa? Patrick Suskind melalui bukunya Perfume menunjukkan bahwa sebuah rasa bisa membawa kita pada upaya pembunuhan berantai dan balas dendam yang sudah lama berakar dan berurat.

Tersebutlah Jean Baptiste Grounoille, seorang lelaki yang tak diharapkan lahir di bumi, mempunyai bakat yang sangat istimewa, yakni punya indra penciuman yang sangat tajam. Dengan penajaman indra itu Grounoille justru mempunyai motivasi teramat dalam akan sebuah rasa yang paling unik di dunia yakni rasa perawan.

Motivasi itu justru menjadi sebuah obsesi yang sangat berlebihan bagi Grounoille. Pria yang belajar bahasa melalui rasa ini justru berusaha mengumpulkan rasa perawan itu dengan cara yang tidak benar. Namun, di balik semua keinginan itu terselubung duka yang sangat mendalam dalam diri Grounoille.

Membaca buku Perfume merupakan sebuah keasyikan tersendiri bagi saya. Adik saya sendiri, Ari, benar-benar terkesima dengan buku Suskind ini.

Kemampuan Suskind adalah kemampuannya menyimpan rahasia dan memberikan sebuah ledakan yang sangat mengejutkan di akhir-akhir buku. Dalam setiap bagian bukunya Suskind seolah mengajak pembaca untuk lebih tahu lagi apa yang akan dihadirkan oleh Suskind.

Kemudahan lainnya dalam membaca buku ini adalah cara Suskind yang sangat santai dalam menuturkan semua tulisannya. Membaca buku ini sama sekali tidak membuat kening kepala berkerut. Setiap Babnya tidak terdiri dari banyak halaman. Hal ini membuat kita tidak merasa kita telah menghabiskan banyak halaman.

Kekurangan, waduh untuk saat ini saya enggak mau bicara banyak tentang kekurangan buku ini. Pokoke saya jatuh cinta dengan buku ini.

Wednesday, March 08, 2006

Miskin Eksplorasi, Kaya Gambar

Image hosting by Photobucket

Judul : Ruang
Sutradara : Tedy Soeriaatmadja
DOP : Arief R Pribadi
Pemain : Winky Wiryawan, Luna Maya, Slamet Rahardjo, Regy Lawalata

Sutradara Tedy Soeriaatmadja adalah sutradara yang senang bermain-main dengan warna. Setelah puas bermain-main dengan warna biru di film Banyu Biru, kini Teddy kembali bermain-main dengan warna di film terbarunya berjudul Ruang. Tebak, warna apa yang dipilih Tedy dalam film yang diproduksi oleh Parama Entertainment ini? Sephia, sebuah warna yang teduh namun sangat membosankan.

Beruntung, film ini tidak membosankan seperti warnanya. Padahal, jauh-jauh hari sebelum pre-screening, saya punya dugaan bahwa film ini akan sama membosankannya dengan film Banyu Biru.

Makanya, sebelum menonton film ini saya sudah siap sedia permen Kopiko 5 biji. Bukan apa-apa, soalnya saya takut juga jika nantinya langsung tertidur ketika film berputar, seperti saya nonton Banyu Biru. Selain itu, saya juga merasa sangat tidak sopan sekali jika saya keluar dari ruangan teater, mengingat di situ Tedy juga duduk bersama pemain film Ruang lainnya.

Film Ruang sendiri adalah sebuah film yang bercerita tentang cara manusia dalam menghadapi masa lalunya. Tersebutlah, Rais, seorang diplomat yang sudah wara-wiri ke luar negeri. Saking sibuknya bekerja, Rais tidak sempat menghadiri pemakaman ibunya tercinta, Flori.

Meski telah telat, Rais tetap harus kembali juga ke rumahnya di Indonesia. Alasannya, ada sebuah kotak dan sebuah surat yang harus dibaca oleh Rais bersama-sama dengan adiknya Emma.

Dari sebuah surat itu terkuaklah sebuah rahasia yang selama ini dipendam lama oleh Flori. Rais, ternyata bukan anak hasil hubungan Flori dengan ayah mereka, Chairil.

Tidak seperti cerita-cerita lainnya yang lebih mengedepankan proses pencarian yang dilakukan oleh sang anak, film Ruang justru mengedepankan kisah-kisah masa lalu untuk mengungkap siapa jati diri Rais sebenarnya.

Kelemahan dari film ini adalah kebiasaan Tedy untuk membuat kita berpikir keras mengenai konflik yang terjadi di film tersebut. Tedy lebih cenderung memvisualiasikan konflik yang terjadi melalui simbol-simbol. Padahal, kita bukan seorang ahli simbologi seperti Robert Langdon kan?

