Apa yang ku dapat dalam hidup ini. Hampir 24 tahun menjalani hidup aku belum mampu untuk mencari tujuan hidupku. Kadang terpikir dalam hati, bahwa tujuan hidup adalah dengan mendapatkan pekerjaan. Namun, itu toh bukan tujuan pasti. Pekerjaan bukan secara otomatis menjadi tujuan hidup.
Kini gue memang saat ini bingung menentukan akhir hidup gue. Apakah dengan pekerjaan ini gue akan mencapai garis akhir kehidupan? Atau berbalik arah mencoba lapangan yang lain. Aku berharap rasa malas ini bisa ku kikis dari hari per hari. Aku tidak mau menjadi orang yang malas dalam menghadapi kehidupan ini.
Let's say satu hari dalam hidup apa yang aku bisa untuk mengikis rasa malas ini. I hope i can develop it.
Tuesday, November 23, 2004
Wednesday, November 17, 2004
Persimpangan
Suasana pekerjaan makin lama makin gak mengenakkan buat gue. Gue saat ini merasa pimpinan-pimpinan gue makin lama makin gak memberikan gue kesempatan untuk berkembang. Gue sulit untuk memposisikan diri, sekarang. Sebab gue nggak pernah mau bekerja dengan malas-malasan.
Mungkin baik bagi gue jika gue harus mengerti batasan-batasan pekerjaan gue. Gue lebih baik diam dan menahan diri daripada membawa diri gue kepada masalah yang lebih sulit lagi. Kalau memang dia menginginkan untuk mengerjakan semuanya, silahkan saja. Gue harus sadar kalau gue memang adalah seorang asisten. Gue tidak boleh mengambil lingkup pekerjaan orang di atas gue.
Atau memang atasan gue merasa tersaingi dengan kemampuan gue. Geer lah.... Sedikitnya itu yang harus gue ambil manfaat dari masalah gue. Pokoknya low profile lah. Gue hanya bekerja jika ada yang tertinggal atau memang memerlukan bantuan gue.
Mungkin baik bagi gue jika gue harus mengerti batasan-batasan pekerjaan gue. Gue lebih baik diam dan menahan diri daripada membawa diri gue kepada masalah yang lebih sulit lagi. Kalau memang dia menginginkan untuk mengerjakan semuanya, silahkan saja. Gue harus sadar kalau gue memang adalah seorang asisten. Gue tidak boleh mengambil lingkup pekerjaan orang di atas gue.
Atau memang atasan gue merasa tersaingi dengan kemampuan gue. Geer lah.... Sedikitnya itu yang harus gue ambil manfaat dari masalah gue. Pokoknya low profile lah. Gue hanya bekerja jika ada yang tertinggal atau memang memerlukan bantuan gue.
Monday, November 15, 2004
Cape Banget
Sudah terlalu lelah badan ini untuk terus mengarungi hidup. Sudah tidak mampu lagi ini hati ini terus berharap. Kemanakah kayuh ini ku bawa, ke ujung dunia atau ke ujung harapan. Dimana tempat berdiam diri yang ku mau? Alur sungai hidup ini terasa melambat. Bayangan badan ku pun bisa terlihat. Percaya kah aku akan bayangan itu, dimana semuanya yang melambat pasti menipu.
Hari ini badan gue kok tidak enak banget.Mungkin ini karena terpengaruh aktivitas gue selama hari Idul Fitri kemarin. Mungkin juga karena aku terlalu lama tertidur. Yang pasti sih, gue gak cukup aja istirahat. Kebanyakan main Winning Eleven sampai pagi hari. Gila yah kok gue sampai segitu maniaknya main game ini. Wajar, karena gue gak punya teman untuk diajak menghabiskan malam.
Aneh juga, setiap bermain WE, emosi gue selalu meledak-ledak. Segala sumpah serapah aku keluarkan kalau aku mengalami kekalahan bahkan kalau seri pun mulut ku selalu nyerocos omongan yang kasar. Harusnya tidak begini, aku paling ogah untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Kalau gue berpikir yang menyebabkan kata-kata kasar itu keluar adalah karena sifat egois dari diri ku. Aku ingin menang, namun dengan cara yang mudah. Bahkan kalau perlu sesingkat-singkatnya. Alhasil aku tidak pernah bisa menerima kekalahan karena itu pasti menghambat keinginanku. Dan aku benci mengulang, karena aku tidak kuat menghadapi tantangan.
Kalau menyadari hal itu, justru aku adalah orang yang bodoh. Aku harus terbiasa mengalami tantangan ini. Tantangan justru akan membuat diriku semakin berkualitas. Bahkan batu yang jelek pun jika diasah terus maka akan menjadi pisau yang tajam. Mudah-mudahan aku bisa menyadari kelemahan ini. Catat dalam hati ku, aku tidak mau kalah dalam tantangan, dan sekalipun aku jatuh aku mau untuk mengulang.
Hari ini badan gue kok tidak enak banget.Mungkin ini karena terpengaruh aktivitas gue selama hari Idul Fitri kemarin. Mungkin juga karena aku terlalu lama tertidur. Yang pasti sih, gue gak cukup aja istirahat. Kebanyakan main Winning Eleven sampai pagi hari. Gila yah kok gue sampai segitu maniaknya main game ini. Wajar, karena gue gak punya teman untuk diajak menghabiskan malam.
Aneh juga, setiap bermain WE, emosi gue selalu meledak-ledak. Segala sumpah serapah aku keluarkan kalau aku mengalami kekalahan bahkan kalau seri pun mulut ku selalu nyerocos omongan yang kasar. Harusnya tidak begini, aku paling ogah untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Kalau gue berpikir yang menyebabkan kata-kata kasar itu keluar adalah karena sifat egois dari diri ku. Aku ingin menang, namun dengan cara yang mudah. Bahkan kalau perlu sesingkat-singkatnya. Alhasil aku tidak pernah bisa menerima kekalahan karena itu pasti menghambat keinginanku. Dan aku benci mengulang, karena aku tidak kuat menghadapi tantangan.
Kalau menyadari hal itu, justru aku adalah orang yang bodoh. Aku harus terbiasa mengalami tantangan ini. Tantangan justru akan membuat diriku semakin berkualitas. Bahkan batu yang jelek pun jika diasah terus maka akan menjadi pisau yang tajam. Mudah-mudahan aku bisa menyadari kelemahan ini. Catat dalam hati ku, aku tidak mau kalah dalam tantangan, dan sekalipun aku jatuh aku mau untuk mengulang.
