Monday, June 27, 2005

Seperempat Abad

Hari ini tepat umurku sudah seperempat abad. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kalau aku sudah melangkah jauh di dunia ini. Ketika aku terbangun di pagi hari aku langsung semuanya yang terjadi selama 25 tahun terakhir ini.

Aku memikirkan apa-apa saja yang pernah aku lakukan sebagai seorang Wahyu di dunia ini. Aku bertanya dan ingin mengetahui apakah jalan yang aku tempuh selama 25 tahun ini adalah jalan yang tepat menuju suatu tempat yang aku cita-citakan?

Saat ini aku cuma berharap, ke depan nanti aku harus bisa melakukan hal yang lebih baik lagi. Aku merasa sudah terlalu tua untuk berjalan di dunia ini.

Aku berdoa seperempat abad ini adalah langkah awal yang tepat agar aku bisa menjalani semua ini dengan baik. Aku memerlukan sebuah ikhtiar dalam hidup ini agar aku bisa menuju suatu tempat yang aku rasakan sebagai tempat kebahagiaan.

Sedikit banyak 25 tahun ini, aku sudah mengenal kebahagiaan yang telah diberikan keluargaku. Kini saatnya aku berusaha memberikan kebahagiaan yang harus aku berikan kepada mereka.

Wednesday, June 22, 2005

Berjuang?

Kadang aku selalu berpikir? Sampai kapan manusia itu harus bekerja dan berjuang? Bisakah kita berhenti di saat kita merasa mapan, nyaman. Ataukah kita bisa berhenti di saat kita mencapai suatu kebahagiaan dengan cara mendapatkan kekayaan.

Orang bijak banyak berkata, hidup adalah perjuangan. Sedikit banyak aku menangkap, bahwa tidak ada yang mudah di dalam hidup ini. Semuanya, harus diraih dengan cucuran keringat. Tidak ada makanan gratis di dunia fana ini, dan kita membayarnya dengan perjuangan kita.

Dimulai ketika kita lahir, kita belajar untuk bernapas dengan benar, kita berjuang dengan menangis keras agar kita tetap hidup. Begitu juga ketika kita dewasa, kita terus berjuang agar kita mapan, nyaman dan aman.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak pernah berjuang? Atau kata lainnya sulit untuk berjuang? Jika memang sulit untuk itu, ada baiknya kita jangan pernah berhenti untuk mencoba berjuang.

Sunday, June 19, 2005

Bismillahirahmanirrahim

Satu minggu ini adalah hari terberat yang pernah gue lakukan. Gue telah melakukan satu keputusan besar dalam hidup gue. Gue telah meninggalkan kantor gue di Graha Pena dan meninggalkan semua teman-teman gue yang pernah mengisi warna-warni kehidupan gue.

Gue telah meninggalkan satu bagian penting dalam sejarah hidup gue, dimana gue juga pernah mengenal satu kata yaitu kesuksesan.

Kali ini gue juga telah melangkah ke kantor baru gue di Menara Kebon Sirih. Satu minggu ini gue juga kembali melakukannya dari awal. Dan disinilah gue juga berusaha mengenal satu kata yaitu perjuangan.


Tak akan pernah ku lupakan semua yang pernah terjadi dalam kehidupan ini. Semua orang yang menyesal ketika aku pergi (ZHM, Kichan, Yanuar, Wawan, Etty, Yuni dkk), semua yang mendukung aku ketika aku berjuang kembali (Bapak, Mama, Vera dan seluruh keluargaku) dan semua orang yang berusaha mengenal aku untuk ada di sini.

Izinkan aku berucap , Bismillahirrahmanirrahim.

Wednesday, June 08, 2005

Mereka Yang Berseragam Coklat

Dengan borgol dan pistol yang kalian pegang, kami tidak pernah merasa aman.
Mobil dan motor kalian yang melintas justru membuat kami merasa ketakutan.
Jangan pernah hilang ingatan. Seragam kalian bukan hadir untuk kekuasaan.


Sial banget hari ini, lagi asyik-asyiknya naik motor tiba-tiba kok bisa aja mau nabrak mobil polisi. Bagaimana enggak mau nabrak, tiba-tiba saja Mobil KIA itu muncul dari belokan dengan kecepatan tinggi. Untung, gue masih sempat ngerem, kalau enggak bisa-bisa gue nabrak mobil itu. Kan lucu, ada wartawan yang nabrak mobil polisi.

Uniknya, bukannya minta maaf, tuh empat orang polisi malah langsung ngasih tampang teror ke gue. Si polisi berkumis, gemuk dan berkulit hitam langsung ngebuka kaca dan ngomong. "Ini bukan jalan lu Bego."

Ngelihat muka tuh polisi gue cuma senyum-senyum terpaksa aja. Dalam hati, gue cuma pikir, lah dia yang salah kok gue yang dibilang bego.

Ogah berpanjang-panjang masalah, gue langsung tancap gas. Ngapain ngurusin tuh polisi. Paling ujung-ujungnya dia nanya SIM, STNK, Pasal (504) dan Pasal (105).

Pasal 504 dan Pasal 105 itu kata temen gue adalah hal yang biasa dilakukan polisi kalau minta duit, Pasal 504 artinya Rp 50.000 sedangkan Pasal 105 itu artinya Rp 100.000. Jadi siapa saja yang kena tilang langsung saja ngomong, "Pasal 504 aja yah Pak."

Melihat pak polisi itu selintasan gue berpikir, kenapa sih mereka gak pernah membikin hati kita merasa nyaman. Bukankah tugas mereka sebagai polisi adalah membuat kita merasa aman dan nyaman. Kok gak jauh beda ama orang yang ia kejar-kejar tiap hari.

Jujur aja, waktu kecil dulu figur yang sangat gue suka adalah polisi. Baju coklat dan topi segi lima yang mereka kenakan membuat mereka terlihat sangat gagah. Bahkan pernah ketika gue pulang sekolah ada mobil polisi lewat, spontan gue langsung memberikan hormat. Dan gue ingat saat itu, polisi yang ada di dalam mobil itu juga memberikan hormatnya kepada gue. Mungkin, dia satu-satunya polisi yang menjawab mimpi gue. Polisi yang gagah, menghormati, memberikan rasa aman dan bertanggungjawab.

Monday, June 06, 2005

Kisah Sedih di Hari Minggu

Image hosted by Photobucket.com

Seandainya tidak ada hari Minggu, mungkin cerita Supriyono (38) tidak pernah menjadi Headline sebuah koran ibukota. Seandainya, biaya rumah sakit bisa gratis seperti yang dikatakan seorang SBY, cerita Supriyono dan anak bungsunya, Khairunnisa (3), tidak akan pernah terjadi.