Akibatnya, ketika kedua tokoh tersebut bertemu, tidak terasa adanya konflik di antara mereka. Memang, keduanya terlihat kaku namun kekakuan itu terjadi bukan karena tuntutan akting. Kedua pemeran, yakni Slamet Rahardjo dan Regy Lawalata justru terlihat kaku karena memang tidak berhasil mengeksplorasi karakter kedua saudara yang tengah berselisih. Saya justru melihat mereka berdua seperti seorang kakek nenek yang sibuk dengan filsafat hidupnya sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada kisah masa lampau antara Chairil, Flori dan Kinasih. Di bagian ini, Tedy benar-benar gagal mengeksplorasi karakter-karakter yang ada. Chairil, seorang pemuda yang tengah putus asa karena ditinggal keluarganya,dan sangat butuh cinta justru terlihat seperti seorang playboy yang ngebet enggak tahan pengen pacaran.

Sementara itu Kinasih, seorang gadis pembesar yang ternyata sekarat ini justru lebih terlihat seperti seorang gadis yang senang bermain-main dengan pria. Di film ini Kinasih justru tidak pernah memberikan alasan yang tepat kenapa dirinya justru ingin lebih bersama dengan Chairil.

Sementara itu Tedy justru menyia-nyiakan bakat besar Adini Wirasti. Entah apa maksud Tedy menyuruh Asti lebih banyak menampilkan adegan-adegan diamnya. Apakah Tedy ingin sekali menciptakan seorang Rizky Hanggono versi wanita?

Yang pasti kelebihan di film ini adalah pada dua hal yakni gambar dan kalimat-kalimat yang keluar di setiap adegan.

Film yang mengambil lokasi syuting di Krakal, Bromo dan Banyuwangi ini terselamatkan oleh gambar-gambar pemandangan yang sangat indah hasil tembakan DOP yang sangat berbakat, Arief R Pribadi. Teman saya yang seorang fotografer saja benar-benar terkesan dengan gambar-gambar yang diciptakan Arief.

Sementara itu khusus untuk kalimat, saya menduga bahwa Tedy memang memikirkan dengan matang kalimat-kalimat yang keluar. Terasa benar kalimat-kalimat yang ada di semua adegan sangat puitis dan romantis.

Monday, March 06, 2006

Me, My Nephew and Dodol Conversation.

Image hosting by Photobucket

Saya ; Rin, kamu lihat peta punya tulang enggak?

Ririn ; Tanya aja sama Dora
Saya ; ????

Ara ; Tulang, minta duit dong.
Saya ; Berapa?
Ara ; Sepuluh ribu
Saya ; Lho kok banyak banget kemarin cuma
lima ribu
Ara ;
Kan bbm naik tulang
Saya ; ???

Dibanding menjadi seorang ayah, menjadi seorang paman memang mempunyai keasyikan tersendiri bagi gue. Jadi seorang paman memang tidak terlalu berat seperti jadi orang tua.

Tidak seperti orang tua mereka yang harus memikirkan bagaimana caranya membesarkan mereka jadi anak yang baik-baik, bagi gue jadi seorang paman justru tidak lebih sama dengan menjadi seorang teman baik bagi mereka.

Saat ini gue adalah seorang paman dari 5 orang anak-anak kecil, Ririn, Ara, Lili, Tiur dan Hilo. Kelima-limanya mempunyai karakter yang berbeda satu sama lain.

Yang bikin saya asyik, kelima ponakan ini mempunyai kepribadian masing-masing. Meski cenderung tertutup dan lebih banyak diam, Ririn adalah seorang perempuan yang baik dan rajin. Hanya saja sikapnya yang masih kekanak-kanakan mengalahkan postur tubuhnya yang sudah seperti gadis dewasa.

Jawaban-jawaban spontannya juga membuat saya geleng-geleng kepala. Namun bukan karena kesal, tapi karena ingin tertawa. Soalnya, dibalik badannya yang besar Ririn masih mempunyai jiwa kekanak-kanakan yang sangat tinggi.

Lain lagi dengan Ara, ponakan yang satu-satunya laki-laki ini memang mempunyai kebiasaan yang sangat akut, yakni meminta uang buat jajan. Awalnya, Ara sering minta uang 500 rupiah, namun lama kelamaan uang yang diminta makin tinggi jumlahnya. Terakhir, anak yang masih kelas satu SD ini minta uang Rp 10 ribu. Dan dia punya alasan tepat kenapa dia minta uang sebesar itu.

Terakhir ponakan gue yang satu ini bikin ulah kabur dari rumah dan melarikan diri ke rumah Ompungnya. Bayangin, anak yang masih kecil ini naik sepeda dari rumahnya di Kosambi, ke rumah Ompungnya yang ada di Grogol.