When I Die, I'm The Only One Who Smile
Maybe god wants us to meet a few wrong peole before meeting the right one. So that when we finally meet the right person, we will know how grateful to be for that for that gift. When the door of happiness closes, another opens, but often times we look so long at the closed door that we don’t see the one that’s been open for so long. The best kind of friend is the kind that you kick with and never say a word, and walk away feeling like it was the best conversation you have ever had. It might be true that we don’t know what we will until we lost it. Also we don’t know what we have been missing until it arrives.Giving someone all your love is never an assurance that they will love you back. Don’t expect love in return, just wait for it to grow in their heart, but if it doesn’t, be sure it grows in yours. It takes only minute to get crush on someone, an hour to like someone, and a day to love someone, but it takes a lifetime to forget someone. Don’t always go for looks, they can deceive. Don’t go for money, even money fades away. Go for someone who makes you smile because it could only take a smile to make a dark day seen bright. You find that one person that makes you smile in your heart. There are moments in you life when you miss someone so much that you just want to pick then from your dream and hold them in your embrace. You could dream, go where you want to go, be what you want to be cause you only have one life and one chance to do everything that you want to.You may have enough happiness to make you sweet enough, strength to make you strong enough, sorrow to keep you happy. You should put your self in others shoes if you feel that it hurts you then it probably hurts them too. The happiest people don’t necessarily have to have the best of everything. They just make the best out of everything that comes their way. Happiness lies for those who cry, those who hurt, those who have tried, for they can appreciate the importance of people who have touched their lives.The brightest future will be based on forgotten past. You cant go on in life until you let go of your past failures and heartaches. Love begin with smile, grows with a kiss and ends with tear. When you have born, you were the one crying and everyone around you was smiling. You should life good so when you die, you are the one who smiling and everyone around you is crying.
Maybe god wants us to meet a few wrong peole before meeting the right one. So that when we finally meet the right person, we will know how grateful to be for that for that gift. When the door of happiness closes, another opens, but often times we look so long at the closed door that we don’t see the one that’s been open for so long. The best kind of friend is the kind that you kick with and never say a word, and walk away feeling like it was the best conversation you have ever had. It might be true that we don’t know what we will until we lost it. Also we don’t know what we have been missing until it arrives.Giving someone all your love is never an assurance that they will love you back. Don’t expect love in return, just wait for it to grow in their heart, but if it doesn’t, be sure it grows in yours. It takes only minute to get crush on someone, an hour to like someone, and a day to love someone, but it takes a lifetime to forget someone. Don’t always go for looks, they can deceive. Don’t go for money, even money fades away. Go for someone who makes you smile because it could only take a smile to make a dark day seen bright. You find that one person that makes you smile in your heart. There are moments in you life when you miss someone so much that you just want to pick then from your dream and hold them in your embrace. You could dream, go where you want to go, be what you want to be cause you only have one life and one chance to do everything that you want to.You may have enough happiness to make you sweet enough, strength to make you strong enough, sorrow to keep you happy. You should put your self in others shoes if you feel that it hurts you then it probably hurts them too. The happiest people don’t necessarily have to have the best of everything. They just make the best out of everything that comes their way. Happiness lies for those who cry, those who hurt, those who have tried, for they can appreciate the importance of people who have touched their lives.The brightest future will be based on forgotten past. You cant go on in life until you let go of your past failures and heartaches. Love begin with smile, grows with a kiss and ends with tear. When you have born, you were the one crying and everyone around you was smiling. You should life good so when you die, you are the one who smiling and everyone around you is crying.
Tuesday, November 09, 2004
Money is the root of all evil, tidak semuanya bisa dibeli dengan uang namun semuanya butuh uang. Uang merupakan dasar transaksi manusia dalam mempertahankan hidup. Dengan uang manusia bisa membeli semua kebutuhan hidup. Padahal, dulu jauh sebelum manusia mengenal uang, manusia masih bisa bertahan hidup dengan menggunakan sistem barter. Tapi sekarang sudah jauh berbeda. Kompleksitas dan modernitas hidup menuntut manusia untuk menyederhanakan sistem barter dengan menggunakan uang. Perlahan demi perlahan, uang pun mulai merenggut kebebasan manusia atas dirinya sendiri.
Manusia tidak bisa untuk menahan diri untuk tidak mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sistem kapitalistik membuat manusia lebih memposisikan diri untuk money gathering. Hal yang sangat bertolak belakang dengan tipikal manusia jaman dahulu yang lebih konsen pada masalah food gathering.
Tidak heran jika atas dasar money gathering itu lah tingkat kebutuhan manusia akan uang saat ini begitu tinggi. Terjadilah korupsi, terjadilah pinjaman hutang uang yang begitu tinggi di masyarakat. Uang menjadi masalah utama dalam diri manusia. Bahkan mungkin bisa lebih penting daripada agama.
Sebagai orang yang bekerja, aku memang menginginkan uang. Aku sulit untuk menghabiskan uang yang telah ku hasilkan. Makanya, sulit bagiku menerima ketika mengetahui bahwa uang 100 ribu di dompet ku telah hilang. Uang telah merampas kesadaran ku untuk menyadari bahwa uang itu bukanlah untuk dikumpulkan melainkan untuk digunakan.
Aku tersadar, ketika Vera, mengatakan kepadaku bahwa aku memang orang yang terus-terusan mempermasalahkan soal uang. Aku kerap mengatakan kepadanya bahwa aku kekurangan uang. Mungkin ia memang bosan mendengar cerocosan uang itu.
Sulit memang bagiku untuk melupakan masalah uang. Dengan gajiku yang standar dan terhitung minim, memang membuat aku sulit untuk menjalani semua aktivitas dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, aku harus sadar bahwa saat ini aku termasuk orang yang beruntung karena masih bisa mendapatkan uang. Nikmati saja itu... cukup tidak perlu lagi aku pikirkan yang lainnya....
Manusia tidak bisa untuk menahan diri untuk tidak mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sistem kapitalistik membuat manusia lebih memposisikan diri untuk money gathering. Hal yang sangat bertolak belakang dengan tipikal manusia jaman dahulu yang lebih konsen pada masalah food gathering.
Tidak heran jika atas dasar money gathering itu lah tingkat kebutuhan manusia akan uang saat ini begitu tinggi. Terjadilah korupsi, terjadilah pinjaman hutang uang yang begitu tinggi di masyarakat. Uang menjadi masalah utama dalam diri manusia. Bahkan mungkin bisa lebih penting daripada agama.
Sebagai orang yang bekerja, aku memang menginginkan uang. Aku sulit untuk menghabiskan uang yang telah ku hasilkan. Makanya, sulit bagiku menerima ketika mengetahui bahwa uang 100 ribu di dompet ku telah hilang. Uang telah merampas kesadaran ku untuk menyadari bahwa uang itu bukanlah untuk dikumpulkan melainkan untuk digunakan.