Ah, seandainya biaya pemakaman dan harga kain kafan, semurah kita membeli kerupuk, tidak akan ada Khairunnisa-Khairunnisa lainnya disini. Seandainya, dan seandainya Supriyono tahu ini hanyalah mimpi tidur semalam, ia masih bisa mengajak Khairunnisa dan kakaknya, Muriski Saleh (6), jalan-jalan ke sebuah taman.

Minggu pagi (5/6) memang bukan hari yang indah bagi Supriyono. Setelah lelah mencari sampah seharian, di bawah kolong rel kereta api Cikini, Supriyono terbangun. Ada yang beda di pagi itu, Khairunnisa terlihat nyaman tidur di dalam gerobaknya. Namun, wajahnya yang memutih membuat Supriyono curiga. Ia pun berusaha membangunkan anak bungsunya itu.

Melihat anaknya terbujur kaku. Pikiran, Supriyono melayang, beberapa waktu lalu ia tak jadi membawa Khairunnisa ke rumah sakit. Padahal, saat itu Khairunnisa demam tinggi. Karena uang yang tersisa di kantong cuma Rp 5 ribu, Supriyono cuma berdoa agar anaknya sembuh sendiri. "Saya cuma sekali bawa Khairunnisa ke puskemas, Saya tak punya uang untuk berobat lagi. Saya memilung karud, gelas dan botol plastik. Penghasilan saya hanya Rp 10 ribu sehari. Saat itu uang saya tinggal Rp 5 ribu. Jika saya berobat, anak saya satu lagi mungkin tidak akan makan," pikir Supriyono.

Belum selesai pikirannya melayang. Supriyono kembali menangis. Duit di saku cuma Rp 6 ribu. Tak mungkin untu membeli kain kafan, menyewa ambulans dan biaya pemakaman. Sementara itu
Khaerunisa masih terbaring di gerobak.

Namun, kali ini ia tak mau mengecewakan anak gadisnya itu. "Bapak akan buat pemakaman seperti orang lainnya buatmu nak," ucap Supriyono dalam hati.

Ia pun langsung mengajak Muriski berjalan membawa gerobok berisi jenazah Khairunnisa ke Stasiun Tebet. Naik kereta api, Supriyono berniat menguburkan Khairunnisa di kampung pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Dengan bermodalkan sarung lusuh, Supriyono membungkus jenazah Khairunnisa. Dengan kaus warna putih yang biasa ia pakai, Supri menutupi kepala Khaerunnisa.

Namun, Kisah sedih Supriyono belum selesai disini. Begitu Supriyono masuk ke stasiun, orang-orang yang ada di stasiun langsung mengerubunginya. Ia dicurigai telah berbuat yang tidak-tidak pada Khairunnisa. Akhirnya, ia pun digelandang ke Polsek Tebet bersama anaknya Muriski.

Terpaksa Supriyono meladeni pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilayangkan polisi. Ia tidak mengerti, kenapa polisi tidak ada yang bertanya apa yang dapat mereka bantu kepadanya. Seandainya mereka semua itu semua bisa membantu. Bukannya mengirimkan Supriyono ke RSCM.

Di RSCM cerita Supriyono dan Khairunnisa terus berlanjut. Dengan alasan otopsi, pihak RSCM mau menahan Khairunnisa. Mendengar itu, Supriyono marah, ia tidak mau anaknya dibelah-belah hanya untuk kepentingan medis. Ia pun ngotot membawa Khairunnisa keluar.

Hingga Pukul 16.00 WIB, Supriyono baru bisa mengeluarkan Khairunnisa. Lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans. Supri dan Muriski dan terpaksa berjalan kaki sambil menggendong jenazah Khairunnisa.

Sepanjang jalan, warga yang iba memberikan uang sekedarnya untuk ongkos perjalan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum dan makanan sebagai bekal Supri dan Muriski ke Bogor.

Hingga kini aku tidak pernah tahu, apakah Supri dan Muriski berhasil memakamkan ke Khairunnisa ke Bogor. Masih berlanjutkah kisah sedih ini? Jujur, aku tak mau cerita ini bersambung , baik bagi Supri atau ribuan orang-orang miskin lainnya yang ada di sini. Cukup sudah Khairunnisa, jangan ada yang lainnya.

Wednesday, June 01, 2005

Biarkan Kita Berjoget

Image hosted by Photobucket.com


Dulu, ketika zamannya Bang Haji Rhoma Irama pertama kali berjaya, musik dangdut dan joget sama-sama dianggap berbahaya. Musik dangdut dianggap berbahaya karena mampu menggeser popularitas musik pop yang kala itu sangat digandrungi oleh masyarakat.

Mereka takut tersaingi dengan popularitas dangdut yang menurut mereka lahir dari pinggiran kota. Musik dangdut dianggap haram, dan gaya berjoget mereka dianggap lahir dari gerakan setan.

Anggapan ini datang karena setiap ada panggung dangdut mentas, semua orang pada mabuk joget. Saking mabuknya, setiap acara dangdut biasa diakhiri dengan adu jotos antara sesama penonton. Makanya ada istilah yang berkembang di masyarakat, “Senggol dikit gaplok,”

Sampai sekarang fenomena joget dan adu jotos ini masih sering terjadi. Apalagi, kalau di desa-desa atau minimal di kampung-kampung Jakarta. Kalau mau bukti, datang saja ke stasiun televisi TVRI, Senin malam. Disitu seluruh warga Jakarta tumpah ruah menonton aksi joget penyanyi dangdut kesayangan mereka. Dan seperti biasa, ada adu jotos di sana.

Namun, derasnya kapitalisasi dunia musik juga terpaksa mengimbas ke musik dangdut. Demi kepentingan bisnis, musik dangdut yang dulunya lahir di jalanan langsung dianggap kumuh.

Menurut selera penanam modal, musik dangdut yang benar menurut kepentingan bisnis, adalah musik dangdut yang diselenggarakan di kafe-kafe. Yang nonton pada berdasi, dan berbaju seksi.

Goyang yang benar bukan lagi goyang dombret, goyang Karawang atau goyang mesra. Kini, gara-gara bisnis, goyang dangdut tak ubahnya jadi seperti nama barang di toko material, dapur dan lain sebagainya . Ada yang namanya goyang ngocok, goyang ngebor, goyang ngecor, goyang hula-hula, goyang heboh, dan entah nama apalagi.