Karena jalannya jauh, Ara ternyata tidak kuat bersepeda. Namun, otaknya masih cerdas juga. Dia langsung mendatangi tukang ojek minta dianterin ke rumah Ompung. Beruntung saat ini Tukang Ojek masih banyak yang baik-baik. Kalau enggak, saya enggak tahu bagaimana dengan nasib Ara sekarang.

Lili adalah ponakan saya yang paling sopan. Di antara kelimanya mungkin Lili bisa jadi adalah ponakan yang paling dan tidak pernah mengganggu saya. Anak ini memang luar biasa cerdas. Entah dari mana dia belajar, yang pasti selama ini dia menjadi anak yang sangat manis bagi tulang, dan Ompungnya.

Hilo dan Tiur adalah ponakan saya yang paling-paling saya rindu. Tentu saja hal ini terjadi karena mereka belum sereseh ponakan-ponakan saya yang lain. Soalnya, mereka masih kecil-kecil dan belum fasih berbicara.

Entah kenapa Hilo adalah ponakan yang paling senang jika bertemu saya. Setiap dia bertemu saya di rumah dia pasti selalu berlari gembira dan memeluk saya.

Nah, kalau si Tiur ini lain lagi. Sampai sekarang dia justru ketakutan melihat saya. Terakhir saya datang ke rumahnya, dia tampak keheranan melihat saya. Matanya melotot dan bibirnya komat-kamit. Mungkin dia bingung ngelihat ada orang sejelek saya kali yah…?

Metamorfosis Untuk Meraih Oscar

Image hosting by Photobucket

Perhelatan akbar Oscar 2006, baru saja berakhir. Kuda hitam Crash garapan sutradara Paul Haggis berhasil meraih penghargaan film terbaik. Film yang diperani oleh sederet aktor dan aktris berkualitas ini berhasil mengalahkan favorit masyarakat
Brokeback Mountain garapan sutradara Ang Lee.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, film terbaik tidak secara otomatis menyerahkan aktor dan aktris terbaik pada film yang sama. Hal ini mengingatkan dengan event Piala Citra 2005, yang menyerahkan gelar aktor dan aktris terbaik justru jauh pada film yang berbeda.

Di Oscar 2006, gelar aktor terbaik jatuh pada aktor Phillip Seymour Hoffman dalam film Capote. Sementara aktris terbaik jatuh pada tangan Reese Witherspoon yang tampil memesona dalam film Walk The Line.

Brokeback sendiri tidak pulang tanpa tangan kosong. Film yang bercerita tentang kisah cinta dua orang koboy ini mendapatkan gelar sutradara terbaik, Ang Lee.

Sementara itu aktor pendukung terbaik jatuh di tangan George Clooney yang tampil bersinar dalam film Syriana. Sedangkan, aktris pendukung terbaik diraih oleh Rachel Weisz dalam film Constant Gardener (Love at any cost, hel yeah).

Banyak orang yang mengatakan bahwa prestasi fenomenal kejutan terbaik di Oscar adalah berhasilnya Crash keluar sebagai juara. Film yang paling diharapkan dan ditunggu-tunggu untuk menang sebenarnya adalah Brokeback Mountain. Apalagi, di ajang pemanasan sebelum Oscar seperti Bafta dan Golden Globe, film gay cowboy ini berhasil memborong penghargaan.

Tapi, sebenarnya prestasi yang paling mengesankan di ajang Oscar adalah betapa terasanya proses metamorfosis yang dilakukan oleh semua aktor dan aktris peraih Piala Oscar.

Metamorfosis yang sangat terasa adalah metamorfosis yang dilakukan oleh George Clooney. Sebelum berhasil meraih gelar aktor pendukung terbaik, Clooney adalah aktor film corny seperti Intolerable Cruelty dan Batman Returns.

Padahal, ketika pertama kali tampil di serial drama Ermengency Room (ER), banyak orang yang sudah memrediksikan Clooney bakal berjaya di dunia akting. Sayang, karena lebih mengedepankan pesona fisik, Clooney justru lebih sering tampil di film-film ringan.

Justru ketika Clooney sadar bahwa ketampanan fisik bukan berarti tampan kualitas akting, Clooney pun secara bertahap bermetamorfosis. Hal yang pertama dia lakukan adalah membuat film berjudul Good Night and Good Luck. Bersama aktor David Strathairn, Clooney benar-benar mengeluarkan semua keahliannya berakting. Tidak heran film ini juga berhasil masuk nominasi Oscar.

Totalitas Clooney justru semakin meledak keluar dari dirinya ketika bermain film Syriana. Berperan sebagai seorang agen CIA yang dilanda krisis identitas, Clooney benar-benar membuktikan bahwa dirinya adalah seorang aktor yang serius.