Aku tersadar, ketika Vera, mengatakan kepadaku bahwa aku memang orang yang terus-terusan mempermasalahkan soal uang. Aku kerap mengatakan kepadanya bahwa aku kekurangan uang. Mungkin ia memang bosan mendengar cerocosan uang itu.
Sulit memang bagiku untuk melupakan masalah uang. Dengan gajiku yang standar dan terhitung minim, memang membuat aku sulit untuk menjalani semua aktivitas dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, aku harus sadar bahwa saat ini aku termasuk orang yang beruntung karena masih bisa mendapatkan uang. Nikmati saja itu... cukup tidak perlu lagi aku pikirkan yang lainnya....
Wednesday, November 03, 2004
Pulang dari kantor, gue lihat mama sedang tertidur di kamar gue. Entah kenapa dia memisahkan dirinya untuk tidak tidur dengan Papa. Sadar kalau kamar gue dipakai, gue lebih memilih untuk tidur di depan televisi. Lumayan, memang gue mau menunggu Piala Champion. Walau sudah dimelek-melekin untuk nonton ternyata gue tetap aja ketiduran.
Yang masih jadi kepikiran buat gue adalah, ketika pas gue bangun Mama sudah pindah tempat tidur. Ia malah ikut tidur di sofa. Ia terus menyiksa dirinya sendiri.
Mama, sulit memang untuk mengerti dirimu. Padahal, sudah ribuan cara anak-anakmu mencoba untuk berusaha menyenangkan kamu tapi kenapa sulit sekali kamu untuk mengerti. Mama, kapan kah kau merasa nyaman di hari-hari terakhir mu ini. Maaf Mah, kalau aku memang tidak mampu menunjukkan kebahagiaan buat kamu.
Yang masih jadi kepikiran buat gue adalah, ketika pas gue bangun Mama sudah pindah tempat tidur. Ia malah ikut tidur di sofa. Ia terus menyiksa dirinya sendiri.
Mama, sulit memang untuk mengerti dirimu. Padahal, sudah ribuan cara anak-anakmu mencoba untuk berusaha menyenangkan kamu tapi kenapa sulit sekali kamu untuk mengerti. Mama, kapan kah kau merasa nyaman di hari-hari terakhir mu ini. Maaf Mah, kalau aku memang tidak mampu menunjukkan kebahagiaan buat kamu.
Tuesday, November 02, 2004
Kambing, Mbeeeekkk..
Kelemahan terbesar dalam diri gue adalah gue selalu takut untuk mencoba hal yang baru. Kelemahan itu justru menjadi rasa takut yang diam-diam mengendap dalam diri gue. Entah kenapa, sulit bagi gue untuk mencabut seluruh perasaan itu. Tanpa ku ketahui rasa ketakutan itu justru menjadi penjara bagi diri gue.
Aku selalu menyalahkan keadaan yang ada. Mengkambinghitamkan semua persoalan yang sulit ku lalui.
Gue merasa heran, kenapa blog yang seharusnya gue tulis segala keseharian gue menjadi keluh kesah diri gue akan ketidakmampuan diri gue dalam menghadapi masalah hidup. Aku benar-benar ingin sekali menjadikan blog ini penuh dengan nilai-nilai hidup yang ku dapat dari keseharian gue. Namun, itu selalu tidak mungkin, aku selalu berkeluh kesah.
Aku memang mengeluh, aku menyesal, aku membenci semua yang terjadi dalam hidup ini. Aku mengeluh karena aku sendirian dalam hidup ini, tidak ada teman, yang ada hanya diriku sendiri. Tapi bukankah kesendirian adalah suatu kesenangan, atau kah karena memang aku tidak pernah bisa menghargai nikmat hidup yang ku jalani ini.
Aku selalu menyalahkan keadaan yang ada. Mengkambinghitamkan semua persoalan yang sulit ku lalui.
Gue merasa heran, kenapa blog yang seharusnya gue tulis segala keseharian gue menjadi keluh kesah diri gue akan ketidakmampuan diri gue dalam menghadapi masalah hidup. Aku benar-benar ingin sekali menjadikan blog ini penuh dengan nilai-nilai hidup yang ku dapat dari keseharian gue. Namun, itu selalu tidak mungkin, aku selalu berkeluh kesah.
Aku memang mengeluh, aku menyesal, aku membenci semua yang terjadi dalam hidup ini. Aku mengeluh karena aku sendirian dalam hidup ini, tidak ada teman, yang ada hanya diriku sendiri. Tapi bukankah kesendirian adalah suatu kesenangan, atau kah karena memang aku tidak pernah bisa menghargai nikmat hidup yang ku jalani ini.
Sunday, October 31, 2004
Kenangan Masa Lalu
Hari ini gue chatting ama Daud. Entah kenapa gue tiba-tiba teringat kenangan ketika gue dan dia membeli baju lebaran. Saat itu memang sudah lama, namun entah mengapa hal itu sangat berarti dalam banget buat Daud. Ketika itu gue memang menumpang mobil yang ia pakai, Suzuki Escudo warna putih. Mendengar hal itu Daud teringat ketika keadaan ekonominya yang saat itu sangat melimpah.
Dulu Daud, memang mempunyai segalanya. Mobilnya saja empat buah. Ia terbiasa dengan hidup yang enak-enak. Namun, semua itu sudah berubah. Entah kenapa tiba-tiba saja keluarga Daud mengalami perubahan. Ketika bapaknya berhenti bekerja semuanya memang tidak seperti dulu lagi. Perubahan yang drastis ini malah hampir membuat Daud putus asa. Ia tidak bisa untuk hidup enak. Masalahnya juga tidak berhenti di situ saja, keluarganya justru terpisah-pisah dan tidak pernah bertemu. Bahkan di hari lebaran pun mereka tidak pernah bertemu. Semua masalah ini membuat dia sulit untuk menghargai hidup atau bahkan mengakui bahwa hidup ini adalah suatu berkah terbesar dari Tuhan bagi manusia.
Daud my friend, masalah yang kamu hadapi memang susah, gak ada yang bisa gue lakukan buat lu selain mendoakan yang terbaik buat elu. Mungkin kita semua memang salah dalam hidup ini.