Dan kita pun makin lama makin sulit untuk mendapatkan panggung dangdut yang benar. Stasiun televisi memang setiap minggu menyelenggarakan acara-acara dangdut. Namun, itu jauh berbeda dengan apa yang kita dapatkan dulu. Panggungnya kebesaran, artisnya bernyanyi terlalu jauh yang menyebabkan kita terpaksa menelan ludah karena melihat pantat bukan karena lagu.

Hijrahnya musik dangdut ke kafe-kafe, membuat kita sulit untuk menonton panggung dangdut. Akibatnya, begitu ada panggung dangdut di televisi, kita pun berebutan menonton. Kita pun semakin sulit untuk berjoget. Tak ada lagi senggolan karena keasyikan berjoget. Yang ada kita bersenggolan karena tak bisa memandang bodi seksi si penyanyi dangdut.

Kita butuh musik dangdut kita kembali pulang. Kita ingin semuanya bisa berdangdut dengan asyik, bukan karena body si penyanyi dangdut. Maka, izinkanlah kami berjoget seperti dua anak di dalam foto ini. Sebab, kita hanya tahu kalau dangdut itu adalah joget.

Tuesday, May 31, 2005

Menunggu Bayaran Lunas

Sekarang zamannya kredit. Mulai dari kartu kredit, rumah kredit, mobil kredit, motor kredit, beli buah, celana dalam hingga kondom juga bisa kredit. Kredit menjadi hal yang wajar, karena negara kita ini juga punya banyak hutangan yang masih dikredit.

Mau gak mau sebagai warga negara yang taat dan patuh, gue juga harus punya barang yang masih dikredit. Yaitu, motor Supra Fit, yang lama kelamaan tagihannya bikin dompet gue makin terjepit.

Bayangin aja, tiap bulan akhirnya, yang kepikiran di otak gue itu bagaimana caranya bayar motor, dan masih punya uang sisa untuk melewatkan satu bulan ini dengan selamat. Tanpa harus minta kredit lagi dari teman-teman yang rata-rata pelit. Alasannya, sama-sama gak punya duit.

Banyak orang yang bilang kalau kredit motor atau mobil itu sama saja dengan nabung. Bedanya, kalau di bank itu kita dapat uang lebih karena bunga. Nah, kalau ngredit, kita harus mengerogoh kantong lebih dalam buat bayarin tuh bunga yang bisa bikin perut jadi melilit.

Bayangin aja, selama dua tahun gue harus membayar cicilan motor. Padahal, jatah makan gue tiap bulan aja gak lebih mahal dibandingin tuh motor. Makanya, kadang kalau gue lagi kesel, gue kagak pernah gue cuci tuh motor. Biarin, biar diberakin emprit.

Seneng sih gue kalau motor gue diberakin burung. Soalnya, ada orang yang bilang, kalau motor diberakin ama burung itu tandanya ada rejeki yang mau datang. (Buktinya, tanya ama wartawan radio Trijaya aja tuh, si Jhoni Sitorus).

Yang pasti, kalau awal bulan gue makin kesel mikirin kreditan motor gue. Selain karena kudu bayar, gue juga musti datang ke kantor WOM, tempat gue bayar kredit. Makin lama gue makin kesel datang ke kantor itu. Soalnya, setiap gue mau bayar gue pasti ngelihat ada 4 macam poster yang isinya kebanggan punya motor kredit.
Salah satu contohnya, Naik-naik ke puncak bukit, paling asyik bareng teman. Walau motor bayarnya kredit. Paling seneng kalau lunas tagihan. Parah.. asli parah.

Jadi kesimpulannya, kalau mau beli motor kredit itu sama saja kayak naik bukit. Lama-kelamaan tagihannya bisa selangit.

Monday, May 30, 2005

Lagi-lagi Sepatu

Ada yang salah dengan sepatu gue? Malam kemarin, gue dibikin malu Cuma gara-gara sepatu. Memang sih kondisi sepatu gue udah agak berantakan.

Saat itu salah satu bos Lampu Merah memberitahukan bos gue kalau gue perlu dibantu. “Bang, bantulah tuh si Wahyu. Masa sepatunya udah kayak begitu,” kata dia.

Inginnya sih dia bersimpati, tapi gaya bahasa dan bahasa tubuhnya itu yang menunjukkan bahwa dia bukan bersimpati. Tepatnya, sih menyindir. Alhasil, temen-temen di kantor gue langsung pada ngelihat emang kenapa sih sepatu gue. Pas ngelihat mereka emang langsung pada ketawa.

Bayangin aja, sol alas sepatu gue itu udah pada bolong semua. Di samping itu jaitannya udah pada lepas. Masih untung warnanya gak berubah. Coba kalau berubah, ampun dah udah jadi alamat celaan of the day nih gue.

Gue memang sengaja maksain tuh sepatu, karena gue beranggapan kalau sepatu itu masih bisa dipakai. Selain itu, gue juga agak malas untuk beli sepatu. Alasan klasiknya, gue agak susah beli sepatu karena kondisi keuangan yang memang tidak pernah memungkinkan.

Tanpa gue sadari, masalah sepatu memang jadi ciri khas tersendiri bagi gue. Mulai dari sekolah, kuliah hingga bekerja, kayaknya sepatu jadi masalah utama bagi gue.

Dulu waktu sekolah, gue pake sepatu warrior. Itu, sepatu warna hitam yang di kiri kanannya ada lambang orang manah dengan tulisan Warrior. Selain harganya murah, memang nyokap sudah lama bikin tradisi ke anak-anaknya agar make sepatu yang kagak mahal-mahal itu.

Celakanya, gue masuk sekolah yang anak-anaknya pada gaul semua. Saban hari, mereka ngomongin masalah sepatu. Sebenarnya gue gak masalah dengan sepatu gue, Cuma lama kelamaan, masalah sepatu jadi hal yang ngebingungin buat gue.

Celakanya lagi, warna sepatu gue tiap hari malah pudar. Maklum, setiap hari dicuci biar kinclong. Alhasil, tiap hari gue malah diledekin soal sepatu. Kate-kate mereka sepatu gue itu udah fosil jaman dulu.

Masa-masa kuliah gue sedikit beruntung. Soalnya, mereka gak pernah masalahin sepatu, Katanya sih makin keren kalau pake sendal jepit. Cuma gue baru kerepotan soal sepatu, ketika ujian semester akhi tiba. Peraturan mengatakan gue gak bakalan boleh masuk ruang ujian kalau gak pake sepatu.

Alhasil gue terpaksa minta teman satu kost untuk minjem sepatu. Bukan karena apa-apa, sepatu gue memang udah jebol, karena kebanyakan gue pake. Ceritanya, gue dibeliin sepatu mereka Yongki Komaladi. Karena lagi ngetrend, tuh sepatu gue pake segala kondisi dan waktu. Ya udah, akhirnya jebol juga.