Ketika menonton film Vanity Fair, saya sudah menyangka bahwa cepat atau lambat, Reese Witherspoon akan mendapatkan tempat yang sangat khusus di dunia perfilman. Lagi pula seperti halnya Clooney, Reese memang sudah lama bermetamorfosis sebagai penghibur.

Ketika bermain bersama Joaquin Phoenix dalam film biopic Walk The Line, Reese memang benar-benar menunjukkan betapa telah berubahnya dia. Dari seorang Legally blonde, menjadi seorang aktris watak.

Jujur, saya sebenarnya menjagokan Felicty Huffman sebagai best actress. Tapi, entah apa yang dipikirkan para juri hingga mereka memalingkan muka dari Huffman.

Meski gagal meraih film terbaik, Brokeback Mountain berhasil menempatkan Ang Lee sebagai sutradara terbaik. Gelar ini merupakan puncak perjuangan Ang Lee memposisikan diri sebagai sutradara handal.

Perjuangan atau tepatnya metamorfosa yang dilakukan oleh Ang Lee memang sangat luar biasa. Sutradara asal Pintung, Taiwan ini sempat tampil gemilang ketika menelurkan Wedding Banquet, Sense and Sensibility dan Crouching Tiger Hidden Dragon. Namun, dalam proses selanjutnya Ang Lee justru dicaci karena membuat tokoh komik, Hulk menjadi sebuah lelucon berdurasi 2 jam.

Namun, tahun ini Ang Lee benar-benar kembali dan tampil mendominasi. Film Brokeback seolah menjadi prasasti kembalinya Ang Lee di jalur film.

Saya sendiri punya dugaan tersendiri kenapa Brokeback Mountain tidak dapat gelar film terbaik. Soalnya, film ini mempunyai kesamaan tema dengan film Wedding Banquet yang juga digarap oleh Ang Lee.

Setelah malang melintang di film dan pentas teater, akhirnya Philip Seymour Hoffman berhasil meraih gelar aktor terbaik. Setidaknya, nominasi ini berhasil menyempurnakan curriculum vitae Hoffman di dunia akting.

Sebelum ketiban Oscar, Hoffman memang menjalani perjalanan yang sangat panjang dan berliku. Memulai karirnya di dunia film di tahun 1990-an Hoffman selalu berhasil meninggalkan kesan memorable dalam semua peran yang ia jalani.

Kesuksesan Rachel Weisz di ajang Oscar tidak hanya membuat dirinya banga. Bahkan seluruh Inggris Raya bangga atas prestasi wanita yang tengah mengandung 5 bulan ini. Saking bangganya, harian The Sun menulis besar-besaran judul berita Weisz Takes Oscar for UK.

Jauh sebelum menjadi seorang aktris, Rachel Weisz adalah contoh sempurna sebuah metamorfosis, wanita cantik ini dulu mengawali karirnya sebagai seorang model.

Tuesday, February 28, 2006

Cangkokan Film Asing

Image hosting by Photobucket


Judul : Jatuh Cinta Lagi
Sutradara : Rizal Mantovani
Pemain : Krisdayanti, Gary Iskak, Alex Abad dan Endhita
Produksi : Multivision Plus dan KD Production

Ketika saya mendengar Ram Punjabi akan kembali bikin film, saya sempat merasa heran juga. Soalnya, dengan dukungan aktris-aktris papan atas sekalipun, Ram selalu gagal dalam menghasilkan film-film yang benar-benar berkualitas atau pun yang bisa memenuhi target pasar.

Namun, ketika saya tahu bahwa Ram akan mengeluarkan film drama komedi berjudul Jatuh Cinta Lagi, saya agak bersyukur juga. Rupanya, Ram benar-benar melupakan keinginan sentimentalnya untuk membuat suatu film berat seperti Belahan Jiwa dan lebih mementingkan film-film ringan yang lebih laku di pasaran.

Oleh sebab itu, tidak heran kalau saya benar-benar haqqul yakin bahwa Ram berusaha kembali kepada jalan yang benar.Apalagi, untuk film satu ini Ram menggandeng sebuah nama besar bernama Krisdayanti.

Nama Krisdayanti memang suatu jaminan mutu. Namanya ibarat suatu barang yang akan selalu laku di pasaran. Makanya, Ram pun rela untuk mengeluarkan uang Rp 400 juta untuk menggaet istri Anang Hermansyah ini agar mau bermain film.

Di saat popularitasnya yang menurun, KD memang tidak perlu lagi memikirkan tawaran tersebut. KD mungkin melupakan beberapa factor kala dia menerima tawaran tersebut. KD tengah melakukan perjudian besar atas karirnya baik di dunia tarik suara ataupun di layar lebar.

Selentingan demi selentingan memang sudah banyak saya dengar sebelum film ini beredar. Banyak orang yang mengatakan bahwa film ini sangat mirip dengan film Hollywood. Ya, benar mirip dengan film Pierce Brosnan dan Julienne Moore berjdul Laws of Attraction.