Dulu Daud, memang mempunyai segalanya. Mobilnya saja empat buah. Ia terbiasa dengan hidup yang enak-enak. Namun, semua itu sudah berubah. Entah kenapa tiba-tiba saja keluarga Daud mengalami perubahan. Ketika bapaknya berhenti bekerja semuanya memang tidak seperti dulu lagi. Perubahan yang drastis ini malah hampir membuat Daud putus asa. Ia tidak bisa untuk hidup enak. Masalahnya juga tidak berhenti di situ saja, keluarganya justru terpisah-pisah dan tidak pernah bertemu. Bahkan di hari lebaran pun mereka tidak pernah bertemu. Semua masalah ini membuat dia sulit untuk menghargai hidup atau bahkan mengakui bahwa hidup ini adalah suatu berkah terbesar dari Tuhan bagi manusia.
Daud my friend, masalah yang kamu hadapi memang susah, gak ada yang bisa gue lakukan buat lu selain mendoakan yang terbaik buat elu. Mungkin kita semua memang salah dalam hidup ini.
Wednesday, October 27, 2004
Bangun
Entah beberapa hari ini aku selalu senang untuk tidur-tiduran. Ketika malam sudah menjelang, aku kepingin banget tidur nyenyak. Bahkan ketika matahari sudah meninggi, gue lebih senang lagi untuk tidur kembali. Sulit rasanya membuat hati dan niat dalam diri untuk bergerak Bangun.
Saat ini, gue terbangun karena Mama tengah membersihkan kamar yang ada di sebelah kamar gue. Hentakan sapu yang keras di kamarnya membuat aku terbangun. Aku berpikir, kenapa aku yang masih muda ini lebih senang menghabiskan waktunya di kamar saja. Terkungkung dalam kesenangan diri sendiri. Bukankah masih banyak waktu yang bisa gue lakukan secara maksimal untuk diri gue dan orang lain, khususnya orang tua gue.
Aku pun langsung Bangun. Setibanya di lantai bawah, aku melihat keponakan-keponakan ku. Aku tidak melihat dimana bapak berada. Ternyata, ia sudah menjemput keponakan ku Ara. Aku berpikir, kok teganya gue yang masih muda ini membiarkan bapak gue menjemput ponakan. Kenapa aku tidak bangun dari tadi pagi....
Kenapa teramat sulit bagi gue untuk membangun seluruh kemauan yang ada di dalam diri gue. Waktu di dunia ini terlalu amat berharga untuk disia-siakan. Setiap perpindahan detik waktu harus ku manfaatkan secara maksimal. Ayo Wahyu, mari kita Bangun. Mulai saat ini, jangan hanya di dalam hati. Praktekkan semuanya seluruh teori, ingatlah semua waktu akan dipertanggungjawabkan oleh kamu di hadapan Tuhan.
Insya Allah, mulai hari ini aku Bangun. Bukan hanya dalam blog ini tapi dalam keseharian ku. Amin
Saat ini, gue terbangun karena Mama tengah membersihkan kamar yang ada di sebelah kamar gue. Hentakan sapu yang keras di kamarnya membuat aku terbangun. Aku berpikir, kenapa aku yang masih muda ini lebih senang menghabiskan waktunya di kamar saja. Terkungkung dalam kesenangan diri sendiri. Bukankah masih banyak waktu yang bisa gue lakukan secara maksimal untuk diri gue dan orang lain, khususnya orang tua gue.
Aku pun langsung Bangun. Setibanya di lantai bawah, aku melihat keponakan-keponakan ku. Aku tidak melihat dimana bapak berada. Ternyata, ia sudah menjemput keponakan ku Ara. Aku berpikir, kok teganya gue yang masih muda ini membiarkan bapak gue menjemput ponakan. Kenapa aku tidak bangun dari tadi pagi....
Kenapa teramat sulit bagi gue untuk membangun seluruh kemauan yang ada di dalam diri gue. Waktu di dunia ini terlalu amat berharga untuk disia-siakan. Setiap perpindahan detik waktu harus ku manfaatkan secara maksimal. Ayo Wahyu, mari kita Bangun. Mulai saat ini, jangan hanya di dalam hati. Praktekkan semuanya seluruh teori, ingatlah semua waktu akan dipertanggungjawabkan oleh kamu di hadapan Tuhan.
Insya Allah, mulai hari ini aku Bangun. Bukan hanya dalam blog ini tapi dalam keseharian ku. Amin
Tuesday, October 26, 2004
Kehilangan Lagi
Entah kenapa begitu sulitnya hati untuk berketatapan.
Setiap asa tak pernah jadi kenyataan.
Walaupun aku selalu berkeinginan itu hanya tetap jadi keinginan.
Tuhan ajarkan aku cara memahami hati ini
Betapa keruhnya dunia ini tanpa ada Engkau disamping
Malam ini aku sendiri... Tuhan.
Sudah dua hari ini aku tidak melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim. Aku tidak lagi melaksanakan shalat lima waktu. Entah kenapa, keinginan gue untuk beribadah kepada Allah berubah setelah bulan puasa berjalan.
Mungkinkah karena memang gue sulit untuk menetapkan hati ini kepada Tuhan?
Kadang hati ini akan berubah ketika aku mendengarkan atau membaca tulisan-tulisan yang menggugah. Sayangnnya itu hanya bisa berlaku untuk sementara waktu saja. Aku ingin selamanya mengenal Allah. Menjalani keimanan ku tanpa keraguan dan tanpa kemunduran. Aku tidak pernah mau untuk melupakan-Nya. Sayangnya, keinginan itu semua hanya ada dalam hatiku saja. Tidak pernah ku curahkan semua rasa ini seutuhnya dan senyatanya hanya kepada-Nya.
Jikala malam ini hanyalah malah keimanan. Aku ingin merasakan nikmat bersama Mu. Membawa ke ridhaan jalan-Mu.
Entah kenapa begitu sulitnya hati untuk berketatapan.
Setiap asa tak pernah jadi kenyataan.
Walaupun aku selalu berkeinginan itu hanya tetap jadi keinginan.
Tuhan ajarkan aku cara memahami hati ini
Betapa keruhnya dunia ini tanpa ada Engkau disamping
Malam ini aku sendiri... Tuhan.
Sudah dua hari ini aku tidak melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslim. Aku tidak lagi melaksanakan shalat lima waktu. Entah kenapa, keinginan gue untuk beribadah kepada Allah berubah setelah bulan puasa berjalan.
Mungkinkah karena memang gue sulit untuk menetapkan hati ini kepada Tuhan?
Kadang hati ini akan berubah ketika aku mendengarkan atau membaca tulisan-tulisan yang menggugah. Sayangnnya itu hanya bisa berlaku untuk sementara waktu saja. Aku ingin selamanya mengenal Allah. Menjalani keimanan ku tanpa keraguan dan tanpa kemunduran. Aku tidak pernah mau untuk melupakan-Nya. Sayangnya, keinginan itu semua hanya ada dalam hatiku saja. Tidak pernah ku curahkan semua rasa ini seutuhnya dan senyatanya hanya kepada-Nya.