Begitu masuk kerja, gue juga dibeliin sepatu. Lagi-lagi mereknya Yongki. Karena kasusnya sama, sepatu gue juga jebol. Dan inilah sepatu yang gue pake sampai saat ini.

Kadang gue pernah sih mau beli sepatu, Cuma gue rasa sepatu jebol ini udah punya banyak cerita bersama gue. Sepatu ini udah sering gue pake liputan. Mulai berlari-lari ketakutan karena ada bentrokan massa Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dengan polisi di depan rutan Salemba. Hingga berlari mengejar lokasi bom di Hotel Marriot. Bayangin, dah tuh sepatu. Semua keringat ama cerita bercampur jadi satu.

Jadi kalau ada orang yang prihatin sama sepatu gue, itu karena dia tidak tahu. Mengutipm kata Jesuc Kristus, Tuhanku ampunilah mereka karena mereka tidak tahu.

Saturday, May 28, 2005

25th Hour Monolog

Image hosted by Photobucket.com


Fuck me? Fuck you!
Fuck you and this whole city and everyone in it.
Fuck the panhandlers, grubbing for money, and smiling at me behind my back.

Fuck squeegee men dirtying up the clean windshield of my car.Get a fucking job!

Fuck the Sikhs and the Pakistanis bombing down the avenues in decrepit cabs, curry steaming out their pores and stinking up my day. Terrorists in fucking training. Slow the fuck down!

Fuck the Chelsea boys with their waxed chests and pumped up biceps. Going down on each other in my parks and on my piers, jingling their dicks on my Channel 35.

Fuck the Korean grocers with their pyramids of overpriced fruit and their tulips and roses wrapped in plastic. Ten years in the country, still no speaky English?

Fuck the Russians in Brighton Beach. Mobster thugs sitting in cafés, sipping tea in little glasses, sugar cubes between their teeth. Wheelin' and dealin' and schemin'. Go back where you fucking came from!

Fuck the black-hatted Chassidim, strolling up and down 47th street in their dirty gabardine with their dandruff. Selling South African apartheid diamonds!

Fuck the Wall Street brokers. Self-styled masters of the universe. Michael Douglas, Gordon Gecko wannabe mother fuckers, figuring out new ways to rob hard working people blind. Send those Enron assholes to jail for fucking life! You think Bush and Cheney didn't know about that shit? Give me a fucking break! Tyco! Imclone! Adelphia! Worldcom!

Fuck the Puerto Ricans. 20 to a car, swelling up the welfare rolls, worst fuckin' parade in the city. And don't even get me started on the Dom-in-i-cans, because they make the Puerto Ricans look good.

Fuck the Bensonhurst Italians with their pomaded hair, their nylon warm-up suits, and their St. Anthony medallions. Swinging their, Jason Giambi, Louisville slugger, baseball bats, trying to audition for the Sopranos.

Fuck the Upper East Side wives with their Hermés scarves and their fifty-dollar Balducci artichokes. Overfed faces getting pulled and lifted and stretched, all taut and shiny. You're not fooling anybody, sweetheart!

Fuck the uptown brothers. They never pass the ball, they don't want to play defense, they take fives steps on every lay-up to the hoop. And then they want to turn around and blame everything on the white man. Slavery ended one hundred and thirty seven years ago. Move the fuck on!

Fuck the corrupt cops with their anus violating plungers and their 41 shots, standing behind a blue wall of silence. You betray our trust!

Fuck the priests who put their hands down some innocent child's pants. Fuck the church that protects them, delivering us into evil. And while you're at it, fuck JC! He got off easy! A day on the cross, a weekend in hell, and all the hallelujahs of the legioned angels for eternity! Try seven years in fuckin Otisville, Jay!

Fuck Osama Bin Laden, Alqueda, and backward-ass, cave-dwelling, fundamentalist assholes everywhere. On the names of innocent thousands murdered, I pray you spend the rest of eternity with your seventy-two whores roasting in a jet-fueled fire in hell. You towel headed camel jockeys can kiss my royal, Irish ass!

Fuck Jacob Elinski, whining malcontent.

Fuck Francis Xavier Slaughtery, my best friend, judging me while he stares at my girlfriend's ass.

Fuck Naturel Rivera. I gave her my trust and she stabbed me in the back. Sold me up the river. Fucking bitch.

Fuck my father with his endless grief, standing behind that bar. Sipping on club soda, selling whiskey to firemen and cheering the Bronx Bombers.

Fuck this whole city and everyone in it. From the row houses of Astoria to the penthouses on Park Avenue. From the projects in the Bronx to the lofts in Soho. From the tenements in Alphabet City to the brownstones in Park slope to the split levels in Staten Island. Let an earthquake crumble it. Let the fires rage. Let it burn to fuckin ash then let the waters rise and submerge this whole, rat-infested place.

No. No, fuck you, Montgomery Brogan. You had it all and then you threw it away, you dumb fuck!

Wednesday, May 25, 2005

Lambaian Malam

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com


Tadi malam pulang jam 11.30 WIB. Kemalaman di kantor karena terlalu asyik menggunakan fasilitas internet kantor yang gratis bagi karyawan.

Selain itu, ada pikiran untuk jalan-jalan santai dengan motor butut gue mengelilingi kota Jakarta. Menikmati suasana malam Jakarta yang bebas dari kemacetan dan kebisingan, dan melihat gadis-gadis malam yang ada di pinggir jalan.

Unik juga, jika melihat mereka. Mereka selalu ceria, seperti tidak ada masalah menghimpit pundak mereka. Padahal, mungkin saja mereka memilih jalan ini karena terlalu banyak masalah yang sulit dipecahkan.

Image hosted by Photobucket.com

Baju-baju mereka juga sangat mencolok, amat kontras dengan suasana malam yang serba gelap. Setiap ada motor atau mobil mendekat, mereka mengayunkan tangan untuk sekedar menyapa. “Hi, kesini aja,” ucap mereka.

Kadang, mereka bergerombol. Kadang, ada juga yang berdiri sendirian. Berdiri menjauh, entah kenapa. Mungkin, karena alasan praktis, yang menyepi sendiri biasanya cantik dan paling gampang didekati. Soalnya, mana mau sih calon pelanggan mendekati wanita-wanita tersebut yang lagi bergerombol. Bisa-bisa digaruk kita oleh mereka.

Hanya saja, ada juga yang sedikit mengganjal. Di tengah keceriwisan mereka, ada juga yang tampak masih belia. Fisik mereka memang jelas terlihat sangat berbeda. Tebalnya make up yang mereka gunakan, tak mampu menyembunyikan tatapan lugu mereka.