Awalnya saya enggan untuk membuktikan hal itu. Tapi, nyatanya saya benar-benar kecewa karena selentingan-selentingan itu hampir benar-benar terbukti ketika saya datang ke konferensi pers, JCL di Planet Hollywood beberapa waktu lalu.

Saya sangat kaget melihat poster film tersebut. Ingatan saya langsung melayang pada sebuah film lain yang diperani Rene Zelweger dan Ewan McGregor berjudul Down With Love. Ketika pulang ke kantor saya pun terpaksa membuka google untuk membuktikan kesamaan poster dua film tersebut. Ternyata, poster itu memang hampir mirip satu sama lain.

Dari dua kesamaan itu saya memang sangat-sangat berharap agar film JCL bukanlah sebuah film cangkokan film-film asing. Sebab, dari trailer yang diperlihatkan hampir semua adegannya sangat-sangat dekat dengan film-film Hollywood, contohnya, adegan menari dan bar yang dipenuhi bule-bule.

Meski agak kecewa, saya tetap berusaha berpikir positif.Bahkan, jauh-jauh hari saya sudah berjanji untuk tetap menonton film garapan Rizal Mantovani ini. Apalagi, saya ingin tahu seberapa kuatnya kan peran KD dalam film tersebut. Soalnya, KD benar-benar yakin bahwa dirinya memang tidak tampil seperti dirinya sebagai seorang penyanyi.

Film JCL sendiri bercerita tentang seorang kehidupan dua orang pengacara bernama Lila (Krisdayanti) dan Andre (Gary Iskak). Meski sama-sama pengacara, keduanya memiliki nasib dan cara kerja yang berbeda. Lila lebih banyak menangani kasus pro bono (gratis) demi kepentingan masyarakat, sedangkan Andre seorang pengacara yang flamboyant yang lebih mencari kasus-kasus besar demi popularitas belaka.

Sebuah kasus perceraian penyanyi bangdut bernama Dea Angelia (Cornelia Agatha) memaksa Lila dan Andre bertemu. Siapa nyana, pertemuan tersebut justru adalah bermulanya perasaan cinta antara Lila dan Andre.

Sayang, karena perbedaan pola pikir dan gaya hidup. Serta diembel-embeli oleh kegagalan cinta di masa lalu membuat keduanya sulit bersatu.

Melihat plot di atas memang kita sudah tahu ke arah mana film itu akan bergerak selanjutnya. Sebab, film drama komedi, komedi romantis atau apapun itu adalah film-film yang gampang sekali ditebak.

Kita pasti tahu bahwa kedua tokoh utama itu pasti akan tetap bersatu. Namun, biasanya yang bikin kita jadi penasaran adalah bagaimana sutradara memodifikasi terbentuknya jalinan cerita cinta kedua tokoh utama.

Inilah yang sepertinya dilupakan oleh Rizal. Dari awal saya menonton, saya sangat merasakan Rizal seakan-akan menyederhanakan film ini. Saking sederhananya, Rizal sama sekali tidak mengembangkan karakter tokoh utama yang ada di film ini, Lila dan Andre. Kita hanya disuguhkan keseharian Andre yang suka dugem dan Lila yang sangat gila kerja. Tanpa tahu bahwa siapa sih Andre dan Lila di balik semua pekerjaannya itu.

Rizal lebih mengedepankan adegan-adegan slapstick yang kerap sekali dilakukan oleh Andre dan Lila. Entah, ini berhasil atau tidak yang pasti teman-teman saya justru tidak pernah tertawa setiap kali adegan itu ada di layar bioskop.

Selain minimnya pengembangan karakter, Rizal sendiri sepertinya berusaha menyederhanakan semua masalah yang ada di film ini. Ibarat lari sprint, Rizal sepertinya ingin cepat-cepat sekali menyudahi film yang katanya menghabiskan uang Rp 7 miliar ini. Akibatnya, saking terburu-burunya, film ini sama sekali benar-benar tidak berjiwa. Saya bahkan hanya tersenyum miris ketika Lila dan Andre marahan hanya karena melihat Andre mencium pipi seorang wanita.

Ada satu hal lagi yang benar-benar mengganggu saya. Membuat film komedi tidak mengharuskan sutradaranya untuk tidak serius menggarap detil film. Saya benar-benar tidak habis pikir kenapa Rizal mengambarkan suasana sidang perceraian itu terbuka untuk umum dan bisa dihadiri siapa. Padahal, setahu saya sidang perceraian itu adalah sidang yang selalu tertutup untuk umum.