Jikala malam ini hanyalah malah keimanan. Aku ingin merasakan nikmat bersama Mu. Membawa ke ridhaan jalan-Mu.
Wednesday, October 20, 2004
HIdup ini Kok Biasa Aja
Terbangung di pagi hari, Jam 8 pagi. Ah, begini-begini lagi hidup ini. Semuanya serba konstan, tidak ada perubahan. Rutinitas, yang selalu ku lakukan hampir setiap hari. Selama 365 hari gue hidup aktivitas seluruhnya hampir sama. What's wrong with my life?
Entah, kenapa hidup gue selalu biasa aja. Gue tidak pernah menjadikan hidup ini penuh warna. Apakah gue mengalami suatu kejenuhan?
Mandi pagi, langsung bekerja, ngantarin kakak gue ke kantor. Ah, lewat jalan-jalan itu lagi. Nyampai kantor, bue komputer, lihat berita dan lihat situs asyik. Semuanya mungkin terlihat normal, namun nyatanya semua jadi rutinitas yang membosankan.
Main blog, mencurahkan seluruh kehampaan hati gue tapi justru tidak berpengaruh apa-apa. Hanya sebuah coretan-coretan di dinding, yang nantinya hanya akan menjadi arsip. KIta bahkan tidak pernah bisa melihat itu lagi.
Apa yang salah dengan diriku? Mungkinkah aku tidak bisa mencari hidup yang lebih bervariasi dan bermakna dalam hidup ini. I've only got a low life. Bagaimanakah gue bisa merubah jalur hidup gue yang seperti rel kereta ini.
Aku mungkin harus bisa melihat hidup ini dengan merenungkannya. Aku harus bisa memahami semua ini. Hidup mungkin bisa jadi teramat bosan, jika kita tidak melihatnya dari sisi yang lain. Tapi bagaimana caranya? Aku sulit sekali melihat sisi-sisi lain dalam kehidupan ini. Please God, learn me how to bless your kindness.
Entah, kenapa hidup gue selalu biasa aja. Gue tidak pernah menjadikan hidup ini penuh warna. Apakah gue mengalami suatu kejenuhan?
Mandi pagi, langsung bekerja, ngantarin kakak gue ke kantor. Ah, lewat jalan-jalan itu lagi. Nyampai kantor, bue komputer, lihat berita dan lihat situs asyik. Semuanya mungkin terlihat normal, namun nyatanya semua jadi rutinitas yang membosankan.
Main blog, mencurahkan seluruh kehampaan hati gue tapi justru tidak berpengaruh apa-apa. Hanya sebuah coretan-coretan di dinding, yang nantinya hanya akan menjadi arsip. KIta bahkan tidak pernah bisa melihat itu lagi.
Apa yang salah dengan diriku? Mungkinkah aku tidak bisa mencari hidup yang lebih bervariasi dan bermakna dalam hidup ini. I've only got a low life. Bagaimanakah gue bisa merubah jalur hidup gue yang seperti rel kereta ini.
Aku mungkin harus bisa melihat hidup ini dengan merenungkannya. Aku harus bisa memahami semua ini. Hidup mungkin bisa jadi teramat bosan, jika kita tidak melihatnya dari sisi yang lain. Tapi bagaimana caranya? Aku sulit sekali melihat sisi-sisi lain dalam kehidupan ini. Please God, learn me how to bless your kindness.
Thursday, October 14, 2004
Marhaban Yaa Ramadhan
Berapa jam lagi bulan Ramadhan akan datang, sedetik ini juga aku terhempas dalam kenangan. Kenangan ketika betapa indahnya ku lalui bulan suci ini dulu. Ratusan orang berpeci dan bermukenah lalu lalang di muka ku. Betapa bahagianya aku menjadi salah satu bagian dari mereka. Betapa indahnya kenangan itu.
Sekejap ketika ku melakukan shalat Isya, ku tersadar akan indahnya pesona itu. Pesona yang mampu membawa diri ku kepada kesucian hati. Kerendahan hati bahkan kemuliaan diri. Indahnya bulan ini.
Indahnya suasana masjid Fatimah Azzahra, ketika hari-hari demi hari satu juz Qur'an didengungkan. Yang membuat ku tetap tersenyum adalah ketika betapa memaksanya diriku untuk tetap khusyu, padahal kaki ku benar-benar pegal. Indah, ketika rasa sakit dan ibadah berjadi satu. Mungkin ibadah itu benar melemahkan fisik kita sementara namun hati kita menjadi luas dan terpelihara.
Sekarang, bagaimana dengan bulan suci di tahun ini. Akankah aku mengulang kembali kenangan itu. Atau justru tenggelam dalam lumpur kesenangan duniawi ini. Bisa kah aku lebih maju dari kenangan-kenangan itu dulu.
Tuhan kau berikan aku tembok tinggi yang sulit ku lewati. Tembok itu adalah diriku sendiri.
Sekejap ketika ku melakukan shalat Isya, ku tersadar akan indahnya pesona itu. Pesona yang mampu membawa diri ku kepada kesucian hati. Kerendahan hati bahkan kemuliaan diri. Indahnya bulan ini.
Indahnya suasana masjid Fatimah Azzahra, ketika hari-hari demi hari satu juz Qur'an didengungkan. Yang membuat ku tetap tersenyum adalah ketika betapa memaksanya diriku untuk tetap khusyu, padahal kaki ku benar-benar pegal. Indah, ketika rasa sakit dan ibadah berjadi satu. Mungkin ibadah itu benar melemahkan fisik kita sementara namun hati kita menjadi luas dan terpelihara.
Sekarang, bagaimana dengan bulan suci di tahun ini. Akankah aku mengulang kembali kenangan itu. Atau justru tenggelam dalam lumpur kesenangan duniawi ini. Bisa kah aku lebih maju dari kenangan-kenangan itu dulu.
Tuhan kau berikan aku tembok tinggi yang sulit ku lewati. Tembok itu adalah diriku sendiri.
Wednesday, October 13, 2004
Ramadhan
Ada yang hilang dari Ramadhan ini. Dua tahun aku bersamanya, dua tahun juga aku kehilangannya. Tidak ada nuansa eksotis akan kehadirannya. Tidak ada nuansa religi dan mistis ketika menghadapi hari ini. Bahkan satu hari menjelang, aku sama sekali enggan dan menganggapnya sebagai hari biasanya yang selalu terjadi selama perputaran dunia ini.