Entah alasan apa yang mereka gunakan untuk memilih jalan tersebut. Alasan klasik yang selalu aku baca tentu tak akan bisa menjawab pertanyaan tersebut. Mereka punya orang tua dan mereka punya hak untuk dilindungi segala kebutuhannya. Atau memang karena himpitan ekonomi yang sangat deras membuat mereka memilih untuk hidup di dunia ini. Atau memang, alasan pergaulan musti kita terima?

Sayang semakin malam, kebahagiaan di wajah mereka justru perlahan memudar. Datangnya pagi mungkin adalah tanda bahaya bagi mereka. Tanpa datangnya pelanggan, pagi adalah suatu tanda bahwa mereka harus lebih giat, ulet, ganas lagi untuk dapat pelanggan.

Tentu mereka tak mau, satu hari tanpa adanya pemasukan dan ada orang yang mau “memasukkan”.

Sungguh sangat beda memang, ketika pagi tiba gue malah terus-terusan terlena dengan tidur. Tidak mau bekerja padahal matahari sudah mau meninggi. Sedangkan, mereka justru berharap tak datang pagi agar bisa terus bekerja.

Ah… malam, kadang memang lebih banyak menimbulkan pertanyaan dibandingkan jawaban. Semuanya tersembunyi di balik kegelapan.

Tuesday, May 24, 2005

Star Never Wars

Image hosted by Photobucket.com

Beda dengan bulan-bulan sebelumnya, bulan ini jadwal nonton film sangat padat. Habis nonton film XXX2 dan Kingdom Of Heaven, kemarin langsung nonton lagi film Star Wars Episode III: Revenge Of The Sith.

Film yang diperankan oleh Hayden Chsritensen ini sebenarnya premier secara serentak di seluruh dunia tanggal 19 Mei lalu. Pengennya sih, mau jadi orang yang pertama nonton film ini, tapi karena harganya Rp 100 ribu, jadi gak jadi nonton. Terpaksa, memilih jadi orang-orang biasa saja, alias bayar normal.

Sengaja nonton di Citra Land, karena pertimbangan lokasi yang lebih dekat. Apalagi, nontonnya juga nyolong-nyolong waktu kerja. Jam 12.15 dan keluar bioskop jam 14.30. Jadi, bisa alasan untuk keluar kantor. Untungnya, orang-orang kantor percaya.

Perjalanan ke bioskop memang cuma butuh 15 menit. Tapi, karena jalanan macet akhirnya waktu habis jadi setengah jam. Bahkan, tiba di bioskop mepet banget dengan film mulai. Gak heran, kalau nafas sedikit tersengal-sengal ketika duduk di dalam bioskop.

Selain terburu-buru, lokasi bioskop yang ada di lantai 5, membuat gue agak capek berjalan. Maklum berat badan agak menyulitkan nih. Mudah-mudahan nantinya, ada orang yang bisa nyaranin grup 21 agar jangan bikin bioskop ada di lantai teratas mall. Efisien kan, gak ada lagi orang yang lari-lari karena ketakutan ketinggalan film.

Untung, gue gak sempat kehilangan semua bagian film. Ketika duduk, film sudah dimulai dengan soundtrack themenya yang terkenal itu. Untung dah, kalau gak nyesel juga datang buru-buru.

Sialnya, selama nonton gue gak bisa nahan rasa kantuk. Kursi yang empuk, suasana yang gelap dan background film yang juga benar-benar gelap, membuat gue tiba-tiba mengantuk. Akibatnya, hampir sepanjang film beberapa kali gue terus-terusan menguap.

Bukan hanya itu saja, sepanjang film diputar, gue gak henti-hentinya melihat jam tangan. Berkali-kali gue berharap, kapan sih nih film kelar. Soalnya, filmnya kok berputar seperti video game. Tembak sana, tembak sini. Sabet sana, sabet sini. Terbang ke sana, terbang ke sini. Aduh, perasaan kok jadi kayak maen PS 2 yah.

Jujur aja gue emang gak begitu-begitu amat suka film Star Wars. Kebetulan aja gue pernah nonton film Star Wars Episode I, dan II. Jadi, mau gak mau biar lengkap yah harus nonton film ini.

Namun, secara keseluruhan film ini memang luar biasa. Gambar yang ditampilkan oleh George Lucas dkk, benar-benar sangat hidup. Antariksa yang sangat luas, kapal perang angkasa berukuran raksasa, dan permainan light sabre yang sangat mengagumkan.

Yang pasti film ini berhasil menjawab semua tanda tanya gue tentang siapa itu Darth Vadder. Siapa sebenarnya yang ada di balik topeng hitam tersebut. Walaupun sebenarnya sudah tahu, tapi kan pengen tahu jalan ceritanya.

Tapi, sebenarnya sangat jauh dari pengharapan. Gue sangat berharap, figur idola gue, Master Yoda bisa banyak memberikan petuah-petuahnya dalam film tersebut. Sayang, petuahnya hanya satu saja dalam film tersebut. Ketika Anakin bertanya kepadanya tentang belajar untuk menerima kehilangan.

Dan gue memang belajar banyak dari film tersebut. Jangan nonton film buru-buru, kalau enggak lu bakal susah nikmatin tuh film, alias bakal ngantuk karena lelah. Selain itu, belajarlah untuk menerima bahwa kebahagiaan tidak selamanya kekal dalam manusia. Hal yang sekalipun sangat kita cintai, sebenarnya tidak pernah abadi. Karena kita hidup dalam dunia yang memang tidak abadi. Segala yang kekal saat ini akan punah, segala yang punah akan kekal di hari nanti.

Btw, Sin City udah premier juga kemarin. Siap-siap lagi untuk nonton.

Friday, May 20, 2005

Oh Keretaku..!

Image hosted by Photobucket.com


Tadi malam, kita sempat direpotkan dengan berita tabrakan kereta di Lampung. Tabrakan naas yang melibatkan kereta angkut batubara, KA Babaranjang dan KA Fajar Utama itu, menyebabkan empat orang tewas seketika dan puluhan lainnya luka-luka.

Saking kencangnya tabrakan itu, satu gerbang kereta sempat mencelat keatas. Bisa dibayangkan, bagaimana sakitnya orang-orang yang ada di dalam kereta itu. Aku sendiri enggan membayangkan, karena sulit sekali untuk menerima kenyataan bahwa ada kereta (bisa lagi!) saling bertabrakan.

Peristiwa tabrakan ini menambah catatan hitam lainnya di dunia perkeretaapian. Hal ini bisa jadi peringatan, selain aman dan cepat, kereta juga sarana transportasi yang paling berbahaya.