Di balik beberapa kelemahan tersebut, ada beberapa bagian yang membuat saya merasa bisa sedikit tersenyum akan film ini. Di JCL kita merasa didekatkan pada kenyataan bahwa kenyataan-kenyataan yang ada di televisi tidaklah selamanya benar.

Kebenaran yang ada di media massa sebenarnya ada pada pemegang modal dan mudah direkayasa. Tergantung pada siapa media itu berpihak dan berapa uang yang akan dikeluarkan.

Kenyataan ini memang sangat dekat dengan kehidupan saya sehari-hari. Sebagai wartawan hiburan, saya memang merasa tahu dan akrab dengan hal-hal seperti itu. Sayang, Rizal tidak mendramatisasi isyu ini dalam film tersebut.

Sementara itu menanggapi penampilan pertama KD di dunia layar lebar. Saya rasa saya setuju dengan pendapat seorang teman saya. KD benar-benar seorang master in disguise, semuanya serba tidak natural dan artifisial. Maaf, jadi sorry-sorry saja bagi KD, film ini sepertinya bukan langkah pembuka yang manis bagi pelantun lagu Menghitung Hari ini.

Oh iya, saya sudah Tanya teman-teman saya tentang film ini. Dari 5 teman saya, kesemuanya mengatakan film ini biasa saja. Bahkan, tiga di antara mereka mengatakan film ini garing.

Sunday, February 26, 2006

Selalu Ada Kesempatan

Image hosting by Photobucket

Saya selalu percaya bahwa setiap orang seiring dengan waktu pasti bisa mencapai keinginan-keinginannya. Asalkan, orang itu mau untuk membuka kesempatan untuk mewujudkan semua keinginan tersebut.

Seperti dulu, waktu kecil saya selalu berangan-angan untuk bisa naik pesawat terbang. Selama 25 tahun saya hanya bisa hidup dalam angan-angan itu.

Awalnya, saya menduga di kantor terdahulu saya akan dapat kesempatan untuk naik pesawat terbang. Soalnya, bekerja sebagai wartawan tentu saja pasti akan disuruh tugas luar kota. Sayang, tugas-tugas itu tak pernah berkunjung juga pada saya.

Setelah saya pindah kantor, saya makin optimis, bahwa suatu saat nanti saya pasti bisa naik pesawat terbang. Banyak factor yang membuat saya optimis, di antaranya koran tempat saya bernaung adalah koran nasional dan cukup berkelas. Jadi, bisa saja ada tawaran-tawaran yang datang mengajak saya untuk terbang ke luar kota.

Sayang, keinginan terbang secara gratis itu pun akhirnya punah juga. Tapi, kesempatan untuk naik pesawat terbang tetap datang juga. Karena beberapa alasan yang tidak bisa saya tuliskan di sini, akhirnya saya menyempatkan diri untuk terbang ke suatu daerah.

Naik pesawat terbang untuk pertama kalinya memang membuat saya merasa senang sekaligus was-was. Saya senang karena keinginan saya semasa kecil akhirnya terwujud juga, tapi saya was-was juga karena saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya naik pesawat terbang.

Agar perjalan perdana itu berjalan sukses saya memang perlu menyempatkan diri untuk bertanya dengan teman-teman saya. Banyak orang memang yang kaget dan tertawa ketika mereka mendengar saya belum pernah naik pesawat terbang. Lucu memang, saya harus menunggu selama 25 tahun agar bisa terbang.

Akhirnya, karena mereka banyak tertawa akhirnya saya melupakan saja semua saran tersebut. Setelah satu malam tidur tak tenang, akhirnya saya pun berangkat juga ke bandara.

Ketika masuk ke lokasi bandara, saya memang agak bingung juga untuk menentukan langkah selanjutnya. Namun, seperti biasa, sebelum melakukan apa pun saya terbiasa melihat apa yang dilakukan orang-orang. Hal itu sering saya lakukan agar saya tidak terlihat canggung ketika melakukan sesuatu yang baru.

Ternyata, apa yang terjadi selanjutnya memang tidak semudah apa yang saya duga sebelumnya. Naik pesawat itu ternyata mudah.

Setelah proses administrasi selesai, tinggal naik pesawat. Dan disinilah pengalaman saya selanjutnya. Ketika pesawat take off, saya benar-benar merasa seperti terbang menembus langit. Semakin tinggi pesawat menembus angkasa, semakin membubung tinggi perasaan saya.

Selain itu, getaran pesawat memberikan kesan yang teramat dalam buat saya. Saya benar-benar tergetar ketika melihat titik kecil yang ada di bawah langit. Ternyata, semuanya terlihat sangat indah dalam keadaan kecil.

Sayangnya tidak selamanya perasaan itu abadi. Ketika pesawat landing saya justru benar-benar tidak merasa nyaman. Karena Bandar udara yang saya tuju sangat kecil, beberapa kali pesawat terpaksa melakukan beberapa manuver yang membuat jantung saya berdetak kencang.