Apakah aku kehilangannya, atau kah memang aku sudah hilang perasaannya?
Aku terhenyak dengan kata-kata ku sendiri, ketika ku mengatakan kepada teman "Eh, besok puasa..gila yah" Bukan rasa takjub yang ada di mulutku, yang tersisa di perkataan ku adalah betapa takutnya aku akan bulan ini.
Bulan yang penuh dengan penyiksaan, selama 30 hari berpuasa, selama 30 hari menahan rasa amarah, dan nafsu yang ada dalam diri kita. Betapa sulitnya perjuangan itu.
Apakah aku memang takut atau malas untuk melaksanakan salah satu kewajiban ini?
Entah, sampai kapan aku terus berkubang dalam kegelapan ini. Badan ku sama lemahnya dengan niat ku untuk menggapai keilahian-Nya. Tubuh ku luluh akan nikmatnya dunia bukannya nikmat pelukan mistis-Nya.
Apakah aku malu untuk kembali atau kah memang aku lupa semua itu?
Sama sekali jauh berbeda ketika aku berada di Purwokerto. Semuanya serba ibadah, mulut ibadah, kaki ibadah, hampir seluruh tubuh ku adalah ibadah. Kini, apa yang tersisa?
Apakah aku terlarut dalam dunia ini. Atau kah memang aku terkurung dalam lumpur dunia ini?
Tuhan, jika kau mau selamat kan aku. Harus kah aku memohon kepada Mu?
Apakah aku kehilangannya, atau kah memang aku sudah hilang perasaannya?
Aku terhenyak dengan kata-kata ku sendiri, ketika ku mengatakan kepada teman "Eh, besok puasa..gila yah" Bukan rasa takjub yang ada di mulutku, yang tersisa di perkataan ku adalah betapa takutnya aku akan bulan ini.
Bulan yang penuh dengan penyiksaan, selama 30 hari berpuasa, selama 30 hari menahan rasa amarah, dan nafsu yang ada dalam diri kita. Betapa sulitnya perjuangan itu.
Apakah aku memang takut atau malas untuk melaksanakan salah satu kewajiban ini?
Entah, sampai kapan aku terus berkubang dalam kegelapan ini. Badan ku sama lemahnya dengan niat ku untuk menggapai keilahian-Nya. Tubuh ku luluh akan nikmatnya dunia bukannya nikmat pelukan mistis-Nya.
Apakah aku malu untuk kembali atau kah memang aku lupa semua itu?
Sama sekali jauh berbeda ketika aku berada di Purwokerto. Semuanya serba ibadah, mulut ibadah, kaki ibadah, hampir seluruh tubuh ku adalah ibadah. Kini, apa yang tersisa?
Apakah aku terlarut dalam dunia ini. Atau kah memang aku terkurung dalam lumpur dunia ini?
Tuhan, jika kau mau selamat kan aku. Harus kah aku memohon kepada Mu?
Wednesday, October 06, 2004
Pengalaman
Anugerah terbesar bagi manusia dari Tuhan adalah hidup. Betapa indahnya hidup, jika kita lalui dengan pengalaman-pengalaman yang berharga. Betapa bermaknanya hidup jika kita mampu menyadari bahwa kita bisa melalui hidup ini dengan nilai.
Mungkin yang aku sesali dalam hidup ku adalah betapa muramnya hidup ini. Semuanya ku lalui tanpa banyak warna. Semuanya hitam putih dan monoton. Terkadang aku cemburu dengan orang lain yang mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya.
Dari pengalaman hidup akan tercipta banyak pengetahuan. Dari banyak pengetahuan akan tercipta iman. Dari semua itu akan tercipta suatu ultimate goal daripada manusia, yaitu manusia seutuhnya.
Kadang aku berpikir, aku adalah bagian terbesar dari dunia ini. Nyatanya, hidup ini amat lah luas. Masih banyak manusia yang super, manusia yang ganteng, manusia yang pintar, manusia yang lebih licik daripada aku. Walau sulit untuk mengakuinya aku memang harus tahu bahwa manusia di bumi ini bukan aku sendiri.
Dari itu semua aku selalu berpikir, bagaimana aku bisa menjadi seperti mereka. Bisa hebat seperti mereka? Aku mencari sebuah alat untuk mencapai semua itu, mungkin pelarian tepatnya. Sekali lagi aku menggunakan Tuhan untuk itu.
Otak licik ku berpikir, kalau aku memenangi perang akhirat maka aku termasuk orang yang beruntung dan mungkin berkualitas. Namun, itu bukannya membuat ku menjadi seorang yang kalah. Aku berlindung di balik kebesaran-Nya, layaknya seorang anak kecil menghindar dari gangguan anak-anak lain pada ayahnya.
Aku tidak mau begitu, aku ingin seutuh-utuhnya menjadi manusia. Aku ingin mencintai Tuhan ku seperti aku mencintai orang tua ku. Aku ingin menjadi hebat di dunia bukan untuk orang lain, namun untuk diri ku sendiri. Sebab dari semua itu, aku belajar untuk menjadi hebat bagi orang lain.
TUhan, di perempatan jalan ini.. Semuanya berhenti, mau kah Kau memberikan lampu hijau pada diriku?
Mungkin yang aku sesali dalam hidup ku adalah betapa muramnya hidup ini. Semuanya ku lalui tanpa banyak warna. Semuanya hitam putih dan monoton. Terkadang aku cemburu dengan orang lain yang mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya.
Dari pengalaman hidup akan tercipta banyak pengetahuan. Dari banyak pengetahuan akan tercipta iman. Dari semua itu akan tercipta suatu ultimate goal daripada manusia, yaitu manusia seutuhnya.
Kadang aku berpikir, aku adalah bagian terbesar dari dunia ini. Nyatanya, hidup ini amat lah luas. Masih banyak manusia yang super, manusia yang ganteng, manusia yang pintar, manusia yang lebih licik daripada aku. Walau sulit untuk mengakuinya aku memang harus tahu bahwa manusia di bumi ini bukan aku sendiri.
Dari itu semua aku selalu berpikir, bagaimana aku bisa menjadi seperti mereka. Bisa hebat seperti mereka? Aku mencari sebuah alat untuk mencapai semua itu, mungkin pelarian tepatnya. Sekali lagi aku menggunakan Tuhan untuk itu.
Otak licik ku berpikir, kalau aku memenangi perang akhirat maka aku termasuk orang yang beruntung dan mungkin berkualitas. Namun, itu bukannya membuat ku menjadi seorang yang kalah. Aku berlindung di balik kebesaran-Nya, layaknya seorang anak kecil menghindar dari gangguan anak-anak lain pada ayahnya.