Bisa jadi kereta adalah sarana transportasi yang paling membunuh. Sekali terjadi, korban yang jatuh bisa jadi sulit untuk dihitung dengan dua tangan.

Memang, dibandingkan sarana transportasi yang lain, kereta api memang sarana transportasi paling favorit. Walau selalu dipadati oleh penumpang, orang tetap mau menggunakan jasa kereta. Alasannya, praktis, murah dan cepat.

Sayang, sebagai transportasi favorit, pihak pengurus kereta api, yakni PT. KAI, tidak bisa mengurusnya dengan baik dan maksimal. Berada di dalam dan di luar kereta itu jadi sangat berbahaya.

Di dalam kereta, tingkat keamanan di kereta sangat mengkhawatirkan. Selain kerap terjadi pelecehan seksual, tindakan kriminal gampang terjadi. Lemahnya kontrol pengamanan, membuat para kriminal tidak takut beraksi.

Dulu, pernah ada dua orang mahasiswa, dari UI dan Gunadarma tewas karena ulah copet yang beraksi di dalam kereta. Tanpa rasa kemanusiaan, pencopet itu melempar seorang mahasiswa ke luar kereta, hanya karena ia tidak punya apa-apa.

Di luar kereta, sama juga bahayanya. Berdasarkan catatan PT. KAI, ada 7.545 pintu perlintasan di sepanjang jalur KA di Pulau Jawa. Total, 6.354 di antaranya atau 84% tidak berpalang pintu dan tidak dijaga petugas.

Kabar terbaru, di Jakarta dalam sebulan ini total 59 orang tewas karena ketabrak kereta. Yang paling fenomenal, belum lama ini, ketika sebuah kereta Argo Bromo menabrak warung remang-remang dan menyebabkan 6 orang WTS tewas. Jadi, bayangkan betapa berbahayanya kereta tersebut.

Dengan catatan di atas, ada baiknya kita waspada ketika melewati persimpangan kereta baik itu berjalan kaki, motor ataupun mobil.

Uniknya, walaupun banyak catatan hitam tertoreh di sejarah perkeretapian Indonesia. Pihak, PT KAI enggan untuk meningkatkan pelayanannya kepada konsumen. Mereka seakan enggan untuk peduli pada keselamatan para pelanggannya.

Tingginya ketergantungan kita terhadap kereta, membuat pihak PT. KAI seakan-akan berdiri pada posisi yang superior. Sebab, jika toh kita menolak untuk menggunakan kereta, masih banyak orang lain yang ngantri.

Jika begini terus, sempat terpikir alangkah baiknya jika pihak swasta perlu dilibatkan dalam bisnis kereta api. Keterlibatan swasta ini bisa diharapkan guna mencegah PT. KAI,
menjadikan kereta api sebagai industri bisnis semata tanpa keselamatan yang prima.

Yah, kalau keselamatan prima, minimal kita tidak perlu repot-repot lagi menulis berita, ada kereta tabrakan, orang atau mobil tewas ketabrak kereta. Gak jaman gitu lho, kalau mau beda, sekalian aja kayak di Jepang. Kereta keluar jalur nabrak apartemen.

Wednesday, May 18, 2005

Hari ini ada orang yang kena tembak. Seorang pria, yang katanya bos judi di kelapa gading, tewas dengan dada berdarah di Hotel Surya, Jakarta Pusat.

Peristiwa yang terjadi di pagi-pagi buta itu kontan membuat banyak orang panik. Termasuk, salah satu supir taksi yang Vera tumpangi, kebetulan mereka memang ada di lokasi kejadian.

Akibat ledakan senapan, puluhan orang langsung mengerubungi lokasi. Tapi, itu terjadi setelah mobil pelaku penembakan pergi. Sebab, tidak bakalan ada orang yang berani datang jika masih ada orang yang megang senjata.

Tidak seperti peristiwa lainnya, peristiwa penembakan kali ini tidak membikin macet ruas jalan yang ada. Wartawan dari televisi yang paling duluan datang, setelah itu baru polisi. Entah kenapa, selalu begitu, polisi selalu datang terlambat.

Aku sendiri mendengar kabar tersebut langsung dari Vera. Ia takut dengan situasi keramaian di lokasi kejadian. Begitu mendengar ada orang yang tertembak, aku langsung menelpon teman wartawanku yang memang bertugas di Jakarta Pusat. Dari dia dapat dipastikan memang ada peristiwa penembakan.

Jika diingat-ingat kembali, peristiwa penembakan ini sudah kesekian kalinya terjadi di Jakarta. Yang paling fenomenal adalah penembakan bos Asaba, Boedhyarto Angsono, yang dilakukan oleh menantunya sendiri, Gunawan.

Dengan menggunakan jasa marinir, Gunawan, tega menghabisi mertuanya sendiri. Alasannya, dendam pribadi. Saat itu pihak kepolisian berhasil menahan Gunawan, dan dua marinir lainnya. Tapi tebak, kedua mantan marinir itu justru berhasil melarikan diri dari penjara POM TNI AL di Jl. Bungur, Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Belum lama ini mereka berhasil kabur. Dan, tiba-tiba saja peristiwa penembakan kembali terjadi. Apakah ini ada hubungannya dengan kaburnya mereka? Entahlah aku tak bisa menduga.

Yang pasti, soal penembakan ala koboi atau misterius bukan hal yang baru lagi di Jakarta. Banyak orang yang berjatuhan atas senjata api tersebut. Belum lagi peluru-peluru nyasar yang nyangsang ke badan orang tanpa di sengaja.

Mungkin sudah saatnya kita untuk berpikir agar ada pembatasan kepemilikan senjata. Sebab, di Jakarta ini, banyak orang yang tidak mau berpikir dengan baik ketika memegang senjata.

Monday, May 16, 2005

Gugatan Kingdom Of Heaven

Image hosted by Photobucket.com

Minggu kemarin, ada kesempatan untuk menonton film Kingdom Of Heaven. Sengaja datang lebih awal, karena menduga film ini pasti akan memakan banyak antrian. Sayang, dugaan itu meleset, sebab ternyata tidak cukup banyak orang yang memilih untuk nonton film besutan Scott Ridley itu.

Film yang saya kira berdurasi 2,5 jam ini memang menarik. Tema yang diusung memang sangat patut disimak, pertempuran antara Muslim dan Nasrani memperebutkan satu kota bersejarah, Jerusalem.

Jikalau orang lain mengatakan bahwa film ini membawa pesan damai, saya justru punya pendapat lain. Saya menganggap bahwa film yang mengerahkan jutaan orang ini justru dengan sangat baik mengambarkan gugatan manusia atas nama agama.