Ketika saya melongok ke jendela saya melihat sayap pesawat terasa sangat dekat dengan tanah. Tiba-tiba saya teringat pesan teman saya yang mengatakan agar saya tidak duduk di dekat bagian sayap.

Berkali-kali saya mencengkeram kuat kursi yang saya duduki. Tapi, saya berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat panik pada teman sebangku saya di pesawat.

Saya semakin panic, ketika tiba-tiba dari pengeras suara terdengar suara pilot mengumumkan sesuatu. Karena saya benar-benar panic saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan pilot tersebut. Saya malah seakan-akan mendengar sang pilot berkata, “pesawat kehabisan bensin”

Mendengar pengumuman itu saya benar-benar hopeless, apalagi saya melihat dari ujung sayap keluar asap putih (yang saya enggak tahu apa artinya sampai sekarang).

Beruntung, setelah maneuver yang gila-gilaan itu akhirnya pesawat mendarat mulus juga. Saya pun bisa menarik napas lega,dan bisa melangkah keluar dengan selamat, meski saat itu masih sedikit dihantui dengan perasaan yang kacau balau.

Setelah pengalaman pertama itu saya memang masih terasa was-was ketika saya harus pulang kembali ke Jakarta dengan pesawat. Beruntung, ternyata perjalanan pulang tidak sebegitu menakutkan perjalanan pertama.

Di atas pesawat saya menyadari bahwa di atas semua keinginan kita memang butuh pengorbanan yang besar untuk merasakan atau mendapatkan itu semua.

Tuesday, February 21, 2006

Hindari Rumah Pondok Indah

Image hosting by Photobucket

Judul : Rumah Pondok Indah
Sutradara : Irwan Siregar
Produksi : Indika Entertainment
Pemain : Asha Sara, Ricky Harun, Chintami Atmanagara, Ruhut Sitompul.

Beberapa waktu lalu teman saya pernah memberi komentar, bahwa Sinemaindonesia tutup karena tidak sanggup lagi membuat resensi-resensi film Indonesia setelah film Jomblo keluar. Setengah bercanda dia mengatakan film Rumah Pondok Indah lah yang membuat Sinemaindonesia kolaps dan ketakutan buat resensi. Soalnya, mereka sudah kehabisan kancut untuk merating film garapan Sutradara Irwan Siregar ini.

Sebelum film ini beredar, jauh-jauh hari saya memang tidak punya keinginan kuat untuk menonton film ini. Soalnya, saya sudah cukup trauma dengan film-film garapan Indika Entertainment.

Tapi, sekali lagi keinginan untuk menonton film secara gratis itu justru lebih kuat dibandingkan trauma yang saya alami. Susah memang menolak hal-hal yang serba gratis.

Akhirnya dengan berbekal semangat 45 saya pun langsung nonton film tersebut. Sebagai catatan, saya ingat bahwa sutradara Irwan Siregar adalah sutradara serial sinetron berjudul Permata dan Permana. Sinetron yang menurut saya menarik karena mengupas kisah tentang dua orang pria yang berubah jadi seorang transeksual karena ingin gampang cari duit.

Film Rumah Pondok Indah bercerita tentang sebuah rumah yang sepertinya mempunyai kutukan. Setiap keluarga yang menghuni rumah tersebut akan mengalami bencana. Dari rumah tersebut lah segala bencana dimulai. Pertama, seluruh keluarga mati dalam waktu 1x24 jam. Setelah itu, penghuni selanjutnya diteror oleh hantu yang berada di rumah tersebut.

Dari segi tema cerita, saya memang mengakui bahwa ide cerita yang dibawakan memang sangat menarik. Soalnya, anggapan bahwa setiap rumah mempunyai hantunya masing-masing adalah mitos yang sudah lama kita dengar dari kecil. Jadi tidak heran, setelah sekian lama film Rumah Pondok Indah keluar dan berbicara tentang rumah-rumah yang berpenghuni. Apalagi film ini ditempeli dengan kasus fenomenal yang mengejutkan masyarakat kota Jakarta, yakni hilangnya seorang penjual nasi goring di sebuah rumah di Pondok Indah.

Sayangnya eksekusi film ini benar-benar mengecewakan. Secara pribadi saya menganggap film ini adalah film yang paling annoying selama karir saya menonton film. Soalnya, di film ini kita bukan lagi dibikin takut dengan penampakan-penampakan setan, tapi malah dikejutkan dengan suara score musik yang tiba berdentum kencang. Saran saya, kalau mau nekat nonton film ini sebaiknya membawa penutup kuping.