Aku tidak mau begitu, aku ingin seutuh-utuhnya menjadi manusia. Aku ingin mencintai Tuhan ku seperti aku mencintai orang tua ku. Aku ingin menjadi hebat di dunia bukan untuk orang lain, namun untuk diri ku sendiri. Sebab dari semua itu, aku belajar untuk menjadi hebat bagi orang lain.
TUhan, di perempatan jalan ini.. Semuanya berhenti, mau kah Kau memberikan lampu hijau pada diriku?
Monday, October 04, 2004
HIdup BUkanlah Kartun
Mungkin hidup ini adalah sandiwara. Penuh dengan cerita, ironi, tawa, tangis dan sebagainya. Jadi sangat cocok lah mengapa hidup ini dikatakan sebuah sandiwara. Namun hidup bukanlah sebuah kartun.
Mungkin tidak pernah sekalipun terpikir dalam hidup kita bahwa film-film kartun justru mengajarkan kita kepada arti hidup yang sebenarnya. Betapa gagahnya seorang POwer Ranger menyelamatkan dunia. Bukannya berperang menghancurkan dunia ini.
Betapa cinta kasihnya seorang Candy-Candy. Bukannya saling mencaci seperti layaknya seorang politisi. Ini lah yang mempesona anak-anak kita dan juga bahkan kita sendiri.
Aku tersentuh ketika membaca sebuah komik DOraEmon. Dalam salah satu bagian cerita disebutkan Doraemon memberikan sebuah kaki bagi seorang putri duyung secara gratis. Kaki itu digunakan oleh Putri Duyung untuk mewujudkan cita-citanya menikah bersama seorang pangeran.
Mungkin kelihatan klise kalau kita tidak memerhatikan sebuah kata dari cerita tersebut. Gratis, ya kata-kata itu lah yang membuat aku terkesima. Bisakah sebuah kaki diberikan secara gratis. Sampai kapanpun kaki-kaki palsu tidak akan pernah gratis.
Betapa hidupnya nilai-nilai yang ditawarkan oleh cerita-cerita tersebut. Betapa parahnya dunia ini menjadi sebuah dunia yang hampa tanpa rasa kasih sayang dan yang hanya dipikirkan adalah materi.
Terlebih dari semua itu betapa kita lupa bahwa kita adalah manusia yang harusnya senantiasa bersyukur atas setiap karunianya.
Mungkin tidak pernah sekalipun terpikir dalam hidup kita bahwa film-film kartun justru mengajarkan kita kepada arti hidup yang sebenarnya. Betapa gagahnya seorang POwer Ranger menyelamatkan dunia. Bukannya berperang menghancurkan dunia ini.
Betapa cinta kasihnya seorang Candy-Candy. Bukannya saling mencaci seperti layaknya seorang politisi. Ini lah yang mempesona anak-anak kita dan juga bahkan kita sendiri.
Aku tersentuh ketika membaca sebuah komik DOraEmon. Dalam salah satu bagian cerita disebutkan Doraemon memberikan sebuah kaki bagi seorang putri duyung secara gratis. Kaki itu digunakan oleh Putri Duyung untuk mewujudkan cita-citanya menikah bersama seorang pangeran.
Mungkin kelihatan klise kalau kita tidak memerhatikan sebuah kata dari cerita tersebut. Gratis, ya kata-kata itu lah yang membuat aku terkesima. Bisakah sebuah kaki diberikan secara gratis. Sampai kapanpun kaki-kaki palsu tidak akan pernah gratis.
Betapa hidupnya nilai-nilai yang ditawarkan oleh cerita-cerita tersebut. Betapa parahnya dunia ini menjadi sebuah dunia yang hampa tanpa rasa kasih sayang dan yang hanya dipikirkan adalah materi.
Terlebih dari semua itu betapa kita lupa bahwa kita adalah manusia yang harusnya senantiasa bersyukur atas setiap karunianya.
Friday, October 01, 2004
Ku Rindu
Tulisan ini adalah untuk Mu
Lepaskan rasa dahaga atas kebesaran Mu
Membawa diriku terbang dalam kesunyian ini.
Dalam hening ku sendiri
Mencoba lari dari rasa ini...
Tuhan kenapa ku selalu berlari dari mu
Lepas kan tanggung jawab ini
Mau tak mau pasti selalu..
Tuhan maafkan aku..
Lepaskan rasa dahaga atas kebesaran Mu
Membawa diriku terbang dalam kesunyian ini.
Dalam hening ku sendiri
Mencoba lari dari rasa ini...
Tuhan kenapa ku selalu berlari dari mu
Lepas kan tanggung jawab ini
Mau tak mau pasti selalu..
Tuhan maafkan aku..
Wednesday, September 29, 2004
Sabar.. Sabar...
Sabar, kata-kata yang sering diucapkan ketika kita tengah marah. Sabar juga merupakan suatu kata yang masuk dalam kitab-kitab suci agama. Tidak ada satu agama yang tidak memerintahkan untuk bersabar. Posisi ini menempatkan sabar sebagai tempat yang paling mulia bagi orang yang bisa melakukannya.
Apa hubungan sabar dengan gue? Sejauh ini gue bukanlah orang yang sabar, gue tidak bisa menahan diri gue dengan sejuta kekesalan gue. Apa yang membuat gue marah dan tidak nyaman pasti akan membuat gue tidak sabar.
Namun, dalam hati, gue selalu ingin menjadi orang-orang yang sabar dan qonaah.
Apa hubungan sabar dengan gue? Sejauh ini gue bukanlah orang yang sabar, gue tidak bisa menahan diri gue dengan sejuta kekesalan gue. Apa yang membuat gue marah dan tidak nyaman pasti akan membuat gue tidak sabar.
Namun, dalam hati, gue selalu ingin menjadi orang-orang yang sabar dan qonaah.
Tuesday, September 28, 2004
Obituari
Hari ini orang tua teman ku Wahyu Adji Jatmiko, meninggal dunia. Penyakit jantung telah membawa ayahnya pergi. Aku mengetahuinya sekitar jam 16.45 WIB. Adiknya temanku menelpon dan mengabarkan berita itu. Agak sedikit bimbang untuk meninggalkan pekerjaan. Aku mungkin masih berat sebelah soal duniawi. Namun, karena aku mengingat bahwa Wahyu adalah salah satu teman ku maka aku pun meninggalkan barang sebentar untuk berziarah.
Nabi Muhammad SAW pernah memberikan wejangan kepada para sahabat untuk banyak-banyak pergi berziarah dan melayat agar bisa mendapatkan pelajaran dalam kehidupan. Ku harap juga aku bisa mendapatkannya.