Betapa manusia dengan mudahnya menyelewengkan agama atas nama kepentingan, kekayaan dan hasrat. Betapa manusia dengan mudahnya terlupa, bahwa agama justru hadir bagi manusia bukan untuk Tuhannya.

Ridley memperlihatkan gugatan ini dengan baik di awal film. Ketika seorang pendeta bejat , karena menyuruh memenggal kepala orang yang mati hanya karena ia bunuh diri, mati dibakar oleh Balian. Balian yang kesal dengan ulah pendeta tersebut tak bisa menahan emosi ketika pendeta tersebut berulang kali menuduh istrinya berada di neraka, seolah-olah ia adalah orang yang benar dan suci. Padahal ia toh mencuri harta satu-satunya istri Balian, yaitu kalung salib.

Gugatan kedua adalah ketika pasukan Uskup yang mengejar Balian justru memerangi pasukan pimpinan Godfrey of Ibelin, yang notabene adalah para crusader. "Dia tidak bisa sesuai dengan hukum tapi bukan bersalah karena perintah Tuanmu," kata seorang pasukan pimpinan Godfrey.

Gugatan ketiga ketika Tiberias mengatakan kepada Balian, bahwa ia malu karena perang ini. "Aku berpikir dulu kita berperang demi Tuhan dan agama. Ternyata ini semua terjadi hanya karena harta dan kekayaan. Aku mundur," tegas Iberias.

Gugatan keempat secara lugas diperlihatkan oleh Ridley ketika Balian, hendak membakar mayat-mayat yang ada di Jerusalem. Kala itu uskup agung Heraclius meminta Balian untuk menguburkan mereka dengan wajar. Tapi Balian menolak dan menyuruh mereka agar membakar semua mayat tersebut. "Tuhan akan mengerti apa yang kita lakukan. Jika tidak maka ia bukan Tuhan," katanya.

Gugatan kelima, ketika Balian mengatakan kepada seluruh penduduk kota Jerusalem, bahwa bagian mana kota ini yang paling suci. "Tidak ada paling suci di kota ini, apakah itu tembok, masjid atau sebuah bukit. Manusialah yang menginginkan mereka paling tinggi," tegas Balian.

Yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana Balian mendengarkan sebuah petuah Baldwin IV tentang Tuhan. "Tuhanmu itu ada disini (otak) dan disini (hati),"

Baldwin IV memang benar, banyak manusia yang bertindak bukan dengan hati dan otaknya. Manusia justru terjebak bertindak dengan nafsunya. Parahnya, nafsu itu menjadi sangat buruk ketika ditempelkan dengan alasan untuk Tuhan.

Thursday, May 05, 2005

Tuhan, di tepian ini aku berdiri sendiri
Tak ada yang menemani selain rasa kalut yang memenuhi dada ini.

Tuhan, jika aku telah berpaling
Ku harapkan, engkau mau tuk memberikan tanda bahwa aku telah terlalu jauh melangkah.

Tuhan, ketika aku mengingat-Mu. Ijinkan aku mengekalkan semua karunia, dan kasih sayang-Mu di dalam hati yang lemah ini.

Tuhan, ketika aku meminta-Mu untuk kembali
Berikan aku jalan untuk menuju pintu keagungan-Mu.

Hari ini hujan turun sangat deras. Bunyi deras hujan mengingatkan aku pada sebuah kenangan. Dulu aku pernah berkata kepada seorang temanku, di kampus bahwa aku sangat senang dengan hujan.

Bunyi tumbukan air hujan dengan permukaan bumi, bau wangi tanah yang menyeruak hidung, dan gelegar petir yang mengumandang seluruh buana, sangat aku suka. Di tengah hujan aku merasakan kesejukan yang tak mungkin pernah kita temukan.

Bukan hanya itu saja, aku sangat senang bermain dibawah derasnya air hujan. Aku ingin seluruh badanku ini merasakan air yang turun secara cuma-cuma dari langit. Hujan itu adalah sebuah karunia Tuhan kepada manusia, dan aku ingin jadi orang yang pertama kali merasakannya.

Di tengah hujan aku selalu merasa bahagia. Hembusan angin menelusur seluruh badan serasa angin surga. Tak ada panas yang menghujam, yang ada justru kesejukan di dalam sebuah kegelapan.

Tuesday, May 03, 2005

Setiap orang pasti pernah marah-marah. Bohong lah, kalau ada orang yang tidak pernah marah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang mulia itu, juga pernah marah. Walau sangat berbeda dengan kita sebagai manusia biasa, Rasulullah ternyata bisa juga kehilangan kesabaran. Hal ini bisa kita lihat di dalam Al-Qur’an surat Abasa.

Lalu, bagaimana jika ada orang yang pekerjaannya setiap hari marah-marah. Pasti kita akan bertanya di dalam hati, apakah orang ini bisa untuk sekali saja tidak marah. Atau apakah orang itu tidak tahu kalau kemarahan itu bisa menimbulkan luka bagi orang-orang lainnya.

Selain menimbulkan luka, marah juga bisa bikin orang kehabisan energi. Lihat saja kalau orang lagi marah-marah, pasti selalu berkeringat. Bukti lainnya, sehabis orang marah-marah pasti ia langsung mencari gelas untuk minum.

Hal ini digambarkan dengan baik oleh Walt Disney dalam setiap film kartunnya. Lihat saja, ketika Donald Duck marah-marah kepada ketiga keponakannya Huey, Louie dan Douey, mukanya langsung merah memanas. Ngebul lagi kayak air yang sudah matang dimasak.

Namun, luka yang paling sulit dihindarkan adalah luka hati karena marah-marah. Pernah ada suatu postingan di milis jurnalisme yang mengatakan agar kita menghindar dari kemarahan. Sebab, kemarahan justru akan mengecilkan hati kita sendiri dan mengasingkan hati kita dari hati orang lain.

Lihat saja kalau orang marah, mereka pasti akan berteriak keras-keras jika berbicara. Padahal orang yang sedang ia marahi tidak jauh berada di depannya.

Jadi, alangkah baiknya jika kita bisa menghindari dari rasa marah. Yah, minimal gak perlu marah-marah tiap hari kan?

Friday, April 29, 2005

Ratapan Orang Bodoh

Apakah pintar itu seksi? Entah kenapa saat ini banyak sekali orang yang ingin menjadi orang yang pintar. Dulu ketika aku masih sekolah dasar, aku tidak pernah mau menjadi orang yang pintar.