Selain itu akting para pemeran filmnya juga tidak terlalu bagus. Saya yakin mereka tidak perlu menghapal terlalu banyak. Soalnya, sepanjang film berlangsung kalimat yang paling banyak keluar cuma dua yakni ketawa cekikan, sama Elsi kemana? Elsiiiiii……..

Entah karena terlalu obsesi dengan film Exorcist, saya sangat aneh ketika adegan kesurupan berlangsung. Ketika pemeran utamanya kesurupan, saya seperti mendengar suara motor RX King yang tengah digas kencang-kencang dari mulutnya. Sudah begitu, pake adegan terbang lagi plus cahaya yang keluar. Berlebihan banget.

Sayang, dari semua kesalahan itu, sang sutradara justru melupakan hal yang paling detil dan seharusnya tidak boleh terlewatkan. Yakni, sang sutradara lupa untuk menghadirkan Susana wilayah Pondok Indah dalam film ini. Boleh saja film ini berjudul Rumah Pondok Indah, tapi sepanjang film saya benar-benar tidak merasakan tanda-tanda lokasi Pondok Indah. Mungkin, karena terlalu asyik bermain-main horror termisteri, sutradara lupa akan detil lokasi.

My Dream

Image hosting by Photobucket

Semua orang mempunyai impian, tanpa terkecuali. Bahkan termasuk 600 juta orang dengan kemampuan berbeda (difabel) yang ada di dunia.

Kemarin, saya menghadiri acara konferensi pers Konser My Dream, China Disable Peoples’s Performing Art Troupe, di Hotel Alila. Dari tajuknya saya memang sudah bisa mendapat gambaran bahwa dalam konser ini kita akan disuguhkan aksi-aksi orang-orang yang mengalami kemampuan berbeda dibandingkan saya.

Tapi, jujur saja saya datang ke sana bukan karena hati saya tergerak untuk menyaksikan aksi tersebut. Saya datang ke sana karena kebetulan yang menjadi spoke person dalam acara tersebut adalah Dewi Yull dan anaknya, Giszka. Karena factor butuh beritalah, makanya saya menyempatkan waktu datang ke hotel yang ada di Jalan Pecenongan itu.

Begitu sampai di lokasi, seperti biasa saya langsung melakukan ritual rutin ketika hadir dalam konferensi pers, yakni makan-makan. Setelah puas makan, saya langsung masuk ke ruangan.

Awalnya, saya membaca-baca sedikit buklet yang diberikan penerima tamu di pintu masuk. Tapi, saya sama sekali tidak mendapat gambaran tentang China Disable Peoples’s Performing Art Troupe. Yang ada justru sebuah majalah, yang isinya menceritakan tentang kegiatan kemanusian Yayasan Tzu Chi Indonesia.

Namun, setelah konpers berjalan, perlahan-lahan saya mulai dikenalkan dengan apa itu China Disable Peoples’s Performing Art Troupe. Begitu mulai, saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya.

Sebuah video yang menceritakan perjalanan mereka benar-benar membuat saya kagum tersentuh dan hampir menitikkan air mata. Beruntung suasana ruangan sangat gelap, jadi mata saya yang berkaca-kaca tidak terlalu kelihatan.

Video itu memang hanya menampilkan slide-slide gambar perjalanan hidup aktor dan aktris China Disable Peoples’s Performing Art Troupe. Saya memang sudah terbiasa melihat orang-orang yang cacat di Jakarta seliweran ke sana kemari. Dan saya benar-benar merasa biasa dengan kehadiran mereka.

Namun, kali ini beda, saya benar-benar merasa kalah dan jauh sekali kelasnya dibandingkan mereka. Banyak hal yang membuat saya tersentuh melihat mereka, di antaranya adalah semangat mereka menggapai cita-cita mereka.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang imbisil ternyata bisa menjadi seorang composer handal. Siapa nyana, bahwa aksinya di atas panggung justru lebih memikat ketimbang composer-komposer lainnya. Bahkan, menurut saya aksi dia jauh lebih berjiwa.

Banyak cerita lainnya yang membuat saya benar-benar merasa tersentuh. Cerita-cerita lainnya justru makin menghakimi saya yang selama ini selalu beranggapan bahwa kecacatan adalah sebuah akhir dunia.

Nyatanya itu salah, apapun bisa terjadi di dunia ini. Dunia bukanlah sebuah hukum pasti layaknya ilmu-ilmu ilmiah yang kita dapatkan semasa sekolah. Apapun keadaan kita ketika dilahirkan di dunia ini. Dunia adalah tempat kita berjuang untuk mendapatkan cita-cita dan impian kita.

Semua orang memang mempunyai impiannya masing-masing. Tidak terkecuali bagi mereka sendiri yang mempunyai kemampuan berbeda. Dan kali ini saya benar-benar percaya bahwa impian benar-benar akan berkerja jika kita percaya. There’s only miracle when you believe.