Ada sedikit pelajaran yang ku dapatkan di hari ini, dari mulut seorang adik temanku. Ia menanyakan kepada ku kenapa aku tidak menyalatkan jenazah. Dengan diplomatis aku menjawab bahwa dalam setiap gerak nafas ku aku telah salat kepada Allah. Aku tidak ingin terjebak kepada bentuk rutinitas shalat. Aku ingin menafsirkan makna ibadah dan munajat dalam pengertian gue sendiri. Sayangnya, itu hanya omongan belaka dan sekedar pelarian atas bekunya hati gue terhadap Allah.
Aku tidak menyadari bahwa hati ini tidak akan pernah bisa lari...
Nabi Muhammad SAW pernah memberikan wejangan kepada para sahabat untuk banyak-banyak pergi berziarah dan melayat agar bisa mendapatkan pelajaran dalam kehidupan. Ku harap juga aku bisa mendapatkannya.
Ada sedikit pelajaran yang ku dapatkan di hari ini, dari mulut seorang adik temanku. Ia menanyakan kepada ku kenapa aku tidak menyalatkan jenazah. Dengan diplomatis aku menjawab bahwa dalam setiap gerak nafas ku aku telah salat kepada Allah. Aku tidak ingin terjebak kepada bentuk rutinitas shalat. Aku ingin menafsirkan makna ibadah dan munajat dalam pengertian gue sendiri. Sayangnya, itu hanya omongan belaka dan sekedar pelarian atas bekunya hati gue terhadap Allah.
Aku tidak menyadari bahwa hati ini tidak akan pernah bisa lari...
Monday, September 27, 2004
Mama
Kamu selalu berkeringat
BUkan hanya saat ini namun di awal kamu bernafas
Hingga akhir nanti
Kamu terus berkeringat
Adakah kebahagian di tengah peluh derita hidupmu
Setiap hembusan nafasmu
Adakah rasa bahagia tersembul disitu
Mama
Waktu demi waktu terus berlalu
Tiada yang pernah berubah dalam dirimu
Keringat, cucuran air mata selalu keluar dari tubuhmu
Mama..
Apakah pernah kau berikan kesempatan
Dalam hidup ini untuk sekedar menikmati
Mamaku selalu tidak pernah berhenti bekerja. Dulu, ketika aku masih kecil Mama menjadi tulang punggung bagi keluarga. Sedangkan Bapakku menunggu di rumah. Alhamdulillah, lima orang anaknya bisa berhasil menunaikan pendidikan. Namun, saat ini yang sulit ku bayangkan apakah 5 anak itu termasuk aku mampu membayar semua itu bagi Mama ku.
Kenangan-kenangan indah bersamanya, mampukah terbayar hanya dengan uang yang ku berikan..? Apakah bisa dengan sikap baik yang ku lakukan? Apapun yang akan ku lakukan tak akan pernah bisa membayar semua itu. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang tiang.
BUkan hanya saat ini namun di awal kamu bernafas
Hingga akhir nanti
Kamu terus berkeringat
Adakah kebahagian di tengah peluh derita hidupmu
Setiap hembusan nafasmu
Adakah rasa bahagia tersembul disitu
Mama
Waktu demi waktu terus berlalu
Tiada yang pernah berubah dalam dirimu
Keringat, cucuran air mata selalu keluar dari tubuhmu
Mama..
Apakah pernah kau berikan kesempatan
Dalam hidup ini untuk sekedar menikmati
Mamaku selalu tidak pernah berhenti bekerja. Dulu, ketika aku masih kecil Mama menjadi tulang punggung bagi keluarga. Sedangkan Bapakku menunggu di rumah. Alhamdulillah, lima orang anaknya bisa berhasil menunaikan pendidikan. Namun, saat ini yang sulit ku bayangkan apakah 5 anak itu termasuk aku mampu membayar semua itu bagi Mama ku.
Kenangan-kenangan indah bersamanya, mampukah terbayar hanya dengan uang yang ku berikan..? Apakah bisa dengan sikap baik yang ku lakukan? Apapun yang akan ku lakukan tak akan pernah bisa membayar semua itu. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang tiang.
Horoskop Game
Berapa teman yang paling banyak aku punya? Di bulletin friendster, ada permainan yang namanya Horoscope Game. Dari situ gue bisa melihat bahwa gue mempunyai teman baik sebanyak 9 orang. Untuk kategori close friend, gue rasa itu sangat lah banyak.
Sayangnya, sampai saat ini gue belum bisa mengerti dan mengetahui siapa kah teman-teman dekat gue. Ini pernah gue diskusikan dengan adik gue. Gue terlalu mudah melupakan teman-teman gue begitu saja.
Sebenarnya, anggapan ini terjadi karena gue menganggap bahwa hidup manusia ini sangat lah panjang dan bertahap. Dalam setiap tahapan hidup itu pasti gue akan mempunyai teman. Sayangnya, sesudah itu gue pasti akan melupakan mereka dan memulai tahapan baru itu lagi dan bertemu dengan teman-teman baru.
Inilah mungkin kesalahan terbesar gue. Menganggap teman adalah bagian kecil dari hidup manusia yang besar. Padahal, kalau gue sadar penghargaan terhadap diri sendiri dimulai ketika kita bisa menghargai orang lain atau teman kita.
Mudah-mudahan hari ini gue bisa menghargai betapa besar dan berartinya teman bagi diri kita.
Friends are like a star sometimes you don't see them but they always there...
Sayangnya, sampai saat ini gue belum bisa mengerti dan mengetahui siapa kah teman-teman dekat gue. Ini pernah gue diskusikan dengan adik gue. Gue terlalu mudah melupakan teman-teman gue begitu saja.
Sebenarnya, anggapan ini terjadi karena gue menganggap bahwa hidup manusia ini sangat lah panjang dan bertahap. Dalam setiap tahapan hidup itu pasti gue akan mempunyai teman. Sayangnya, sesudah itu gue pasti akan melupakan mereka dan memulai tahapan baru itu lagi dan bertemu dengan teman-teman baru.
Inilah mungkin kesalahan terbesar gue. Menganggap teman adalah bagian kecil dari hidup manusia yang besar. Padahal, kalau gue sadar penghargaan terhadap diri sendiri dimulai ketika kita bisa menghargai orang lain atau teman kita.
Mudah-mudahan hari ini gue bisa menghargai betapa besar dan berartinya teman bagi diri kita.
Friends are like a star sometimes you don't see them but they always there...
Subscribe to:
Posts (Atom)