Saat itu aku berpikir orang-orang yang pintar adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk belajar. Tidak ada waktu untuk bermain dengan teman, atau menonton televisi. Padahal, saat itu aku hanya mau untuk menghabiskan waktu dengan bermain, bermain dan bermain.

Untung, saat itu prinsip ini dibantu oleh orangtuaku yang memang membiarkan anaknya ini untuk tidak belajar. Mungkin, jika aku tidak mempunyai orangtua seperti mereka, tentu aku pasti disuruh untuk belajar habis-habisan. Soalnya, setiap orang tua pasti akan bangga jika punya anak yang bisa juara kelas.

Namun, saat ini semua orang seolah-olah berlomba untuk menjadi pintar. Tidak ada yang mau jadi orang bodoh. Seolah-olah menjadi orang bodoh adalah dosa tujuh turunan yang dapat menyengsarakan siapa saja.

Klaim ini semakin menakutkan ketika makna pintar ditempeli dengan mitos-mitos bahwa hanya orang pintar yang mampu kaya, hanya orang pintar yang bisa bertahan hidup, dan hanya orang pintar yang bisa gaet wanita.

Apalagi, saat ini banyak orang yang senang berkompetisi dengan kepintaran. Gaya bicara mereka dibuat-buat seolah-olah mereka adalah orang pintar atau intelektual. Cara pandang mereka dibikin seluas-luasnya, padahal toh tidak pernah bisa mencerna apa yang ada di mata mereka.

Uniknya, hampir semua orang pintar itu tidak pernah mau menerima siapa yang lebih pintar. Lain dengan orang bodoh, secara normal mereka pasti mengakui kalau ada orang pintar.

Entahlah, saat ini aku juga bingung, apakah aku merasa pintar untuk menulis keluhan ini. Ataukah memang ini hanyalah sebuah ratapan usang orang yang bodoh.

Thursday, April 28, 2005

Pernah

Pernahkah kita bermimpi? Aku tidak pernah tahu sampai seberapa sering orang lain bermimpi, kalau aku hampir setiap hari aku bermimpi. Mulai dari bermimpi punya wanita cantik, motor baru, hingga gaji baru yang lebih baik dibandingkan saat ini.

Kita memang tidak pernah dilarang untuk bermimpi. Itu sudah jadi hak istimewa bagi setiap pribadi manusia. Jadi kalau ada orang yang tidak bermimpi atau mengenal mimpi, bisa jadi diragukan sisi kemanusiaannya.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan disini adalah, sampai seberapa jauh kita berusaha mencapai mimpi-mimpi tersebut. Mampukah kita mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Ataukah kita terlalu takut menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan karena kita hanya sanggup dan puas hanya menjadi seorang pemimpi.

Kita memang tidak pernah bersalah jika hanya puas sebagai pemimpi. Tapi alangkah bahagianya kita jika mampu untuk mewujudkan satu saja mimpi kita. Sebab mimpi itu bikin hidup lebih hidup.

Thursday, April 14, 2005

Sunat Jin

Kadang-kadang kalau kita baca koran, pasti pernah membaca berita tentang anak-anak yang disunat secara misterius. Disebut misterius, karena prosesnya yang memang sulit diterima nalar manusia. Akhirnya, banyak orang yang mengatakan kalau mereka itu disunat oleh jin.

Kita tahu kalau proses sunat-menyunat itu pasti dilakukan oleh manusia. Biasanya tukang sunat itu adalah orang-orang profesional yang bergerak dalam dunia kesehatan, biasa disebut dokter atau mantri.

Diluar itu, kita tahu banyak sekali cara tradisional untuk menyunat. Mulai dari menggunakan pisau, silet atau benda tajam lainnya. Biasanya, mereka-mereka yang melakukan penyunatan itu dikenal dengan berbagai nama seperti Bengkong, calak, bing supit, dukun supit, atau lainnya yang mungkin Anda tahu.

Nah, sekarang entah kenapa jin juga ikut-ikutan berubah profesi jadi tukang sunat. Apakah karena memang secara khusus jin punya kemampuan khusus untuk menyunat. Ataukah karena memang hanya manusia-manusia khusus yang bisa disunat oleh jin..

Saturday, April 09, 2005

Jalan Menuju-Nya

Sabtu pagi hari, ketika melihat aku tengah membaca buku Angel and Demons karya Dan Brown, Mamah langsung bertanya kepadaku. “Memangnya kamu mau jadi Kristen, Yu?” tanya Mamah. Sontak saja aku tersadar dengan pertanyaan tersebut. Aku tidak pernah menyadari kalau Mamah memperhatikan koleksi bukuku akhir-akhir ini.

Memang sejak tiga bulan lalu, aku sering membeli buku yang berhubungan dengan Kristen Katholik. Mulai dari Rome Sweet Home karangan Scott Hahn, The Name Of The Rose-nya Umberto Eco, hingga karangan sensasional Dan Brown, The Da Vinci Code dan Angel and Demons. Terakhir, aku membeli buku karangan Paulo Coelho berjudul Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu.

Melihat buku-buku itu, wajar saja jika Mamah berpikir aku mau pindah agama. Soalnya, dulu ketika aku mahasiswa, aku keranjingan baca buku agama Islam. Buku-buku ala spiritual seperti Ibnul Jauzy, Ibnu Qayim Al Jauziyah hingga Ibnu Taymiah selalu aku beli.

Bukan itu saja, buku-buku Islam modern dan liberal juga tak luput dari koleksiku. Mulai dari Mohammed Arkoun, Hasan Hannafi, Abdul Karim Soroush hingga buku yang pernah menggemparkan pesantren-pesantren di Indonesia, Dekonstruksi Syariah karangan Abdul Ahi Ahmed An-Na’im. Untuk nama terakhir ini aku cukup beruntung karena pernah bertemu dengan langsung ketika ia datang ke Indonesia.

Dari situlah, Mamah berkesimpulan kalau aku tengah tertarik tentang Kristen Katholik. Selain itu, aku juga tidak pernah dilihatnya lagi menjalankan ibadah shalat lima waktu. Tak heran, kalau ia langsung berpikir demikian.

Aku memang tertarik dengan Kristen Katholik. Ada rasa yang mendesir ketika aku mempelajari sejarah agama Kristen Katholik. Di tengah kontroversi yang mencuat ala Da Vinci Code hingga pertentangannya dengan kelompok Sains, membuat agama ini seperti sebuah misteri yang harus aku selami.

Tapi layaknya sebuah misteri, aku hanya sebatas mempelajari. Layaknya sebuah misteri, agama ini tidak lain adalah usahaku untuk mencari hakikat keberadaan-Nya. Aku tidak berpindah agama, Aku hanya tengah berusaha mengenal-Nya dari semua jalan.